Kerajaan Islam Bani Dzun Nun di Toledo

1
81

BincangSyariah.om – Para sejarawan menyebutkan bahwa Bani Dzun Nun merupakan bagian dari suku Barbar dan masih keturunan suku Hawaroh yang keturunannya tersebar di Afrika, Syiria dan Andalusia. Suku ini dinisbatkan kepada Zunun. Namun seiring berjalannya waktu penulisan Zunuun berubah menjadi Dzun Nun, dan akhirnya penulisan seperti inilah yang masyhur di kalangan suku Barbar. Menurut penuturan dua sejarawan Ibnu ‘Adzariy al-Marakisyi dan Ibnu al-Khatib Bani Dzun Nun tidak memiliki kekuasaan dan kepemimpinan kecuali pada masa Bani ‘Amiir sampai terjadinya kerusuhan dan runtuhnya kekhilafahan.

Pimpinan Wilayah Bani Umayyah Andalusia

Sebagian sejarawan ada yang menyebutkan bahwa pembesar atau nenek moyang dari Bani Dzun Nun sudah berperan sejak masa kekhalifahan Bani Umayyah dan mulai berkuasa sejak kekhalifahan Bani ‘Amir. Ibnu Hayyan (w. 886) menyebutkan bahwa Zunun, kakek dari Bani ini memimpin wilayah Ucles saat kekhalifahan Muhammad bin Abdurrahman al-Awsath, Khalifah Bani Umayyah kelima.

Pada masa kepemimpinan al-Hakam al-Mustanshir Billah ia memberikan kekuasaan wilayah Santa Maria kepada Zunun. Sejak itulah mulai nampak kekuasaan Zanun dan keturunannya. Ia berupaya untuk melakukan tindakan separatis, melepaskan diri dari kekuasaan Bani Umayyah. Mereka melakukan pendudukan di wilayah Baqla’ah Rabah yang dilakukan Musa bin Dzun Nun pada masa kepemimpinan Khalifah Abdurrahman III. Mereka mengirim pasukan bersenjata dan berupaya menyerang kekhalifahan.

Mendirikan Kerajaan Sendiri

Bani Dzun Nun terus melakukan penaklukkan di beberapa wilayah sampai akhirnya terjadi keruntuhan Bani Umayyah dan Bani Amir yang menjadi awal mula hancurnya khilafah. Muncullah Abdurrahman bin Ismail bin Dzun Nun yang telah menguasai Santa Maria lalu putranya, Ismail. Ia juga terus melakukan penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan Islam di sekitarnya. Ibnu Hayyan menyebutkan bahwa Ismail merupakan pemimpinan yang pelit, tidak mau menyedekahkan hartanya, tidak menjamin kehidupan para ilmuwan dan sastrawan.

Baca Juga :  Lawāmi‘ul Burhān wa Qawāṭi‘ul Bayān: Kitab Penolak Gerakan Anti-Mazhab dari Solo

Diminta Memimpin Wilayah Toledo

Sejak mula terjadinya konflik di Andalusia dan runtuhnya kekhalifahan, wilayah Toledo tidak memiliki pemimpin. Toledo sempat dipimpin oleh Abu Bakr Ya’isy bin Muhammad bin Ya’isy al-Asadi yang memimpin dengan zalim hingga akhirnya ia diasingkan dan pergi menuju Calatayud hingga wafat di sana pada tahun 1027 M. Kemudian digantikam Abdurrahman bin Matyuh sampai wafat dan diteruskan oleh putranya, Abdul Muluk bin Abdurrahman bin Matyuh namun kepemimpinannya tidak berjalan baik.

Lalu para pembesar dan tokoh di Toledo berkumpul untuk merundingkan siapa yang pantas menjadi pemimpin Toledo. Mereka akhirnya memutuskan untuk mengirim surat kepada penguasa Santa Maria, Abdurrahman bin Dzun Nun. Ia lalu mengutus putranya, Ismail. Baginya, ini menjadi kesempatan emas untuk menguasai wilayah Andalusia lebih luas. Ismail pun menuju Toledo pada tahun 1036 M.

Ismail mulai menguasai Toledo dan menjalankan roda pemerintahan dengan mengangkat Abu Bakar bin al-Hadidi sebagai penasihat kerajaan. Ia merupakan sosok ulama yang cerdas, kritis dan bijaksana. Abu Bakar juga adalah sosok yang begitu dicintai oeh penduduk Toledo. Tetapi Ismail bersifat arogan. Saat ia akhirnya diserahkan untuk memegang Ucles dan Toledo oleh ayahnya, ia justru berusaha untuk melepaskan diri dari kepemimpinan ayahnya dan berupaya membangun kerajaan sendiri. Ia justru melakukan perluasan wilayah ke beberapa kerajaan Islam sekitarnya. Kepemimpinan Ismail tidak berlangsung lama, hanya berlangsung selama 7 tahun sebab ia wafat pada 1043 M. setelah ia wafat kepemimpinan diteruskan oleh putranya, Yahya bin Ismail yang dijuluki al-Ma’mun.

 

Ikuti terus tulisan terbaru tentang ANDALUSIA disini.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here