Membincang Keutamaan Salawat Perspektif Fikih dan Tasawuf

0
132

BincangSyariah.Com – Dalam surah al-Ahzab (33): 56 disebutkan secara jelas tentang perintah bersalawat kepada Rasulullah saw., yaitu: “sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Abu al-‘Aliyah berpendapat bahwa salawat Allah kepada Nabi Muhammad saw. adalah berupa sanjungan dan penghormatan kepadanya di sisi para malaikat. Sedangkan salawat para malaikat adalah berupa doa. (Baca: Bacaan Shalawat Pelindung dari Wabah Penyakit)

Menurut Sufyan ats-Tsauri, salawat Allah adalah berupa rahmat dan salawat para malaikat adalah berupa istigfar (Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 2000: 1516). Adapun salawat manusia adalah berupa doa agar diberi rahmat, seperti perkataan allahumma shalli ‘ala muhammad dan sejenisnya (lihat al-Ahzab (33): 56 dalam Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya).

Kalangan mazhab Hanafi dan mazhab Maliki berpendapat bahwa hukum membaca salawat kepada Rasulullah saw. dan keluarganya (ash-shalawat al-ibrahimiyyah) ketika tahyat akhir adalah sunah, bukan wajib. Sementara menurut kalangan mazhab asy-Syafi‘i dan mazhab Hanabilah adalah wajib.

Berbeda dengan membaca salawat kepada keluarga Rasulullah saw. Mazhab asy-Syafi‘i menganggap sunah dan mazhab Hanabilah menganggap wajib membaca salawat kepada keluarga Rasulullah saw. ketika tahyat akhir. Perbedaan keempat mazhab ini disebabkan oleh perbedaan mereka dalam menggunakan dan memahami dalil agama, baik al-Qur’an maupun hadis (Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, 1985, I: 719-720).

Adapun hukum membaca salawat di luar salat adalah sunah. Sebab, para ulama tafsir sepakat (ijmak) bahwa perintah membaca salawat yang terdapat dalam surat al-Ahzab (33): 56 adalah bermakna sunah (dianjurkan), bukan wajib.

Berbeda dengan kalangan mazhab Hanafi yang mewajibkan membaca salawat di luar salat satu kali selama hidup. Adapun mazhab asy-Syafi‘i berpendapat sunah membaca salawat di luar salat secara berulang-ulang selama nama Rasulullah saw. disebut meskipun berada dalam satu majelis (hlm. 720-721).

Menurut kalangan mazhab Hanafi dan mazhab asy-Syafi‘i, dianjurkan (sunah) menambahkan kata sayyidina sebelum kata Muhammad dalam salawat Ibrahimiyyah. Sebab, menambahkan sesuatu (seperti kata sayyidina) yang memang sudah pasti milik Rasulullah saw. dalam khabar tertentu merupakan bentuk bersopan santun kepadanya.

Bersopan santun kepada Rasulullah saw. ini lebih utama dilakukan daripada ditinggalkan. Adapun hadis “jangan mengatakan sayyidina kepadaku di waktu salat” adalah tidak benar (dusta), karena ia merupakan hadis palsu (mawdhu‘).

Oleh karena itu, Wahbah az-Zuhaili menyebutkan bahwa salawat yang paling sempurna kepada Rasulullah saw. dan keluarganya adalah salawat Ibrahimiyyah, yaitu: allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala ali sayyidina muhammad, kama shallaita ‘ala sayyidina ibrahim wa ‘ala ali sayyidina ibrahim, wa barik ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala ali sayyidina muhammad, kama barakta ‘ala sayyidina ibrahim wa ‘ala ali sayyidina ibrahim fil ‘alamin, innaka hamidun majid (hlm. 721).

Baca Juga :  Kisah Perang Bani Musthaliq, Perang di Bulan Sya'ban

Syaikh Yusuf bin Isma‘il an-Nabhani menempatkan salawat Ibrahimiyyah tersebut pada urutan pertama di antara tujuh puluh salawat yang paling utama (Afdhal ash-Shalawat ‘ala Sayyid as-Sadat, hlm. 7).

Namun demikian, meskipun secara fikih masih terdapat perbedaan hukum membaca salawat, baik di dalam maupun di luar salat, tetapi secara spiritual (tasawuf) membaca salawat adalah sebuah keharusan.

Hal ini dipahami dari hadis qudsi: “hamba-Ku tidak dikatakan bersyukur kepada-Ku jika dia tidak bersyukur (berterimakasih) kepada orang yang darinya Aku telah mengalirkan berbagai nikmat (Imam Nawawi al-Jawi, Kasyifah as-Saja, hlm. 4).”

Menurut Imam Nawawi al-Jawi, orang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Rasulullah saw. Sebab, beliau adalah perantara yang agung dan nyata dari segala nikmat yang dirasakan oleh umat manusia. Bahkan beliau merupakan asal dari keberadaan alam semesta beserta seluruh makhluk yang ada di dalamnya (hlm. 4).

