Kesultanan Cirebon: Kesultanan Islam Pangeran Pajajaran

0
3348

BincangSyariah.Com – Pada abad ke-15 awal, Cirebon dikuasai oleh Pangeran Walangsungsang (Cakrabumi), keturunan raja Pakuan Pajajaran. Dalam sejarah, ia justru dianggap sebagai pendiri Kesultanan Cirebon. Pangeran Walangsungsang merupakan putra dari Prabu Siliwangi dan Nyi Subanglarang. Prabu Siliwangi adalah pemimpin Pajajaran, kerajaan Hindu-Budha waktu itu.

Pangeran Pajajaran Belajar Islam 

Suatu waktu Pangeran Walangsungsang dan adiknya Nyi Mas Ratu Rarasantang mendatangi Syekh Nurjati untuk mempelajari Islam. Setelah mempelajari agama Islam dengan Syekh Nurjati, keduanya pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Namun Nyimas Ratu Rarasantang bertemu dengan jodohnya, Syarif Abdullah dari Mesir dan dipersunting di sana yang setelah menikah Nyimas Rarasantang berubah nama menjadi Syarifah Muda’im.

Pada tahun kurang lebih 1450 Pangeran Walangsungsang mendirikan Kerajaan Cirebon atas perintah gurunya. Mulanya ia hanya membuka lahan di pesisir Jawa Barat untuk menyebarkan agama Islam. Kemudian lambat laun penyebaran agama Islam mulai berkembang.

Digantikan Keponakan Bernama “Sunan Gunung Jati”

Sampai pada tahun 1479 saat Pangeran Walangsungsang wafat ia digantikan oleh keponakannya, Sunan Gunung Jati yang merupakan anak dari Syarifah Muda’im dengan Syarif Abdullah menjadi raja pertama di Kesultanan Cirebon. Ia menjadi salah satu dari Wali Songo dan memiliki peran besar dalam penyebaran agama Islam. Dia menjadi pendiri dinasti raja-raja Cirebon dan kemudian Kesultanan Banten.

Sunan Gunung Jati (1448-1570), menurut Babad Cirebon digelari Raja Pandita karena menjadi ulama sekaligus raja. Melalui perannya Cirebon menjadi daerah yang kali pertama masuk Islam di Jawa Barat. Ia ditetapkan sebagai pemimpinnya para wali saat musyawarah dari para wali di Tuban.

Sunan Gunung Jati dikenal sosok yang sangat lembut dan toleran dalam penyebaran ajaran agama Islam. Hal tersebut menjadikan orang-orang mudah menerima dakwahnya. Ia memperkenalkan bahwa makan jihad dalam Islam tidak melulu berarti perang, melainkan juga melawan hawa nafsu. Sikap tolerannya ditunjukkan ketika ia menikahi Nyai Kawung Anten pada tahun 1476 yang kemudian masuk Islam tapi tidak beserta orang tuanya. Sunan Gunung Jati tetap menghargai keputusan Sang Surowosan yang tidak masuk Islam.

Membangun Koalisi dengan Kesultanan Demak

Kesultanan Cirebon sangat memiliki hubungan diplomatis dan kekeluargaan yang kuat dengan Kesultanan Demak. Salah satunya dengan menikahkan putri Sunan Gunung Jati, Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor yang merupakan panglima angkatan Laut Kesultanan Demak.

Sunan Gunung Jati benar-benar menyiapkan keturunannya untuk menjadi penerusnya sebagai penebar agama Islam. Buktinya, ia mengirim putranya, Maulana Hasanuddin ke Mekkah untuk belajar Islam. Setelah kembali ke tanah air ia diminta untuk turut menyebarkan ajaran Islam. Caranya berdakwah pun sangat santun dan ramah, persis seperti apa yang dilakukan oleh Ayahnya.

Menjadi Dua Kesultanan: Kasepuhan dan Kanoman

Keutuhan Kesultanan Cirebon hanya bertahan sampai kepemimpinan Panembahan Ratu II atau yang lebih dikenal dengan gelarnya Panembahan Girilaya. Ia merupakan cicit dari Sunan Gunung Jati.

Atas keinginannya, pada tahun 1662 ia membagi Kesultanan Cirebon menjadi dua, Kasepuhan dan Kanoman. Pembagian tersebut terjadi demi menghindari perbedaan pendapat di kalangan keluarga tentang penerus Kesultanan.

Setelah membagi dua, Panembahan Girilaya menyerahkan kekuasaannya kepada kedua putranya. Kesultanan Kasepuhan dipimpin oleh Martawijaya (Panembahan Sepuh yang bergelar Syamsuddin). Sedangkan Kesultanan Kanoman dipimpin oleh Kartawijaya (Panembahan Anom yang bergelar Badruddin).

Setelah pembagian kesultanan, stabilitas politik keduanya justru makin surut. Pada tahun 1681 keduanya mulai berada di bawah pengawasan Belanda. Hal tersebut membuat penduduk Cirebon merasa tidak aman dan mulai melakukan pemberontakan sekitar tahun 1800 terhadap kolonialisme Cirebon. Pemberontakan-pemberontakan dari penduduk terus terjadi dan wilayah Cirebon terus berada di bawah kekuasaan Belanda sampai Indonesia merdeka.

Bersama Demak, Cirebon menjadi salah satu peradaban Islam di Nusantara. Letaknya yang berada di pesisir membuat Cirebon mudah mengadakan hubungan dan kerjasama dengan dunia luar melalui jalur perdagangan, seperti dengan Arab dan Cina.

Hubungan kerjasama ini memberi banyak pengaruh dalam aspek kehidupan di wilayah Cirebon. Tidak hanya berdampak pada masyarakatnya, melainkan juga pada karya sastra, seni dan tradisi Islam pada abad ke-17 sampai ke-18. Pengaruh tersebut dibuktikan dengan adanya hiasan dinding China dan Belanda yang banyak melekat di dinding keraton. Arab dan Cina memilliki pengaruh yang begitu kuat.

Diolah dari Ensiklopedia Islam Populer terbitan PT. Ichtiar Baru Van Hoeve

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here