Kesultanan Demak: Kerajaan Islam Pertama di Pulau Jawa

0
551

BincangSyariah.Com – Pendiri Kesultanan Demak merupakan keturunan Raja Majapahit yang terakhir, Raden Fatah yang kemudian bergelar Senapati Jimbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayyidin Panatagama.

Raden Fatah: Keturunan Raja Majapahit

Mulanya, Raden Fatah mendapat wilayah kekuasaan berupa wilayah Demak dari Kerajaan Majapahit. Namun atas dukungan raja Jepara, Gresik dan Tuban, Raden Fatah melepaskan diri dari Majapahit dan Demak berdiri sebagai kerajaan Islam sendiri pada tahun 1500. Di bawah kepemimpinannya, Demak menjadi pusat penyebaran ajaran Islam di Jawa. Ia berhasil melakukan penyebaran agama Islam di seluruh Jawa, Kalimantan dan Sumatera Selatan.

Dilansir dari berbagai sumber, dikatakan bahwa Raden Fatah merupakan keturunan Raja Majapahit. Ayahnya adalah Kertabumi Brawijaya, raja Majapahit yang terakhir. Sedangkan ibunya adalah muslimah keturunan Champa, sebuah negara kuno di Vietnam Tengah.

Menurut versi lain mengatakan bahwa ibunya seorang keturunan Tionghoa yang menjadi selir dari Kertabumi Brawijaya saat itu. Karena itulah sebagian orang menyatakan bahwa Demak adalah penerus kerajaan Majapahit yang telah beragama Islam. Sebab pada mulanya Raden Fatah merupakan keturunan Raja Hindu.

Masjid Demak dan Makna Saka Guru Masjid

Pada masa pemerintahannya, selain melakukan penyebaran agama Islam ke berbagai wilayah, Raden Fatah juga membangun sebuah masjid yang hingga kini masih kokoh berdiri. Masjid tersebut dikenal dengan Masjid Demak. Masjid ini didirikan tahun 1477, meski ada versi lain yang menyebutkan tahun 1479.

Ia menjadikan masjid ini sebagai pusat pemerintahan selain sebagai tempat ibadah dan pembelajaran Islam. Arsitektur dari masjid ini bercorak Jawa. Atapnya yang bersusun tiga sangat filosofis. Ia memiliki makna Islam, Iman dan Ihsan. Adapun pintu masjid yang berjumlah lima melambangkan rukun Islam, sedangkan jendela yang berjumlah enam bermakna rukun iman.

Baca Juga :  Dzul Khuwaishirah; Dua Orang Arab Badui yang Berani Tak Sopan pada Nabi

Terdapat hal yang khas dan monumental pada Masjid Demak ini, ialah saka guru. Saka yang berarti tiang dan berjumlah empat tersebut bertujuan untuk menopang atap masjid. Saka guru dibangun oleh empat wali di antara wali songo. Tiang di sebelah tenggara dibangun oleh Sunan Ampel, di sebelah baratdaya dibangun oleh Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut oleh Sunan Bonang dan di timurlaut oleh Sunan Kalijaga.

Adapun tiang yang dibangun oleh Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang terbuat dari kayu utuh. Sedangkan tiang yang dibangun oleh Sunan Kalijaga terbuat dari potongan balok yang diikat menjadi satu atau disebut saka tatal. Hingga kini Masjid Demak menjadi icon Kota Demak dan menjadi masjid tertua di Indonesia.

Sultan Kedua: Pati Unus

Selepas kepergian Raden Fatah, kepemimpinan Demak dipegang oleh putranya, Pati Unus. Dalam versi lain menyebutkan bahwa Pati Unus merupakan menantunya yang menikahi putrinya. Pati Unus juga dikenal dengan julukan Pangeran Sabrang Lor (Sabrang= menyebrang, Lor= utara). Ia mendapat julukan tersebut karena pernah menyeberangi Pulau Jawa menuju Malaka untuk melawan Portugis. Ia pernah melakukan penyerbuan ke Malaka pada tahun 1513 lalu melakukan penyerbuan kedua pada tahun 1521 saat dirinya telah menjadi raja di Kesultanan Demak dan dalam penyerbuan itulah ia gugur.

