Keunikan dan Urgensi Toleransi dalam Islam

1
12

BincangSyariah.Com – Yusuf al-Qaradawi menerangkan ungkapan yang tegas dan gamblang tentang pandangan Islam terhadap toleransi, kebebasan beragama, dan berkeyakinan yang membuat toleransi dalam Islam menjadi hal yang unik.

Allah Swt. melarang umat Islam menebar permusuhan dan kebencian terhadap suatu kaum yang bisa menimbulkan sikap tidak adil. Orang mukmin mesti mengutamakan keadilan daripada aniaya dan sikap berat sebelah.

Keadilan harus ditempatkan di atas hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan pribadi, dan di atas rasa cinta dan permusuhan, apa pun sebabnya. Hal itulah yang menjadi landasan dari urgensi toleransi dalam Islam.

Empat Keunikan Toleransi

Ada beberapa alasan mengapa toleransi dalam Islam adalah hal yang unik. Dalam buku Tren Pluralisme Agama: Tijauan Kritis (2005), Anis Malik Thoha mengutip pendapat Syekh Dr. Yusuf al-Qaradawi, seorang cendekiawan Muslim dari Mesir yang dikenal sebagai Mujtahid di era modern.

Menurut al-Qaradawi, ada empat faktor utama yang menyebabkan toleransi yang unik selalu mendominasi perilaku orang Islam terhadap non-Muslim. Empat hal inilah yang membuat toleransi dalam Islam menjadi hal yang unik.

Pertama, keyakinan terhadap kemuliaan manusia, apa pun agamanya, kebangsaannya, dan kesukuannya. Kemuliaan tersebut menimbulkan adanya hak untuk dihormati.

Nabi Muhammad Saw. tidak pernah membeda-bedakan. Sikap toleransi tersebut direfleksikan dengan cara saling menghormati, memuliakan dan tolong menolong.

Kedua, keyakinan bahwa perbedaan manusia dalam agama dan keyakinan adalah realitas yang dikehendaki Allah Swt. yang telah memberi mereka kebebasan untuk memilih iman atau kufur. Kehendak Allah Swt. pasti terjadi dan menyimpan hikmah yang luar biasa. Oleh karenanya, tidak dibenarkan memaksa untuk Islam.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Yunus ayat 99:

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَءَامَنَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنتَ تُكْرِهُ ٱلنَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا۟ مُؤْمِنِينَ

Walau syāa rabbuka laāmana man fil-arḍi kulluhum jamī’ā, a fa anta tukrihun-nāsa ḥattā yakụnụ mu`minīn

Artinya: “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa manusia diberi kebebasan percaya atau tidak. Seperti dicontohkan, kaum Yunus yang tadinya enggan beriman, dengan kasih sayang Allah Swt. memperingatkan dan mengancam mereka.

Sampai kemudian kaum Yunus yang tadinya membangkang atas kehendak mereka sendiri, lalu atas kehendak mereka sendiri pula mereka sadar dan beriman.

Ketiga, seorang Muslim tidak dituntut untuk mengadili kekafiran orang kafir, atau menghukum kesesatan orang sesat. Hanya Allah-lah yang berhak mengadili mereka di hari perhitungan nanti.

Hal ini mestinya membuat hati seorang Muslim menjadi tenang, tidak perlu terjadi konflik batin antara kewajiban berbuat baik dan adil kepada mereka. Dalam waktu yang sama, seorang Muslim mesti berpegang teguh pada kebenaran keyakinan sendiri.

Allah Swt. berfirman dalam Surat al-Kahfi Ayat 29, yaitu:

وَقُلِ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَآءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَآءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّآ أَعْتَدْنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِن يَسْتَغِيثُوا۟ يُغَاثُوا۟ بِمَآءٍ كَٱلْمُهْلِ يَشْوِى ٱلْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتْ مُرْتَفَقًا

Wa qulil-ḥaqqu mir rabbikum, fa man syāa falyumiw wa man syāa falyakfur, innā a'tadnā liẓ-ẓālimīna nāran aḥāṭa bihim surādiquhā, wa iy yastagīṡụ yugāṡụ bimāing kal-muhli yasywil-wujụh, bisasy-syarāb, wa sāat murtafaqā

Artinya: “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.”

Keempat, keyakinan bahwa Allah Swt. memerintahkan umat Islam untuk berbuat adil dan mengajak kepada budi pekerti yang mulia meskipun kepada orang musyrik. Allah Swt. juga mencela perbuatan zalim, sekalipun terhadap orang kafir.

Hal tersebut tercantum dalam firman Allah Swt. dalam Surat al-Maidah Ayat 8.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

 ayyuhallażīna āmanụ kụnụ qawwāmīna lillāhi syuhadāa bil-qisṭi wa lā yajrimannakum syanaānu qaumin ‘alā allā ta’dilụ, i’dilụ, huwa aqrabu lit-taqwā wattaqullāh, innallāha khabīrum bimā ta’malụn

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Toleransi dalam Islam

Saat menghadapi kata “toleransi”, akan selalu muncul beragam pengertian. Toleransi bisa diartikan sebagai sikap membiarkan, menenggang dan menghormati pendapat atau sikap pihak lain meskipun terjadi perbedaan pendapat dengannya.

