Kerajaan Islam di Zaragoza: Dari Banu Tajib sampai Bani Hud

0
744

BincangSyariah.Com – Kerajaan Islam di Zaragoza dianggap sebagai kerajaan penting dan berpengaruh di Mamalik at-Thawaif karena dua hal. Pertama, secara geografi Zaragoza memiliki wilayah yang luas. Ia meliputi beberapa wilayah yaitu, Tudela, Huesca, Barbastro, Lleida, Braga, Tarragona, Tortosa dan beberapa daerah yang dialiri sungai Ebro dari wilayah Tortosa sampai mendekati kota Kalahorra di wilayah Navarra.

Kedua, memiliki markas militer yang menjadi benteng pertahanan dari serangan Kerajaan Kristen. Lokasi markas ini terletak di tengah-tengah Kerajaan Kristen yaitu, Kerajaan Navarroh dari arah barat laut, Kerajaan Kastalia dari arah barat daya dan Kerajaan Catalunya dari arah timur. Strategi ini diterapkan untuk melindungi wilayah Zaragoza yang mendapat serangan terus-menerus.

Sebelum Zaragoza dikuasai oleh Bani Hud, wilayah ini dikuasai oleh Bani Tajib – yang sebagian wilayahnya di dataran rendah dikuasai oleh al-Manshur bin Amir dari Bani Amir – suku asli berbangsa Arab. Yahya bin Abdurrahman at-Tajibi, ialah pemimpin pertama dari Bani Tajib yang mulai berkuasa sejak tahun 989 M sampai wafatnya pada tahun 1017. Setelah wafatnya Abdurrahman, kekuasaan diteruskan oleh putranya, al-Mundzir bin Yahya. Ia dianggap sebagai pemimpin terkuat dari Bani Tajib di Andalusia.

Dalam mewujudkan perdamaian di wilayahnya, ia melakukan gencatan senjata dengan Kerajaan Kristen dan menghentikan pertikaian yang terjadi bertubi-tubi. Lalu al-Mundzir melakukan konsolidasi dengan beberapa Kerajaan Kristen yaitu dengan Ramon, pemimpin Barcelona, Sancho, pemimpin Kerajaan Navarra juga bersama anaknya Fernando I, pemimpin Kerajaan Kastalia, dan Alfonso V, pemimpin Kerajaan Leon. Cara ini ditempuh oleh al-Mundzir untuk meredam konflik dengan beberapa Kerajaan Kristen.

Kemudian pernah terjadi pertemuan antara Sancho dan Ramon yang bertujuan untuk menikahkan anaknya masing-masing. Acara tersebut dihadiri oleh dua pemuka agama Islam dan Kristen. Hal ini diketahui oleh umat Muslim dan mereka mengira bahwa pemimpin Muslim telah berkhianat dan tunduk pada Raja Kristen. Atas kemarahan dan tuduhan tesebut justru timbul kembali konflik dan serangan dari Kerajaan Kristen setelah sempat berhasil melakukan perdamaian antara beberapa Kerajaan Kristen. Umat muslim baru mengetahui bahwa hal tersebut ternyata hanyalah strategi al-Mundzir untuk mewujudkan kedamaian.

Baca Juga :  Pernah Mimpi Digigit Ular, Ini Maknanya Menurut Ibn Sirin

Al-Mundzir pada masa kepemimpinannya dianggap mampu mendirikan kerajaan dengan stabilitas politik yang aman. Sebab beberapa strateginya yang dilakukan dan hampir belum pernah dilakukan oleh pemimpin Islam pada masa itu di Mamalik at-Thawaif. Ia mendapat julukan al-Manshur dan memimpin Kerajaan Islam di Zaragoza sampai tahun 1023 M karena wafat. Kemudian digantikan oleh putranya, al-Mudhzoffar Yahya bin Mundzir sampai kewafatannya pada tahun 1029. Lalu diteruskan oleh putranya, al-Mundzir II bin Yahya yang dijuluki al-Hajib Mu’izz ad-Daulah dan inilah akhir kepemipinan dari Bani Tajib. Ia wafat karena dibunuh oleh sepupunya, Abdullah bin Hakim pada 1039 M. Namun penduduk Zaragoza mengetahui perangai buruknya, mereka berencana untuk membunuhnya. Sampai akhirnya Abdullah bin Hakim melarikan diri karena mengetahui rencana ini. Wilayah Zaragoza mengalami kekosongan pemimpin. Mereka meminta kepada Sulaiman bin Hud, penguasa wilayah Lleida. Di sinilah awal mula kekuasaan Bani Hud di Zaragoza.

Sulaiman bin Hud mulai menjadi pemimpin di Zaragoza di tahun yang sama setelah perginya Abdullah bin Hakim. Ia menguasai hampir seluruh wilayah di Provinsi Zaragoza kecuali Tortosa yang saat itu masih dikuasai oleh Bani ‘Amir. Salah satu prestasi terbesar dalam ranah politik yang dilakukan oleh Sulaiman bin Hud saat memimpin wilayah Zaragoza adalah membantu Kerajaan Islam di Toledo yang saat itu dipimpin oleh al-Ma’mun bin Zun Nun dari Bani Zun Nun. Saat itu Toledo diserang oleh dua Kerajaan Kristen, Kerajaan Navarra dan Kastalia. Konflik tersebut terus terjadi dan terhenti karena kewafatannya Sulaiman bin Hud pada tahun 1046 M. Kepemimpinan di wilayah Zaragoza diteruskan dan dibagi kepada kelima putranya yaitu, Ahmad, Yusuf, Muhammad, Lubba dan Mundzir.

Baca Juga :  Sejarah Islam di Andalusia; Ulama Berpengaruh Era Dinasti Juhur dan Keruntuhannya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here