Kerajaan Goa: Kerajaan Islam Pertama di Sulawesi

0
1425

BincangSyariah.Com – Terdapat beberapa kerajaan tua dan besar di Sulawesi Selatan, di antaranya ialah Kerajaan Luwu, Bone dan Goa. Kerajaan Goa berdiri sejak abad ke-13, namun penetapan agama Islam sebagai agama yang berlaku di kerajaan ini dimulai pada abad ke-16. Ketetapan tersebut lahir pada masa pemerintahan Sultan Alauddin (1593-1639).

Ibu kota Sulawesi Selatan mulanya bernama Sombu Opa, lalu berubah menjadi Makassar. Pada masa kejayaannya, wilayah kekuasaannya sampai ke daerah Manado, Sumbawa, Gorontalo, dan Tomini. Kerajaan ini memiliki pelabuhan yang akhirnya menyebabkan kerajaan ini memiliki hubungan internasional yang luas karena ia menjadi bandar perdagangan internasional.

Belajar Islam dengan Ulama Minang, Berperang dengan Kerajaan Tetangga

Sultan Alaudin adalah raja Islam pertama di Kerajan Goa. Ia memeluk Islam pada September 1605 setelah menerima dakwah dari Dato’ ri Bandang, ulama terkemuka di Minangkabau.

Pada tahun 1607 Sultan Alauddin mengumumkan dekrit yang mengharuskan warga Goa dan Tallo memeluk Islam, ia menyeru kerajaan tetangganya di Sulawesi (Bone, Soppeng, dan Wajo) agar memeluk agama Islam juga. Namun ketiganya menolak dan menimbulkan peperangan. Peperangan ini dikenal dengan nama Musu Selleng, yakni perang Islam.

Dari ketiga kerajaan yang dibujuk tersebut, hanya raja Bone yang mau memeluk agam Islam (1611). Dari situlah akhirnya sebagian besar penduduk Sulawesi beragama Islam.

Kejayaan Kesultanan Goa tidak bertahan lama semenjak sering terjadinya peperangan dengan Belanda. Belanda berupaya untuk merebut wilayah Goa, sedangkan di saat yang bersamaan Sultan Alauddin menghimpun kekuataan bersama kerajaan-kerajaan yang lain. Peperangan tersebut terus berlangsung selama kurun waktu 1666-1669. Perang tersebut dikenal dengan perang Makassar.

Perjanjian Bongaya: Kesepakatan Goa dengan VOC

Baca Juga :  Gus Dur dan Radikalisme

Pada tahun 1667 lahirlah perjanjian Bongaya yang mengakibatkan perubahan politik di kawasan timur Indonesia. Perjanjian tersebut berisi perdamaian antara Kesultanan Goa yang diwakili oleh Sultan Alauddin dengan pihak VOC (kompeni) yang diwakili oleh Laksamana Cornelis Speelman. Meski disebut perjanjian perdamaian sebenarnya perjanjian ini justru merugikan kerajaan dan penduduk Goa saat itu.

Dalam perjanjian Bongaya disebutkan bahwa Belanda memperoleh hak berdagang di pelabuhan Makassar; Uang Belanda dijadikan mata uang resmi dalam tranksaksi; Belanda diperbolehkan mendirikan Benteng Fort Rotterdam; dan hampir seluruh wilayah Goa diserahkan kepada musuhnya, Aru Palaka, dari Kerajaan Bone. Semua isi perjanjiannya sangat merugikan Goa dan menguntungkan Belanda. Namun ternyata perjanjian tersebut tidak mampu meredamkan konflik antara Goa dengan VOC. Terbentuklah sebuah persekutuan untuk melawan Belanda yang diinisiasi oleh bangsawan Goa bernama Karaeng Karunrung bersama dengan Turatea, Bantaeng, Bulukumba, Luwu, Sumbawa, dan orang Melayu di Makassar. Belanda merasa kewalahan dan meminta bantuan ke pihak Batavia.

Konflik dengan Belanda Terus Menerus

Pada pertempuran berikutnya itu, pihak Belanda berhasil menembus benteng pertahanan Kerajaan Goa yang masih dipimpin Sultan Alaudin kala itu. Benteng tersebut bernama Sumba Opu yang diterobos oleh Belanda pada tanggal 12 Juni 1669. Sultan Alaudin akhirnya mengundurkan diri dari takhta kerajaan lalu wafat pada 12 Juni tahun 1670. Kepemimpinan kemudian diteruskan oleh putranya bernama Sultan Amir Hamzah. Semenjak terjadi peperangan dengan Belanda dan upaya Belanda untuk merebut wilayah Goa stabilitas pemerintahan terus menurun. Belanda tak henti-hentinya melakukan pemaksaan dan penindasan terhadap penduduk Goa. Mereka melakukan eksploitasi terhadap sumber daya alam di Sulawesi.

Kesultanan ini bertahan sampai abad ke-20. Namun kerajaan ini berada di bawah pengawasan pemerintahan kolonial Belanda. Mereka sempat memberhentikan Sultan Husain Tuminag ri Bundu’na sebagai raja secara paksa karena ia melakukan perlawanan kepada pemerintah Hindia Belanda pada 1905. Pada akhirnya ia wafat pada tahun 1906 akibat jatuh di Bundukma, dekat Enrekang. Kemudian pemerintahan di kerajaan masih berlangsung dan diteruskan oleh Sultan Muhammad Abdul Kadir Aiduddin. Ia menjadi raja terakhir karena akhirnya setelah Indonesia merdeka, Goa bergabung dengan Indonesia pada tahun 1946 . Ia mendeklarasikan diri sebagai raja terakhir sekaligus Bupati pertama Goa.

Baca Juga :  Tips Memuliakan Kitab Ala Ta'lim Muta'allim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here