Sejarah Kesultanan Banten: Didirikan Sultan Cirebon, Mundur Akibat Perang Ayah-Anak

0
7266

BincangSyariah.Com – Selain kerajaan Demak yang menyebarkan Islam di Jawa, terdapat pula kerajaan Islam lain yang berdiri di sisi barat pulau Jawa, yang menjadi sentral perkembangan dan penyebaran ajaran Islam pada abad 16. Kerajaan Islam tersebut adalah Kesultanan Banten, yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati karena berhasil menaklukkan Banten dan mengambil alih kekuasaan Banten dari Kerajaan Hindu Pakuan Pajajaran. Kesultanan Banten didirikan pada tahun 1524 M dan dipimpin oleh Sunan Gunung Jati sendiri. Lalu diteruskan oleh putranya, Maulana Hasanuddin dan memerintah selama 18 tahun (1552-1570 M).

Pada masa kepemimpinan Maulanan Hasanuddin, kesultanan Banten mengalami kemajuan yang pesat dan menjadi pusat penyebaran Islam. Wilayah kekuasaannya pun tidak hanya di Banten, tetapi juga meluas ke Lampung dan Sumatera Selatan. Kepemimpinan lalu diteruskan oleh keturunannya. Pasca wafatnya Maulana Hasanuddin, kepemimpinan diteruskan oleh putranya, Maulana Yusuf. Begitu juga setelah Maulana Yusuf wafat, kepemimpinan diteruskan oleh putranya, Maulana Muhammad. Namun karena Maulana Muhammad saat itu masih berusia anak-anak akhirnya pemerintahan diurus oleh Pangeran Aria Jepara hingga usianya dewasa. Maulana Muhammad pun memegang takhta kerajaan sampai wafat.

Puncak Keemasan

Puncak keemasan Kesultanan Banten terjadi saat kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa yang memimpin sejak 1651-1683 Masehi. Kejayaan tersebut terlihat dari banyaknya relasi perdagangan orang Banten dengan para pedagang Inggris, Denmark, Cina, Vietnam, India, Persia, Filipina, dan Jepang.

Kesultanan Banten di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa menjadi kerajaan yang termasuk berani pada pemerintah Belanda yang hendak menguasai Banten. Pasukan perang dari Kesultanan Banten pernah berperang melawan pasukan Belanda. Peperangan tersebut terjadi pada tahun 1619 dan 1633 M. Sultan Ageng Tirtayasa juga pernah menjadikan Banten sebagai tempat berlindung bagi para pejuang yang melawan Belanda.

Baca Juga :  Rahasia Tidur Miring Ala Nabi

Sebelum ayahanda Sultan Ageng Tirtayasa wafat, Sultan Abdul Qodir dan putranya tersebut sering mengirimkan pertanyaan agama kepada ulama masyhur saat itu, seperti Nuruddin ar-Ranuri, seorang ulama Gujarat yang tinggal di Aceh. Ada juga kepada Syekh Yusuf al-Makassari, ulama terkemuka dari Makassar. Para ulama tersebut akhirnya menuliskan kitab khusus dengan menjawab persoalan-persoalan yang ditanyakan oleh umat.

Peninggalan: Keraton dan Masjid

Pada masa Kesultanan Banten, pemerintahan membangun Keraton Kaibon dan Keraton Surosowan untuk dijadikan tempat tinggal dan peristirahatan sultan. Kini, kedua warisan sejarah tersebut hanya tinggal sisa-sisa bangunan saja. Bahkan keraton Kaibon tinggalah puing-puingnya karena pada tahun 1832 M dihancurkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Sedangkan bangunan dari keraton Surowoson masih tersisa tembok benteng tebal yang mengelilingi wilayah seluas empat hektar dan berbentuk empat persegi panjang. Keraton Surowoson dibangun oleh Maulana Yusuf saat menjadi sultan.

Selain bangunan keraton yang menjadi bukti adanya dan kemajuan Kesultanan Banten, terdapat dua masjid besar yang dibangun pada masa itu dan masih berdiri hingga saat ini. Keduanya adalah Masjid Agung Banten yang dibangun pada masa Sultan Hasanuddin dan Masjid Kasunyatan yang diperkirakan sudah dibangun terlebih dahulu daripada Masjid Agung Banten meski tidak diketahui persis waktu pembangunannya.

Terdapat pula Tiamah yang sengaja dibangun untuk tempat berdiskusinya para ahli agama. Bangunan tersebut terletak di halaman selatan Masjid Agung Banten. Bangunan ini dirancang oleh Hendrik Lucasz Cardeel, seorang arsitek Belanda yang masuk Islam.

Bergeser ke wilayah Keraton Surosowan terdapat Kelenteng Cina Kuni yang dibangun pada masa awal berdirinya Kesultanan Banten. Hal ini menunjukkan adanya toleransi yang terjadi pada masa itu, meski berdampingan dengan kerajaan Islam.

Baca Juga :  10 Ulama Tabi'in yang Diutus Berdakwah  ke Afrika Utara

Era Kemunduran

Seiring perjalanan masa pemerintahan pun melemah semenjak terjadi perang saudara antara Sultan Agung dengan putranya, Sultan Haji. Peperangan dimenangkan oleh Sultan Haji atas bantuan Belanda. Ini menjadi kesempatan bagi Belanda untuk turut terlibat dalam pemerintahan. Hingga pada akhirnya Belanda berhasil menghapus Kesultanan Banten di bawah tangan Gubernur Jendral Thomas S Raffles pada tahun 1811 M.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here