Ketika Nabi Zakariya Bertawasul di Mihrab Siti Maryam

0
1818

BincangSyariah.Com – Seorang Nabi maupun Rasul juga manusia biasa, kadang sedih, senang, serta bahagia bila melihat keturunan, maupun umatnya selalu taat kepada Allah dengan mengikuti ajarannya. Ujian yang mereka hadapi berbeda dengan yang lain, ada yang dari faktor internal, seperti anak, istri maupun keluarga yang lain. Begitu juga dari ujian dari luar(eksternal) misalnya dari kaumnya, maupun penentang-penentangnya.

Salah satu ujian yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Zakaria adalah lama tak mempunyai keturunan sampai menginjak masa tua. Beliau tak bosan untuk berdoa agar diberi keturunan, karena melihat kondisi umatnya yang susah diatur, banyak kemunkaran di mana-mana, sedangkan kondisi istrinya divonis mandul, beliau hanya tawakal serta tak henti-hentinya untuk berusaha agar diberi keturunan. Kisah ini tertuang dalam Alquran Surat Maryam yang berbunyi:

 إِذ نادى رَبَّهُ نِداءً خَفِيًّا ﴿٣﴾ قالَ رَبِّ إِنّي وَهَنَ العَظمُ مِنّي وَاشتَعَلَ الرَّأسُ شَيبًا وَلَم أَكُن بِدُعائِكَ رَبِّ شَقِيًّا ﴿٤﴾ وَإِنّي خِفتُ المَوالِيَ مِن وَرائي وَكانَتِ امرَأَتي عاقِرًا فَهَب لي مِن لَدُنكَ وَلِيًّا ﴿٥﴾ يَرِثُني وَيَرِثُ مِن آلِ يَعقوبَ وَاجعَلهُ رَبِّ رَضِيًّا﴿٦﴾

Artinya: yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut(3). Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku(4). Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera(5), yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai”.(6)

Menurut Syeh Nawawi Al Bantani dalam Tafsirnya Marah Labid, ayat di atas menjelaskan tentang tawassulnya Nabi Zakaria agar diberikan keturunan. Ia merasa bahwa dirinya sudah tua renta, dan lemah secara fisik. Nabi Zakaria merasa khawatir bila tak ada pengganti setelahnya, karena anak-anak pamannya akan merebut kedudukannya dan mengganti ajaran agama yang ia sudah ajarkan kepada umatnya, karena mereka termasuk keturunan yang sering membuat onar dan perpecahan.

Baca Juga :  Wasiat Nabi tentang Meredam Amarah

Sedangkan menurut Imam Qurtubi menjelaskan ayat di atas berkenaan doa Nabi Zakaria meminta keturunan dengan tujuan untuk menyebarkan agama, dan melanjutkan misi kenabian, serta untuk mendapatkan pahala akhirat, dan Allah pun mengabulkannya dengan diberikan putera walau usianya sudah sangat udzur setelah ia melihat kejadian yang aneh saat memasuki Mihrab, di sana banyak buah-buahan, kemudian ia bertanya kepada Siti Maryam:”Dari mana asal buah-buahan ini, wahai Maryam?”.

Kemudian Maryam menjawab:”semua ini datangnya dari Allah.”

Mendengar cerita ini, Nabi Zakaria lalu berdoa dengan khusuk di tempat itu. Hal ini sesuai pernyataan Imam Suyuti dalam kitabnya, Al Isyabah Fi Al Da’awat Al Mustajabah, beliau memaparkan bahwa doa yang dikabulkan oleh Allah, di antaranya  berkaitan dengan tempat, seperti Multazam, Raudhah, dan Mihrab tempat tinggal Siti Maryam, seperti dalam alquran surat Ali Imran ayat 38:

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ (38)

Artinya: Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”.

Ibnu Asyur menambahkan bahwa Nabi Zakaria melihat ada hikmah yang luar biasa di tempat itu, maka ia berdoa dengan keyakinan doanya dikabulkan walaupun itu mustahil adanya menurut logika manusia.

Dalam kejadian ini Nabi Zakaria bertawassul dengan beberapa hal.

Pertama, Ia bertawassul akan kelemahan yang ada pada dirinya dengan menyebutkan ketidakberdayaan badannya, serta telah memutih rambutnya, ini sebagai bentuk pengakuan diri bahwa Allahlah yang Maha Kuasa dan Perkasa mewujudkan segala yang ia kehendaki.

Kedua, ia memperlihatkan karunia Allah berupa nikmat doa yang selalu dikabulkan olehNya. Sikap ini mencerminkan bahwa Nabi Zakaria merupakan orang yang selalu mensyukuri nikmatNya.

Baca Juga :  Menyoal Tentang Tradisi Bertawasul dalam Islam

Ketiga, ia merasa khawtir bila perjuangannya tak ada yang melanjutkan, ini sebagai bentuk kepeduliannya terhadap kaumnya agar tak tersesat jalannya.

Keempat, ia berdoa di tempat yang diberkahi oleh Allah sehingga doanya menjadi dikabulkan.

Dari kisah di atas, dapat kita ketahui bahwa Nabi Zakaria merupakan seorang Nabi yang sangat penyabar, serta sangat perhatian terhadap keluarga dan kaumnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here