Kisah K.H. M Hasyim Asy’ari dan Ahli Tarekat yang Enggan Hidup Bersosial

0
120

BincangSyariah.Com – M Hasyim Asy’ari selain dikenal sebagai ulama organisator yang mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama (NU), beliau juga produktif dalam menulis kitab-kitab berbahasa Arab. Salah satu karya beliau yang menarik adalah kitab “at-Tibyan Fi an-Nahyi ‘an Muqatha’ati al-Arham wal Aqarib wal Ikhwan”. Dalam kitab ini beliau menjelaskan pentingnya untuk menyambung tali silaturrahmi dengan keluarga dan sanak famili, serta larangan untuk memutus tali silaturrahmi tanpa ada uzur yang dibenarkan secara syariat. (Baca: Kriteria Ulama Menurut K.H. Hasyim Asy’ari)

Memutus silaturrahmi bisa dengan berbagai macam tindakan, seperti memutus kebiasaan-kebiasaan baik layaknya berkunjung, berkoresponden dan lainnya. Menurut K.H. M Hasyim Asy’ari, salah satu bentuk memutus tali silaturrahmi adalah tidak bersosialiasi  dengan masyarakat dan memilih uzlah atau mengasingkan diri dari mereka. Sebab uzlah yang dilakukan manusia saat ini  belum tentu orientasinya sama dengan uzlah yang pernah dilakukan Nabi saw. maupun sahabat beliau seperti Abdullah bin Umar ra. Terkait dengan ini, beliau memiliki pengalaman pribadi yang beliau catat dalam kitab at-Tibyan ini.

Beliau menyaksikan sendiri ada tokoh agama yang dikenal giat dalam beribadah; tahajjud setiap malam, berpuasa di siang hari, berbicara sekadarnya, sering melaksanakan haji, dan puncaknya ia menjadi syekh pada tarekat Naqsyabandiyah. Sebagian waktu yang ia miliki dihabiskan untuk uzlah (isolasi diri) di rumahnya dan hanya keluar untuk shalat jamaah dan mengajarkan masyarakat tentang tata cara berzikir.

Suatu hari orang tersebut keluar untuk melaksanakan shalat Jumat. Setibanya di masjid, tiba-tiba ia marah-marah kepada jamaah dan mengucapkan kata-kata kotor dan tidak pantas kepada mereka. Ia pun bergegas kembali ke rumahnya. Anehnya, saat suatu hari kedatangan seorang menteri yang memberikan sejumlah uang padanya agar didoakan hidup yang nyaman, ia menyambut menteri tersebut dengan ramah tamah dan menerima uang tersebut serta mendoakannya.

Baca Juga :  Bukti Cinta Shafiyyah terhadap Rasulullah 

Hal ini memantik rasa penasaran Mbah Hasyim sehingga beberapa hari kemudian beliau mengunjungi rumah orang tersebut. Ia berdiri cukup lama di depan rumah tersebut dan memanggil tuan rumah berkali-kali, namun belum ada respon sama sekali. Selang beberapa lama, istri dari tuan rumah muncul di belakang pintu dan mengabarkan bahwa suaminya bahwa saudaranya, Muhammad Hasyim Asy’ari, ingin menemuinya. Segeralah keluar atau saya yang akan masuk dan memaksanya keluar!”.

Akhirnya orang tersebut mau keluar menemui Mbah Hasyim. Lalu Mbah Hasyim menanyakan alasan orang itu melakukan perbuatan yang cukup aneh sebelumnya. Dia menjawab bahwa ia melihat orang-orang tidak tampil seperti wujud asli mereka, melainkan nampak berbentuk kera.

Mendengar pengakuan tersebut, Mbah Hasyim memberikan nasehat,”Bisa saja setan menyihir matamu dan membisikkan dalam hatimu:’Menetaplah di rumahmu dan janganlah keluar kemana-mana agar orang-orang meyakini bahwa kamu termasuk wali Allah sehingga mereka berbondong-bondong mengunjungimu, ngalap berkah darimu, serta memberikanmu banyak hadiah’.”

“Pikirkan dengan jernih, wahai saudaraku,”lanjut beliau,“Rasulullah pernah bersabda kepada Abdullah bin Amr bin Ash:

وَإِنَّ لِضَيْفِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

‘Sesungguhnya tamumu mempunyai hak yang harus kamu penuhi’

Selain itu Rasulullah juga bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

‘Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya’

Beberapa hari kemudian, orang ini datang menemui Mbah Hasyim di rumah beliau. Ia berkata,” Anda benar, saudaraku. Sekarang aku tinggalkan aktivitas uzlah. Aku melakoni kehidupan sebagaimana layaknya masyarakat pada umumnya.” Aktivitas ini ia lakoni hingga ia meninggal dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here