Dalam hal ini, Syaikh Yusuf an-Nabhani menyebutkan sebuah hadis bahwa Allah menciptakan nur Muhammad dari nur-Nya sebelum segala sesuatu diciptakan, di mana segala sesuatu itu kemudian diciptakan oleh Allah melalui nur Muhammad (al-Fadha’il al-Muhammadiyyah, 1994: 111-112).

Oleh karena itu, para ulama (seperti Imam Salim bin Sumair al-Hadhrami penulis kitab Safinah an-Naja fi Ushul ad-Din wa al-Fiqh) mengamalkan hadis qudsi tersebut ketika menulis sebuah karya, yaitu menyebutkan salawat dan salam kepada Rasulullah saw. setelah bismillah dan hamdalah (Kasyifah as-Saja, hlm. 4). Sebab, salah satu bentuk syukur (terimakasih) kepada Rasulullah saw. adalah memperbanyak baca salawat.

Syaikh Ibrahim bin Isma‘il menyebutkan bahwa Rasulullah saw. menjadi orang yang terpuji di dunia dan akhirat, karena beliau memberikan manfaat kepada manusia berupa ilmu pengetahuan dan hikmah ketika berada di dunia. Begitu pula kelak di akhirat, di mana beliau akan memberikan manfaat kepada manusia berupa syafaat (pertolongan) di sisi Tuhannya (Syarh Ta‘lim al-Muta‘allim, hlm. 3).

Selain itu, Allah berfirman dalam Ali Imran (3): 31: “katakanlah (Muhammad), “jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah Mencintaimu dan Mengampuni dosa-dosamu.”

Imam al-Jazuli menyebutkan hadis bahwa mukmin sejati adalah orang yang mencintai Allah. Dia dikatakan mencintai Allah apabila mencintai Rasulullah saw. Hadis lain menyebutkan bahwa seseorang akan tenang, khusyuk, dan tunduk dalam menjalani hidup ini apabila memiliki cinta sejati kepada Allah. Cinta sejati kepada Allah ini bisa diraih dengan mencintai Rasulullah saw. (Dala’il al-Khairat, hlm. 32-34).

Baca Juga :  Adab-Adab Bershalawat pada Nabi Saw

Oleh karena itu, tidak heran apabila Allah menyuruh Nabi Adam as. membaca salawat kepada Rasulullah saw. sepuluh kali sebagai mahar ketika menikahi Siti Hawa as. Belakangan, para nabi dan sahabat terkemuka berlomba-lomba membuat dan mempersembahkan salawat terbaik dan terindah kepada Rasulullah saw., seperti Nabi Khidir as., Nabi Musa as., Imam Ali as., Sayyidah Fatimah az-Zahra as., ‘Abdullah bin ‘Abbas ra., dan ‘Abdullah bin Mas‘ud ra. (Habib Zain bin Smith, al-Fawa’id al-Mukhtarah, 2008: 213-214 & 220 dan Ahmad ‘Abd al-Jawad, Shalawat al-Muhibbin, hlm. 106-107).

Dalam hal ini, sahabat ‘Abdullah bin Mas‘ud pernah menyuruh para sahabat dan umat Islam secara umum agar mempersembahkan salawat terbaik dan terindah kepada Rasulullah saw., karena salawat tersebut dihaturkan ke ribaannya (Mawsu‘ah Nadhrah an-Na‘im, 1998, I: 556). Sehingga para sufi dan ulama ternama di belahan dunia juga berlomba-lomba membuat dan mempersembahkan salawat terbaik dan terindah kepada Rasulullah saw.

Mereka adalah: Imam al-Bushiri, Imam ad-Diba‘i, Imam al-Barzanji, Imam al-Jazuli, Imam Ahmad ar-Rifa‘i, Imam Ahmad al-Badawi, Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabi, Imam Fakhruddin ar-Razi, Imam Syamsuddin Muhammad al-Hanafi, Imam Ibrahim al-Matbuli, Imam Nuruddin asy-Syuni, Imam Abd as-Salam bin Masyisy, Imam an-Nawawi, Imam Abi al-Hasan asy-Syadzili, Imam Muhammad Abi al-Mawahibasy-Syadzili, Imam Muhammad bin Abi al-Hasan al-Bakri, Imam Ahmad al-Khujandi, Imam ‘Abdillah as-Saqaf, dan Imam Abd al-Gani an-Nabilisi.

