Kerajaan Sanhajiah: Kerajaan Islam Milik Pemuka Kaum Amazigh

1
495

BincangSyariah.Com – Setelah Mu’iz li Diinillah memutuskan untuk memindahkan markas utama Kerajaan Ubaidiyyah ke Mesir. Ia menunjuk Bulkin bin Ziri untuk memimpin Afrika Utara.

Setidaknya ada tiga alasan utama penunjukan Bulkin. Pertama, ia adalah pemuka suku Sanhaja. Diketahui suku ini telah memberikan banyak sumbangsih terhadap Dinasti Ubaidiyyah. Kedua, ia mengetahui persis keadaan Afrika Utara. Ketiga ia loyal terhadap Mazhab Syiah Ismailiyah.

Adapun Sanhaja menurut Ibnu Khaldun dalam kitabnya Diwanul Mubtada wal Khabar (Tarikh Ibn Khaldun) adalah kabilah dari bangsa Barbar (Amazigh) yang memiliki tingkat penyebarannya paling tinggi. Bahkan populasinya diperkirakan mencapai sepertiga dari seluruh bangsa Barbar.

Nasabnya bersambung pada Shonaak. Dalam bahasa Arab kalimat ini ditambahkan ha diantara nun dan alif menjadi Shonhaaj.

Bulkin bin Ziri: Pendiri Dinasti Sanhajiah

Bulkin bin Ziri dibaiat menjadi pimpinan Sanhajiah pada tahun 972 M. Dalam karirnya, sosok bergelar Abu Fath Yusuf ini pernah ditugaskan untuk merumuskan kota – kota besar terutama di sekitar Aljazair. Hal ini tidak lain karena ayah Bulkin, Ziri bin Manad pernah menjabat sebagai pimpinan wilayah tengah Afrika Utara yang bermarkas di Asyir.

Pengangkatan Bulkin bin Ziri, mendapat sorotan tajam dari sejumlah kabilah Barbar. Sebagian dari mereka diam-diam tidak menyetujui keputusan Muiz. Ditambah lagi perselisihan antar kabilah sudah lazim terjadi sejak dahulu kala. Hal ini sudah diprediksi Muiz sebelum keberangkatannya ke Mesir. Menurutnya perpindahan kekuasaan ini akan mendapat respon beragam baik positif maupun negatif.

Maka ia memberikan beberapa nasihat pada Bulkin diantaranya, menggunakan cara – cara yang lemah lembut, menghentikan penggunaan kekuatan militer untuk memperkokoh kekuasaan, dan membebaskan perempuan serta anak – anak yang pernah ditangkap. Semua ini bertujuan agar dapat membujuk lawan politiknya supaya mau bergabung dan bekerjasama.

Sayangnya, rencana ini tidak berjalan mulus. Pemberontakan terjadi di mana – mana. Bahkan beberapa wilayah dikudeta lawan politiknya. Masyarakat Baghaya membunuh pimpinannya sendiri.  Masyarakat Tiaret melakukan upaya – upaya pembangkangan. Dan musuh bebuyutan Bani Ziri, Bani Zenata hampir melakukan penyerangan terhadap Tlemcen.

Baca Juga :  Sejarah Pengangkatan Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq

Bulkin berhasil membereskan seluruh gerakan ini. Untuk memudahkan pengawasan, ia memindahkan Bani Zenata ke dekat istananya, Asyir. Ia juga membuat kebijakan keharaman Bani Zenata untuk menaiki dan membeli kuda, dengan ancaman hukuman mati.

Meskipun era Bulkin dipenuhi pemberontakan namun diakhir masa jabatannya ia berhasil menarik seluruh Maghrib kecuali Sabta kedalam wilayahnya. Ia wafat pada tahun 373 H, kepemimpinan lalu dilanjutkan oleh putranya Mansur bin Bulkin.

Mendirikan Kerajaan Islam di Granada Spanyol

Mansur bin Bulkin pemuda ahli berkuda ini dibaiat menjadi pimpinan selanjutnya di Masjid Agung Kairouan. Pada masanya ia pernah bertempur dengan paman – pamannya sendiri. Pertempuran antara keduanya tidak hanya terjadi di Maghrib namun hingga ke Spanyol.

Peristiwa ini berakhir dengan kesepakatan pendirian kerajaan di Granada untuk paman – pamannya. Mansur meninggal pada tahun 386 H, lalu digantikan oleh anak pertamanya Badis.

Perayaan besar – besaran dilakukan Badis di kota Mahdiah untuk merayakan hari pengangkatannya sebagai pimpinan Afrika Utara. Tidak hanya mengundang pejabat tinggi, para armada militernya pun diajak untuk hadir dalam acaranya tersebut.

Kemeriahan kegiatan ini juga dirasakan oleh kalangan bawah. Segelontor dana disedekahkan kepada fakir miskin dan orang – orang yang membutuhkan. Konon, pesta ini merupakan yang termegah di Afrika Utara kala itu.

Kerajaan Ziriah dan Hammadiah

Seperti situasi sebelumnya, era Badis tidak terlepas dari pemberontakan yang dilakukan musuh bebuyutannya, Bani Zenata. Kejadian ini terjadi pada tahun 388 H. Untuk menumpas gerakan ini, ia mengutus pasukan dibawah pimpinan pamannya, Hammad. Sang paman berhasil menyelesikan masalah ini dan menjadikan Qasnathiyyah sebagai posko utama.

