Hari Ini Wafat, K.H. Maimun Zubair: Mengabdi Untuk Pesantren dan Negeri

2
2434

BincangSyariah.com – Berita duka kembali menyelimuti Indonesia. Kali ini, Indonesia kehilangan salah satu ulama besarnya, yaitu K.H. Maimun Zubair. Salah seorang mustasyar (penasihat) organisasi Nahdatul Ulama dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang ini wafat di kota Mekkah jam 4.15 atau jam 9 pagi waktu Indonesia bagian barat. Saat ini, beliau dalam proses persiapan pelaksanaan ibadah haji. Belum ada informasi selanjutnya apakah akan dimakamkan di Mekkah atau di rumah duka, Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

Nama KH. Maimun Zubair akhir-akhir ini banyak disebut-sebut oleh masyarakat Indonesia. Beliau sering ditunggu petuah-petuahnya ketika sedang terjadi masalah atau isu nasional yang banyak dibicarakan orang, baik yang berkaitan dengan masalah keagamaan maupun masalah politik nasional. Sikap keagamaan maupun politik beliau menjadi rujukan banyak masyarakat Indonesia, terutama masyarakat kalangan pesantren dan santri.

Di tengah-tengah kesibukannya mengasuh pondok pesantren Al-Anwar, Kiai yang dilahirkan pada tanggal 28 Oktober 1928 di daerah Sarang, Jawa Tengah ini, juga disibukkan dengan mengisi pengajian dan ceramah di tengah masyarakat. Beliau tidak hanya alim dalam ilmu fiqih, namun juga menguasai semua bidang ilmu keagamaan yang lain. Tak heran jika dawuh, petuah, nasihat dan pandangan keagamaannya banyak ditunggu oleh masyarakat.

Kealiman dan perhatian beliau terhadap berbagai ilmu agama banyak didapatkan dan diwariskan dari ayahnya sendiri, Kiai Zubair. Ayahnya, Kiai Zubair, ini adalah seorang Kiai yang alim dan kharismatik. Banyak kiai besar di Jawa dan lainnya menimba ilmu agama dari Kiai Zubair. Dan tentu Kiai Maimun Zubair sendiri termasuk anak sekaligus murid yang mendapat bimbingan langsung dari Kiai Zubair.

Setelah mendapat bimbingan ilmu agama dari ayahnya sendiri, Kiai Maimun Zubair melanjutkan dan mengaji ilmu agama di Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH. Mahrus Ali dan KH. Marzuki Dahlan. Tak hanya belajar kepada dua sosok Kiai tersebut, beliau juga sempat menuntut ilmu kepada Kiai Jawa lainnya seperti Kiai Baidhowi, Kiai Ma’shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), Syaikh Abul Fadhol Senori (Tuban) dan beberapa Kiai lainnya.

Baca Juga :  Kiai Chudori Tegalrejo: Pendekatan Dakwah Islam Nusantara

Setelah dari Lirboyo, kiai Maimun Zubair kemudian melanjutkan kelana ilmunya di Mekkah pada usia 21 tahun.  Di kota kelahiran Nabi Saw. ini, beliau banyak mengaji kepada ulama-ulama besar seperti Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syaikh al-Imam Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Quthbi, Syaikh Yasin Isa al-Fadani, Syekh Abdul Qodir al-Mandaly dan ulama-ulama lainnya.

Dalam catatan sejarah hidupnya, Kiai Maimun Zubair tidak hanya mengabdikan diri pada agama saja. Namun beliau juga sosok Kiai yang sangat aktif terlibat di berbagai bidang kemasyarakatan dan kenegaraan. Ini beliau lakukan sebagai bentuk pengabdian kepada negara. Tercatat bahwa beliau pernah menjadi anggota DPRD Rembang selama 7 tahun, dan beliau juga pernah menjadi anggota MPR RI yang mewakili daerah Jawa Tengah. Kini, beliau masih aktif sebagai Ketua Dewan Syuro Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Dengan melihat biografi dan perjalanan hidup beliau, dapat disimpulkan bahwa beliau adalah sosok Kiai yang mengabdi tidak hanya kepada pesantren dan masyarakat, tapi kepada negeri ini.

Tulisan ini adalah bagian dari serial menyambut Hari Santri Nasional 22 Oktober 2018

 

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here