Ketika Para Ulama Membahas Cinta

0
19

BincangSyariah.Com – Urusan cinta memang bukanlah ranah yang biasa menjadi objek kajian para ulama’. Namun bukan berarti urusan tersebut sama sekali tidak disinggung oleh mereka. Karena cinta dalam konteks kehidupan sosial, bisa menimbulkan implikasi terhadap kehidupan beragama. Contoh kecil adalah dalam proses suluk mendekatkan diri kepada Allah, cinta atau mahabbah menjadi aset penting dalam merintis hubungan dengan Allah tersebut. Bahkan sebagian ulama meyakini cinta merupakan pokok beragama.

Namun, yang menjadi persoalan adalah karena cinta merupakan fitrah manusia. Setiap orang memiliki kecenderungan sikap yang berbeda. Dengan objek cinta yang berbeda pula. Hal inilah yang menjadi alasan para ulama untuk memfokuskan diri dalam membuat kitab khusus yang mengkaji urusan cinta secara komperhensif.

Kajian Awal Para Ulama tentang Cinta

Adapun ulama yang pertama kali membukukan kajian ini secara khusus adalah Imam Dawud Ad-Dzohiri (w. 296 H), beliau mengarang kitab yang berjudul Az-Zahrah. Sebagai kitab generasi awal dalam kajian ini bisa dibilang sudah cukup lengkap.

Satu abad setelahnya, Imam Al-Khoroithi (w. 327 H) melanjutkan penulisan dengan tema ini dengan kirabnya yang berjudul I’tilal Al-Qulub. Dalam kitab ini Imam Al-Khoroithi masih menggunakan metode penulisan sebagaimana kitab-kitab hadits. Yakni dengan menyebutkan sanad-sanad dalam setiap kajiannya.  Namun walaupun begitu, Imam Al-Khoroithi tetap lugas dalam setiap argumen-argumennya.

Kemudian setelah itu beberapa ulama lain Mengikuti nya tentu dengan penambahan pengembangan kajian. Di fase ini ada sosok Ibnu Hazm al-Andalusi (w. 452 H) seorang sejarawan dan  ahli fikih terkemuka yang memperkenalkan Kitab berjudul Thûq al-Hamâmah. Dalam kitabnya ini Ibnu Hazm tidak lagi melulu mengandalkan teks-teks terdahulu sebagai referensi. Beliau juga menggunakan metode riset lapangan (Istiqro’) dan juga observasi . Sehingga apa yang

Baca Juga :  5 Mualaf Dunia yang Mengharumkan Islam

Kalau sebelumnya kajian cinta ini hanya seputar hadits dan rangkaian fragmen cerita cinta. Ibnu Hazm dalam kitabnya tersebut mulai menganalisa akan sebab musabab cinta tersebut. Juga tak tertinggalan juga menganalisa karakter dan konsekuensi akan cinta tersebut. Kitab ini juga sekaligus menjadi rujukan, karena kitab-kitab kajian cinta setelah kurun Ibnu Hazm banyak menukil dari kitab ini.

Satu abad setelahnya muncul Abu al-Faraj Ibn al-Jauzi (w. 597 H) dengan kitab Dzammul Hawa. Kitab ini merupakan jawaban atas banyaknya aduan masyarakat semasanya yang banyak tertimpa cobaan perasaan ini. Sehingga dalam kitab ini beliau lebih banyak memberikan koreksi dan refleksi akan hakikat cinta ini. Juga memberikan doronganuntuk konsisten menjaga diri dari hal-hal yang menyimpang syariat. Tak lupa pembesar ulama madzhab Hanbali banyak menulis wejangan untuk memperbanyak sifat khouf takut Allah SWT.

Kemudian setelah masa Ibn Jauzi pada abad ke-8 Hijriyah beberapa ulama’ lain juga melakukan kajian yang sama, Diantara mereka adalah Syihab Mahmud (w. 725 H) dengan kitab Manazil al-Ahbab, Al-Mughlathy (w. 762 H)dengan kitab al-Wadzih al-Mubindan Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H) dengan kitab Roudhatul Muhibbin.

Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H)

Ibn Qayyim Al-Jauziyyah (w. 751 H) adalah salah seorang ulama fikih bermazhab Hanbali yang sama sekali tidak menyangkal fenomena perasaan cinta. Bahkan sangat menyadari betul akan pentingnya kajian cinta yang mencerahkan. Beliau menyadari dalam menindaklanjuti rasa cinta yang pasti dimiliki oleh setiap manusia, mereka pasti akan dihadapkan pada dilema dan perang opini. Antara akal dan nafsu.