Untuk memperkuat pertahanan ia membangun benteng bernama Qal’ah Bani Hammad yang kelak beralih menjadi pusat kerajaan Hammadiah. Badis menyesali keputusan yang telah ia buat, Hammad memang memenangkan pertempuran namun di sisi lain ia  menyatakan kemerdekaan dari kekuasaan Badis dan membuat kerajaannya sendiri, Hammadiah.

Baca Juga :  Kalender Masehi Tidak Sepenuhnya Milik Non-Muslim

Perselisihan ini berlanjut dengan peperangan antar dua kubu. Badis hampir memenangkan pertempuran jika saja ajal tidak menjemputnya secara tiba – tiba saat ia bermukim di Masila tahun 406 H. Sejak saat itu, kerajaan Sanhajiah terbagi menjadi dua. Bagian timur yang berpusat di Kairouan (Ziriah) dan bagian barat yang berpusat di Qal’ah Bani Hammad (Hammadiah).

Sepeninggal Badis, kepemimpinan Sanhajiah diberikan kepada Muiz bin Badis. Namun karena Muiz saat itu belum cukup umur, para pembesar Sanhajiah sepakat untuk memberikan jabatan tertinggi ke bibinya, Ummu Malam secara wisayyah yang artinya saat nanti Muiz sudah siap, jabatan tersebut akan diberikan kepadanya.

Adapun Ummu Malal adalah saudari Badis yang sudah sejak kecil mengasuh dan mendidik  Muiz. Dengan begitu, Ummu Malal adalah satu – satunya perempuan yang pernah menjabat sebagai pemimpin Afrika Utara di abad pertengahan.

Di era Muiz, ia melakukan gebrakan dengan peralihan dari Mazhab Syiah ke Mazhab Sunni dan membait dirinya untuk bergabung ke dalam Dinasti Abbasiyah. Muiz meyakini pemahaman Sunni dapat mempersatukan umat Islam Afrika Utara.

Pencapaian Kerajaan Sanhajiah

Afrika Utara khususnya kawasan Tunisia di masa Sanhajiah mengalami perkembangan pesat. Hal ini tidak terlepas dari tersedianya fasilitas fasilitas penunjang. Pertanian tumbuh subur, bahkan dengan kemampuan yang dimiliki tanah – tanah yang sebelumnya tidak terpakai dapat dimanfaatkan dengan baik.

Industri tidak lepas dari perhatian pemerintah. Untuk menyokong ekonomi, masyarakat menjual barang  hasil produksi lokal seperti pakaian dari berbagai jenis bahan seperti katun dan sutera.

Dengan dua komponen ini masyarakat Afrika Utara tidak hanya mampu menjual hasil produksinya di dalam negeri namun juga diekspor ke berbagai wilayah. Dengan begitu, harta kekayaan negara meningkat dan masyarakat pun semakin sejahtera. Situasi ini lalu mendorong warga untuk fokus  mempelajari ilmu pengetahuan.

Baca Juga :  Berteman dengan Orang Saleh Termasuk Riya Jika ...

Jika dulu fokus utama di arahkan untuk pembangunan infrastruktur seperti jembatan, imigrasi, masjid, istana , industri dan lain sebagainya. Maka di era Sanhajiah, Afrika Utara mengalihkan fokusnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan ilmu kodifikasi untuk pembinaan masyarakat umum.

Peralihan kekuasaan Sanhajiah telah berlangsung sebanyak delapan kali, namun menurut Hasan Husni Abdul Wahhab dalam Khulasat Tarikh Tunis era Badis dan putranya Muiz adalah dua era keemasan Sanhajiah.

Penyerangan bangsa Norman dan keruntuhan Sanhajiah

Pasca mengetahui Afrika Utara telah bergabung dalam Dinasti Abbasiyah, pemerintah Fathimiyyah Mesir mengutus pasukan gabungan untuk menyerbu Afrika Utara. Dalam catatan sejarah, pasukan ini terdiri dari 400.000 orang dari berbagai kabilah. Memang penyerangan ini tidak meruntuhkan Kerajaan Sanhajiah secara langsung, namun berakibat buruk terhadap kondisi sosial politik kerajaan.

Imbasnya, tahun 453 H saat Tamim bin Muiz menggantikan posisi ayahnya (Muiz bin Badis), wilayah Sanhajiah hanya tersisa di sekitar pesisir pantai Sousse hingga Gabes. Selebihnya, dikuasai kerajaan – kerajaan kecil. Dengan demikian, Afrika Utara sudah tidak lagi memiliki satu pusat pemerintahan.

Namun telah terbagi ke dalam kerajaan – kerajaan kecil (Muluk Thawaif) yang telah menyatakan kemerdekaannya masing – masing, persis seperti yang terjadi di Andalusia.

Mengetahui Afrika Utara yang mulai melemah, bangsa Norman melakukan ekspansi  menuju Mahdiah, basis Sanhajiah yang masih tersisa. Tamim bin Muiz tidak dapat melindungi wilayahnya, sehingga terpaksa membuat kesepakatan damai dengan membayar sejumlah upeti.

Ekspansi Norman tidak berhenti sampai disitu, mereka kembali menyerbu Mahdiah khususnya di era Ali bin Yahya. Diketahui, Ali bin Yahya ini memiliki hubungan buruk dengan raja Norman, Roger.

Meskipun beberapa kali kedatangan bangsa Norman dapat ditangkal, namun perlahan – lahan kondisi Sanhaji kian terpuruk. Puncaknya, pada tahun 543 H bangsa Norman dengan pasukan besarnya berhasil menguasai kota Mahdiah. Hilangnya basis kerajaan membuat Kerajaan Sanhajiah tidak dapat bertahan dan runtuh.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here