Kesultanan Bima: Kesultanan Islam di Kepulauan Timur Indonesia

0
1435

BincangSyariah.Com – Sebelum menjadi kerajaan Islam, Bima merupakan kerajaan yang menganut agama Hindu/Syiwa atau kepercayaan nenek moyang terdahulu. Kemudian pada tahun 1620, dalam sumber lain dikatakan 1640, raja Bima yang ke-27 bernama La Ka’i menikah dengan adik dari istri Sultan Alaudin. Adik dari istri Sultan Alaudin bernama Daeng Sikontu, karenanya lah ia akhirnya memeluk agama Islam. Setelah masuk Islam ia mengubah namanya menjadi Abdul Kahir. Bermula dari pernikahannya dengan keluarga Kesultanan Goa, Kesultanan Bima akhirnya memiliki hubungan diplomatis.

Kesultanan Bima terletak di Pulau Sumbawa bagian timur. Bima menjadi bandar penting dalam lintas pelayaran perdagangan dari Malaka ke Maluku atau sebaliknya. Hal inilah yang memudahkan Kesultanan Bima memiliki hubungan diplomatis ke daerah luar dan menyebarkan Islam ke luar Bima. Wiilayahnya meliputi Flores Barat dan pulau-pulau kecil antara Flores dan Sumbawa.

Setelah kerajaan ini berubah menjadi kesultanan, ia memiliki pusat penyebaran Islam di wilayah timur nusantara dan tempat berdakwahnya para ulama. Para ulama tersebut di antaranya ialah Sykeh Umar al-Bantani dari Banten, Datuk Di Bandang dari Minangkabau, Datuk Di Tiro dari Aceh, dan Kadi Jalaluddin serta Syekh Umar Bamahsun dari Arab. Sebagian para ulama tersebut juga diangkat menjadi penasihat kesultanan dan memiliki peranan penting di pemerintahan.

Setelah Sultan Abdul Kahir wafat, kekuasaan kemudian dipegang oleh putranya yang bernama Abdul Khair Sirajuddin dan memerintah sampai tahun 1682. Pada masanya sistem pemerintahan menggunakan sistem “adat dan hukum Islam”.  Ketentuan tersebut terus berlaku sampai masa pemerintahan Sultan Bima XIII, Sultan Ibrahim yang memerintah sejak tahun 1881-1915.

Pemerintahan pada kesultanan ini sama seperti kesultanan lainnya, mengalami pasang-surut. Kejayaan dari kesultanan ini justru nampak pada masa pemerintahan sultan yang terakhir, Sultan Muhammad Salahuddin (1915-1951).

Baca Juga :  Enam Organisasi Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia

Pada masa Sultan Muhammad Salahuddin, perkembangan Islam, terutama di bidang agama sangatlah pesat. Hal tersebut terjadi karena Sultan Muhammad Salahuddin sangat menruh perhatian yang besar pada perkembangan Islam.

Pada masa pemerintahannya, ia meningkatkan jumlah sarana dan prasarana ibadah, serta mengembangkan fungsi ibadah yang juga menjadi pusat pengkajian ilmu dan agama. Selain itu, ia juga mengembangkan pendidikan formal dengan mendirikan sejumlah madrasah.

Sultan Muhammad Salahuddin merupakan putra dari Sultan Ibrahim yang sangat memperhatikan kehidupan dan pendidikan agama. Sejak kecil, Sultan Muhammad Salahuddin sudah mengenyam pendidikan agama.

Ia belajar agama kepada ulama terkenal sejak usianya 9 tahun. Guru-gurunya ialah H. Hasan Batawi dan Syekh Abdul Wahab (Imam Masjidil Haram, Mekkah). Ia sangat senang mengoleksi buku-buku agama dan memperdalamnya. Sehingga, tidaklah heran jika pada masa kepemimpinannya ia menaruh perhatiannya yang besar pada agama Islam.

Sejak Belanda mulai ikut campur ke dalam beberapa kesultanan di Indonesia dan berupaya merebut wilayah tersebut, Kesultanan Bima juga mengalami dampaknya. Pada tahun 1669, Belanda mulai ikut campur ke dalam pemerintahan Kesultanan Bima. Sudah sejak pemerintahan Sultan Ibrahim, pada tahun 1906 ia dipaksa untuk menandatangani perjanjian penghapusan kesultanan. Isinya antara lain,

1) Bima mengakui wilayahnya sebagai bagian dari Hindia Belanda.

2) Sultan tidak boleh bekerjasma dengan bangsa kulit putih lain.

3) Bima juga harus mengirimkan bantuan jika Belanda berperang.

4) Sultan tidak boleh menyerahkan wilayah Bima kecuali kepada Belanda.

Sejak Bima memiliki hubungan nasab dengan Kesultanan Goa di Makassar, dalam hal penyebaran Islam dan juga kemundurannya berbarengan dengan Kesultanan Goa. Saat Kesultanan Goa menandatangani Perjanjian Bongaya pada tahun 1667, Kesultanan Bima mulanya menolak sampai akhirnya mau menyerah kepada Belanda dalam sebuah perjanjian pada tahun 1669 di bawah kepemimpinan Sultan Abdul Khair, sultan Bima kedua.

Baca Juga :  Lima Kriteria Ulama Pewaris Nabi Menurut Kiai Ali Musthafa Yaqub (2)

Kesultanan ini berakhir pada tahun 1951 ketika Sultan Salahudin wafat. Kini, Bima menjadi daerah kabupaten yang berada di wilayah propinsi Nusa Tenggara Barat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here