Oleh sebab itu beliau mengarang sebuah kitab khusus mengenai cinta ini sebagai titik kompromi antara nafsu dan akal sehat tersebut. Sebagaimana beliau tulis hal tersebutdalam muqoddimah kitabnya Raudhat al-Muhibbin,

فلذلك وضعنا هذالكتاب وضع عقد الصلح بين الهوو والعقل وإذا تمّ عقد الصلح بينهما سهل على العبد محاربة النفس والشيطان, والله المستعان وعليه التكلان

Baca Juga :  Abbas bin Abdul Muthallib, Paman Nabi yang Memiliki Karamah

“Oleh sebab itu aku mengarang kitab ini adalah sebagai upaya mengkompromikan antara hawa nafsu dan nalar logika. Ketika keduanya sudah mampu dikompromikan, niscaya akan mudah untuk memerangi nafsu dan syetan, ―Hanya Allah yang sanggup menolong dan kepada-Nya tempat berserah diri.”

Hal ini tentu cukup beralasan. Umumnya orang tidak tepat dalam mengalokasikan cinta sehingga berseberangan dengan nilai syariat. Biasanya ia hanya mengikuti naluri perasaannya tanpa pernah mengimbanginya dengan akal mereka. Sehingga mereka terjebak dalm cinta-cinta semu makhluk yang melewati batas-batas yang telah ditetapkan syariat.

Selain itu tujuan para ulama memberikan ruang khusus akan kajian ini adalah agar edukasi cinta kepada masyarakat bisa lebih mengena. Karena bagaimanapun urusan perasaan ini tidaklah sederhana. Dengan hadirnya kajian cinta dari para ulama ini diharapkan masyarakat bisa mengenali berbagai aspek tentang cinta yang sesuai dengan spirit ajaran agama.

Dalam catatan sejarah, memang masyarakat Arab menempatkan cinta itu sendiri dalam posisi yang istimewa. Hal ini bisa dilihat dengan dari banyaknya padanan kata yang mempunyai arti sama dengan cinta. Menurut catatan Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah Al-Hubbpunya 60 padanan kata. Diantaranya Al-Alaqah, al-Hawa, al-Shobwah, as-Syaghaf dan lain sebaginya.

Syair-syair yang berkembang di kalangan arab juga sebagian besar mengabadikan kisah-kisah cinta. Banyak syair yang menuliskan fragmen kisah cinta. Seperti yang sudah masyhur Qais dan Laila, Jamil dan Batsinah, Ibn Zaidun dan dan putri Ibn Mustakfi dan lain sebagainya. Hal ini tentu menjadi indikasi perhatian bangsa Arab akan cinta ini sangat besar.

Kitab yang terakhir disebut inilah yang banyk mendapat perhatian ulama. Karena selain memang kitab ini mempunyai kajian yang cukup komperhensif, juga dalam kitab ini beliau banyak melakukan koreksi atas hadits-hadits, syair serta cerita-cerita romantisme yang berkembang hingga masa beliau. Ibnu al-Qoyyim juga tidak hanya sekedar mengkompilasi riwayat-riwayat yang sudah ada, namun juga  memberikaan argumentasi yang cerdas dan lugas. Beliau mengajak pembaca untuk memandang urusan cinta ini dengan kacamata obyektif. Seperti halnya dalam bab tertentu beliau menulis dua kutub pemikiran yang berseberangan. Yang satu begitu memuja cinta sedangkan yang satunya memandang cinta dengan sebelah mata. Dalam hal ini beliau menulis:

Baca Juga :  Rasyid Ridha: Tokoh Pembaharu Islam dari Lebanon

العشق لا يحمد مطلقا ولا يذمّ مطلقا وإنما يحمد ويذمّ باعتبار متعلقه. فإن الإرادة تابعة لمرادها

“Perasaan cinta tidak bisa dijustifikasi sebagai sesuatu baik atau buruk secara mutlak. Perasaan itu bisa dinilai baik-buruknya tergantung sesuatu yang berhubungan dengannya. Karena keinginan itu sesuai tujuannya”

Karena hukum asal cinta adalah diperbolehkan selagi tidak menerjang batas-batas syariat. Sebagaimana ditulis Al-Hafidz Mughlathy:

قال الحافظ مغلطاي: “وقد أجمع العلماء: أن الحب ليس بمستنكر في التنزيل، ولا بمحظور في الشرع”

“Ulama telah bersepakat bahwa cinta itu bukan perkara yang dipandang jelek juga bukan perkara yang dilarang dalam syariat Islam”.

Sehingga dari sini perlu kiranya kajian cinta ini mendapat perhatian khusus dikalangan muda. Karena banyaknya penyimpangan cinta belakangan ini, bisa jadi dikarenakan kurangnya edukasi di kalangan muda mengenai urusan cinta ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here