Ketika Pendapat Umar bin Khattab Dibantah oleh Seorang Perempuan

1
293

BincangSyariah.Com- Ini kisah ketika pendapat Umar bin Khattab dibantah oleh seorang perempuan. Siapa yang tidak kenal dengan khalifah Umar bin Khattab ? Seorang Khalifah yang sangat cerdas dan bijaksana yang dipercaya menggantikan ke Khalifahan Abu Bakar as Shiddiq. Beliau juga Seorang Khalifah yang banyak menyumbangkan fikirannya dalam menentukan beberapa keputusan. Bahkan ada beberapa fikiran atau pendapat Khalifah Umar disebut-sebut sebagai faktor diturunkannya beberapa ayat yang ada dalam al Qur’an. Pendapat Umar yang disebut sebagai faktor turunnya ayat al Qur’an tersebut dinamakan dengan “Muwafāqatu ‘Umar” yaitu pendapat-pendapat umar yang sesuai dengan al Qur’an.

Adapun diantara ayat al Qur’an yang turun berdasarkan pendapat Umar adalah;

pertama, Q.S Al Baqarah [2]: 125 yaitu ayat tentang menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat Shalat.

Kedua, Q.S Al Nur [24]: 31,tentang memakai hijab untuk para istri Nabi.

Ketiga, Q.S Al Tahrim [66]: 5, yaitu Nasehat Umar kepada Istri Nabi supaya tidak saling cemburu satu sama lain, karena hal itu bisa jadi membuat Rasulullah menceraikan mereka dan mengganti mereka dengan istri yang lebih baik.

Keempat, Q.S Al Maidah [5]: 51, yaitu ayat tentang keharaman Khamar.

Kelima, Q.S Al Mu’minun [23]: 19 tentang penambahan kalimat tabarakallahu Ahsana al Khaliqiin.

Itulah diantara beberapa ayat yang turun berdasarkan pendapat dari Khalifah Umar bin Khatab. sekalipun demikian, Umar bin Khatab tetaplah sebagai manusia biasa pada umumnya yang tidak luput dari lupa dan salah.

Disebutkan dalam kitab Alfu Qishah wa Qishah min Qishashi al Shālihīn wa Al Shalihāt karangan Hānī Al Ḥāji, mengatakan bahwa Umar bin Khatab juga pernah keliru dalam memutuskan suatu perkara dan sekaligus mengakui kekeliruannya tersebut, yaitu tentang menarik kembali mahar yang sudah diberikan kepada Istri.

Baca Juga :  Pesan Sayyidina Umar bagi yang Banyak Bicara

Kisahnya adalah, suatu hari Umar bin Khatab pernah melarang orang-orang  memberikan mahar kepada calon Istri mereka melebihi empat puluh ’Uqiyah (salah satu standar ukuran di masa itu, diperkiran saat ini satu ‘Uqiyah setara dengan 200 gram). Jika sendainya mereka telah terlanjur memberikan mahar tersebut melebihi empat pulu ‘Uqiyah maka mereka diperintahkan untuk menarik atau mengambilnya kembali dan menyumbangkannya ke Baitul Mal.

Mendengarkan perintah Umar bin Khattab yang menyuruh menarik kembali mahar yang sudah diberikan oleh seorang suami kepada Istrinya yang melebihi empat puluh ‘Uqiyyah, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan membantah perkataan Umar bin Khatab tersebut. Perempuan itu berkata “ada apa denganmu?”, Umar menjawab “memangnya kenapa? Perempuan itu menjawab lagi, ada apa dengan keputusanmu, bukannya Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman dalam Q.S Al Nisa` [4]: 20 yang berbunyi:

وَاِنْ اَرَدْتُّمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَّكَانَ زَوْجٍۙ وَّاٰتَيْتُمْ اِحْدٰىهُنَّ قِنْطَارًا فَلَا تَأْخُذُوْا مِنْهُ شَيْـًٔا ۗ اَتَأْخُذُوْنَهٗ بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًا

“Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali sedikit pun darinya. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?”

Mendengarkan bantahan dari perempuan tersebut yang sekaligus membacakan ayat diatas, Umar bin Khattab langsung mengakui kekeliruannya dan membenarkan bantahan perempuan tersebut, Umar pun bekata “Imra`atun Ashābat wa Rajulun Akhṭa`a (perempuan tadi benar, dan seorang laki-laki telah keliru).

1 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Fatimah binti Khattab bin Nufail adalah adik kandung dari khalifah kedua Umar bin Khattab. Suaminya, Sa’id bin Zaid termasuk dalam kelompok yang telah dijanjikan masuk surga. Putra dari Zaid bin Amr, seorang yang hidup di masa jahiliah namun menolak menyembah berhala.  Pasangan suami istri ini telah berikrar masuk Islam di masa awal syiar Islam (Assabiquna Al-Awwalun). Mereka menyembunyikan keislamannya agar sang kakak tidak marah. Sebagaimana diketahui Umar sebelum masuk Islam adalah sosok yang memegang teguh agama nenek moyang dan sangat menentang risalah yang dibawa Nabi Muhammad Saw. (Baca: Ketika Pendapat Umar bin Khattab Dibantah oleh Seorang Perempuan) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here