Kemudian, Imam Muhammad al-Budairi, Imam Ahmad bin Idris, Sulthan al-Awliya’ Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, Syaikh Abu Bakar bin Salim, Habib Muhammad al-Haddar, Habib Muhammad bin Hadi, Habib Abu Bakar al-‘Aththas al-Habsyi, Habib Shalih bin Muhsin al-Hamid Tanggul, Imam Ahmad ar-Riba‘i, Imam al-‘Afif al-Yafi‘i, dan Syaikh Yusuf bin Isma‘il an-Nabhani (lihat Majmu‘ah Mawalid wa Ad‘iyyah, Afdhal ash-Shalawat ‘ala Sayyid as-Sadat, Rabi‘u al-Asrar, 2012: 251-263, Shalawat al-Muhibbin, hlm. 108, dan ash-Shalawat al-Alfiyyah, 2001).

Di sisi lain, wali terkemuka dan pecinta sejati Rasulullah saw. asal Maroko, Imam al-Jazuli, menekankan pentingnya salawat sebagai salah satu sarana agar dekat dengan Allah. Oleh karena itu, beliau menulis Dala’il al-Khairat (yang merupakan kitab salawat pertama) agar umat Islam secara umum dan para pecinta Rasulullah saw. secara khusus senantiasa membaca salawat setiap hari sampai akhir hayat.

Menurut Syaikh Yusuf an-Nabhani, umat Islam di berbagai penjuru dunia banyak yang menerima dan mengamalkan Dala’il al-Khairat dari masa ke masa (ad-Dilalat al-Wadhihat ‘ala Dala’il al-Khairat, 2007: 111). Sementara The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC), Yordania, memasukkan Dala’il al-Khairat sebagai salah satu norma dan peraturan dalam tradisi Islam Sunni. Bahkan RISSC dalam beberapa kesempatan menampilkan gambar manuskrip bagian permulaan kitab Dala’il al-Khairat dalam The Muslim 500: The World’s 500 Most-Influential Muslims (2011: 11-12, 2017: 11-12 & 2018: 33-34).

Baca Juga :  Ini Bacaan Shalawat Agar Semua Hajat Tercapai

Di Indonesia sendiri banyak para wali dan ulama terkemuka yang mengamalkan Dala’il al-Khairat, seperti: KH. Yasin Bareng Kudus, Habib Muhdhar bin Muhammad al-Muhdhar Bondowoso, KH. Abdul Hamid Pasuruan, KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Martapura, KH. Abdul Karim Lirboyo, KH. Mufid Mas‘ud Yogyakarta, dan KH. Abdul Madjid Ma‘ruf Gedunglo. Sahabat karib penulis, Khoirussoleh al-Bahri (Dosen Universitas Wahidiyah), menjelaskan bahwa KH. Abdul Madjid Ma‘ruf pernah mengamalkan Dala’il al-Khairat sebelum membuat salawat Wahidiyah.

Salawat memiliki keutamaan dan kedudukan yang sangat penting dan agung, baik dari segi fikih maupun tasawuf, karena keutamaan dan kedudukan Rasulullah saw. yang sangat agung. Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwa semua amal ibadah ada yang diterima dan ada pula yang ditolak kecuali salawat. Sebab, salawat pasti akan diterima oleh Allah karena semata-mata memuliakan Rasulullah saw. Sehingga salawat tidak bisa rusak (batal) karena riya’ (al-Fawa’id al-Mukhtarah, hlm. 213-214). Artinya, meskipun seorang Muslim membaca salawat dalam keadaan riya’ kepada orang lain, maka bacaan salawatnya tersebut tetap diterima oleh Allah.

Selain itu, salawat merupakan guru spiritual untuk setiap orang yang tidak memiliki guru spiritual dalam hidup ini. Sehingga salawat tidak membutuhkan pembimbing (guru spiritual) dan kehadiran (khusyuk) dalam hati. Namun demikian, membaca salawat dengan kehadiran (khusyuk) dalam hati adalah lebih utama. Oleh karena itu, sebagian ahli makrifat (‘arifin) menekankan beberapa zikir yang sangat bermanfaat di masa sekarang, yaitu memperbanyak baca istigfar dan salawat (hlm. 213-214 & 212).

Adapun beberapa keutamaan salawat yang disebutkan dalam hadis-hadis sahih dan hasan adalah: (1) setiap Muslim yang membaca satu salawat akan mendapatkan balasan sepuluh salawat dari Allah; (2) meninggikan derajat dan menghapus keburukan; (3) memperoleh hajat yang diinginkan dan menghapus dosa-dosa; (4) menjadi sebab untuk memperoleh syafaat (pertolongan) Rasulullah saw.;

(5) setiap Muslim yang membaca salawat, maka namanya dan nama bapaknya akan disebut di sisi Rasulullah saw.; (6) membebaskan satu majelis tertentu dari kesia-siaan; (7) menjadi sebab terkabulnya doa; (8) menghilangkan sifat pelit dan antipati kepada Rasulullah saw.; dan (9) menjadi penuntun untuk memasuki surga (Mawsu‘ah Nadhrah an-Na‘im, hlm. 567-570). Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here