Dalam buku Akhlak: Yang Hilang dari Kita (2020) Quraish Shihab menekankan satu hal: sikap toleransi tidak boleh mengorbankan prinsip-prinsip keyakinan agama. Hal ini selaras dengan keyakinan agama yang tidak boleh dikorbankan demi toleransi.

Ada sebuah kisah pada awal masa Islam saat tokoh-tokoh kaum musyrik Mekkah menawarkan kompromi tentang pelaksanaan tuntunan agama atau kepercayaan.

Mereka mengusulkan agar Nabi dan umatnya mengikuti kepercayaan mereka, dengan begitu mereka pun akan mengikuti ajaran Islam.

Mereka berkata, “kami menyembah Tuhanmu, hai Muhammad, setahun dan kamu juga menyembah Tuhan kami setahun. Kalau agamamu benar, kami mendapatkan keuntungan karena kami juga menyembah Tuhanmu dan jika agama kami benar kamu juga tentu memperoleh keuntungan.”

Usul kaum musyrik tersbeut ditolak oleh Rasulullah Saw. Sebab, tidak mungkin dan tidak logis terjadinya penyatuan agama-agama. Setiap agama berbeda dengan agama yang lain, baik dalam ajaran pokok dan banyak perinciannya.

Maka dari itu, tidak mungkin bisa perbedaan-perbedaan tersebut digabungkan dalam jiwa seorang yang tulus terhadap agama atau keyakinannya.

Masing-masing penganut agama harus yakin sepenuhnya dengan ajaran agama yang dianut. Keyakinan tersebut akan membuat mereka mustahil membenarkan ajaran agama lain yang tidak sejalan dengan ajaran agama yang dianut.

Usul kaum musyrik tersebut menjadi penyebab turunnya Q.S. Al-Kafirun. Surat tersebut menegaskan: lakum dinukum wa liya din, bagimu agammu dan bagiku agamaku. Ini adalah pengakuan eksistensi timbal balik.

Masing-masing orang bisa melaksanakan apa yang dianggapnya sebagai benar dan baik tanpa memutlakkan pendapat kepada pihak lain dan tanpa mengabaikan keyakinan masing-masing.

Sikap toleransi yang begitu tinggi telah ditetapkan dan diterapkan oleh Rasulullah Saw. terhadap umat yang tidak seiman. Maka, sikap toleransi tentu wajib dilaksanakan kepada sesama kaum beriman.

Dalam ajaran Islam, ada yang harus dipercaya dan ada juga yang harus diamalkan. Akidah termasuk dalam ajaran yang harus dipercayai. Sebab, akidah berkaitan dengan kepercayaan yang sifatnya mengikat hati.

Umat Islam mesti bersatu dalam akidah, sebab tercermin dalam Rukun Iman yang keenam yakni percaya kepada Allah Swt., malaikat, kitab-kitabnya, rasul-rasulnya, hari kiamat, dan takdir-Nya yang baik dan buruk.

Umat Islam dituntut untuk bertoleransi antara sesama muslim, yakni membiarkan masing-masing menganut apa yang ia percaya dan pahami. Sikap toleransi ini meski diterapkan meskipun berbeda dengan paham dan kepercayaan orang yang bertoleransi.

Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Siapa yang berkata (menuduh saudaranya) wahai kafir, maka kekufuran itu telah jatuh terhadap salah seorang dari mereka kalau itu benar (maka jatuhlah kekufuran itu pada yang dituduh) dan kalau tidak, maka kekufuran menimpa yang menuduh” (H.R. Muslim).

Qurasih Shihab melanjutkan bahwa sikap toleransi dalam Islam sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Sebab, keragaman dan perbedaan adalah keniscayaan.

Tanpa toleransi, hidup akan terganggu. Bukankah manusia dianugerahi oleh Allah Swt dengan pikiran, kecenderungan, bahkan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan aneka perbedaan dan pertentangan?

Jika manusia tidak bisa mengelola dengan baik, maka anuegrah tersbeut justru akan menimbulkan bencana. Dituliskan pula bahwa dalam Q.S. Hud ayat 117-118, Allah Swt. menegaskan bahwa manusia akan terus berbeda dan berselisih, kecuali yang dirahmati Allah Swt.

Orang yang dirahmati oleh Allah Swt. adalah orang yang mampu mengelola perbedaan yang ada, antara lain dengan bersikap toleran terhadap pandangan dan sikap orang lain, baik dalam keberagaman ataupun yang lainnya.[]

(Baca: Tiga Jenis Toleransi di Dalam Al-Qur’an)

100%

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here