Sultan Ketiga: Sultan Trenggana

Kepemimpinan Demak diteruskan oleh adiknya, Trenggana yang merupakan anak kedua dari Raden Fatah. Pada saat Pati Unus wafat sempat terjadi perebutan kekuasaan antara Raden Trenggana (sebelum bergelar Sultan) dengan adiknya, Raden Kikin.

Kemudian, Putra Sulung Trenggana yaitu, Mukmin (nama kecil Sunan Prawoto) mengirim utusan untuk membunuh Raden Kikin. Pembunuhan tersebut berhasil dan Raden Trenggana pun naik takhta. Ia bergelar Sultan Abdul Arifin. Pada tahun 1546 Sultan Trenggana gugur dalam penyerbuan ke Panarukan. Kepemimpinan akhirnya diteruskan oleh Raden Mukmin yang bergelar Sunan Prawoto.

Baca Juga :  Tahiyat Akhir, Dialog Rasulullah dan Allah Secara Langsung

Kekuasaan Sunan Prawoto dan Era Kemunduran

Pada masa kepemimpinannya, Kesultanan Demak sudah mulai mengalami kemunduran. Beberapa penguasa yang mulanya tunduk pada Demak mulai memberontak dan melepaskan diri. Di antara penguasa-penguasa tersebut ialah Adipati Cirebon, Jepara, dan Surabaya.

Raden Mukmin yang selanjutnya lebih dikenal dengan Sunan Prawoto adalah sosok yang tidak pandai berpolitik. Kemampuannya yang minim berpengaruh pada stabilitas politik kerajaan. Ia pun memimpin kerajaan sampai ia wafat pada tahun 1549, dibunuh oleh Arya Pinangsang, putra dari Raden Kikin yang dulu pernah ia bunuh melalui utusannya.

Pasca wafatnya Sunan Prawoto, Joko Tingkir yang menjadi prajurit di Kesultanan Demak semasa Sultan Trenggono mendapatkan peluang kemenangan berupa takhta Demak. Pada masa kepemimpinan Sultan Trenggono, Joko Tingkir dijadikan menantu dan menjadi tangan kanan kerajaan. Setelah kejadian pembunuhan Sunan Prawoto oleh Arya Pinangsang, ialah yang menghukum Arya hingga tewas. Dari situlah atas dukungan raja-raja daerah pesisir, ia mengangkat dirinya sebagai Sultan Demak. Kemudian ia memindahkan kerajaan ke Pajang dan mendirikan Kesultanan Pajang dengan gelar Sultan Adiwijaya.

Wilayah Kekuasaan Demak

Kerajaan Demak diakui sangat memiliki peran dalam penyebaran agama Islam di nusantara. Pengaruhnya meliputi wilayah dari barat Pulau Jawa sampai ke Sumatera Selatan dan Kalimantan. Wilayah Jawa yang dipengaruhi oleh Kesultanan Demak mencakup Tuban (1527); Wirosari (Purwodadi, 1528); Gagelang (kini Madiun, 1529); Mandakungan (kini Blora, 1530); Surabaya (1531); Pasuruan (1535); Lamongan, Blitar dan Wirosobo (1541-1542); Penanggungan, Mamenang (nama kuno Kediri), dan daerah hulu Sungai Brantas, seperti Malang (1543) dan Sengguruh (1545).

Sampai tahun 1545, kekuasaan Kesultanan Demak meliputi hampir seluruh Jawa dan Sumatera Selatan. Begitu juga Kalimantan seperti kota Banjarmasin dan Kotawaringin. Kesemuanya dikuasai mulai pada masa kepemimpinan Sultan Trenggana.

Baca Juga :  Kesultanan Mataram: Kesultanan yang Terbelah Menjadi Empat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here