Keunikan Masjid Agung Kasepuhan Cirebon

0
41

BincangSyariah.Com – Sejarah Masjid Agung Kasepuhan Cirebon atau Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon berawal pada masa kurun waktu yang penuh dengan kedamaian. Usai menentukan waktu yang tepat, Sunan Gunung Jati kemudian mengeluarkan keputusan untuk membangun sebuah masjid yang besar serupa Demak.

Lalu, Sunan Gunung Jati pun mengirimkan utusan untuk mendapatkan tanggapan. Selain itu, beliau juga mengerahkan bantuan tenaga ahli serta doa restu dari para Wali Songo di seluruh pulau Jawa. Kemudian, Raden Fatah pun mengirimkan tenaga ahlinya.

Pimpinan pelaksanaan pembangunan Masjid Agung Kasepuhan Cirebon adalah Sunan Kalijaga. Sementara itu, penanggungjawab untuk penentuan arah kiblat yang sudah menjadi perdebatan sejak pembangunan Masjid Agung Demak diberikan kepada Raden Sepat.

Masjid Agung Kasepuhan Cirebon didirikan pada 1489 M. Masjid ini mempunyai orientasi pembangunan yang berbeda dengan masjid-masjid kuno di Jawa lainnya. (Baca: Kisah Masjid Pertama yang Dibangun Rasulullah)

Menurut catatan Muffid, M. Bambang, S. & R, Siti Rukayah dalam Konsep Arsitektur Jawa dan Sunda pada Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon (2014), dalam morfologi kota kuno di Jawa, letak masjid ini tidak lepas dari keberadaan keraton sebagai pusat pemerintahan. Masjid ini juga terpengaruh oleh alun-alun sebagai ruang publik dan pasar sebagai ruang aktivitas ekonomi.

Masjid Sang Cipta Rasa tidak berorientasi seperti masjid pada umumnya. Masjid ini tidak sejajar dengan garis sumbu bangunan keraton sebagaimana masjid keraton lainnya pada masa itu. Masjid ini justru berorientasi ke arah dalam posisi garis sudut 15 derajat dari garis sempadan bangunan keraton.

Sementara itu, komponen bangunan masjid yang sesuai dengan garis sempadan bangunan keraton terletak pada pagar masjid. Karena komponen bangunan dibangun dengan ketentuan yang berbeda, maka arah kiblat masjid agung ini adalah 30 derajat dari titik Barat ke Utara.

Baca Juga :  Bicara HAM dalam Islam Selalu Terkait Kewajiban

Masjid jami’ adalah fungsi utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Masjid ini dijadikan sebagai pusat ibadah umat Islam di Cirebon. Masjid ini dilengkapi dengan keperluan khusus untuk raja dan upacara-upacara besar di keraton. Masjid ini juga dijadikan sebagai pusat perkembangan pendidikan dan kebudayaan.

Terkait kepentingan umat Islam untuk menghadap kiblat tertuang dalam Al-Qur’an yakni Surat al-Baqarah ayat 150:

 

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَٱخْشَوْنِى وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِى عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

 

Wa min ḥaiṡu kharajta fa walli waj-haka syaṭral-masjidil-ḥarām, wa ḥaiṡu mā kuntum fa wallụ wujụhakum syaṭrahụ li`allā yakụna lin-nāsi ‘alaikum ḥujjatun illallażīna ẓalamụ min-hum fa lā takhsyauhum wakhsyaunī wa li`utimma ni’matī ‘alaikum wa la’allakum tahtadụn

Artinya: “Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.”

Berikut adalah tiga keunikan Masjid Sang Cipta Rasa:

Pertama, mempunyai orientasi tata letak yang berbeda dengan masjid kuno di Pulau Jawa pada umumnya. Masjid ini berorientasi mendekati kiblat alih-alih mengikuti orientasi alun-alun dan keraton.

Kedua, meskipun ada perbedaan yang signifikan pada orientasi tata letak, masjid ini mempunyai kesamaan dengan masjid agung di kerajaan Islam kuno lain di Pulau Jawa yaitu berada di sisi Barat alun-alun.

Baca Juga :  Ibnu Khaldun dan Teori Ashabiyyah

Ketiga, problematika tentang orientasi Masjid Agung Kasepuhan Cirebon dianggap sangat penting. Hal tersebut berkaitan erat dengan signifikansi masjid di kalangan masyarakat dan kebutuhan umat Islam untuk menghadap kiblat saat melaksanakan shalat.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here