Kerajaan Bani al-Afthos: Penguasa Wilayah Badajoz, Spanyol

0
53

BincangSyariah.Com – Kerajaan Islam yang menguasai Badajoz pada era Muluk at-Thawaif (Kerajaan-Kerajaan Kecil) ialah Bani al-Afthos. Badajoz adalah provinsi yang kini menjadi wilayah otonom Spanyol dan terletak di sebelah utara Sevilla. Kekuasaan ini berlangsung selama kurang lebih 70 tahun.

Kisah kerajaan Bani Al-Afthos ini dimulai dari kisruh politik yang terjadi di akhir pemerintahan al-Hakam al-Mustanshir Billah (Hakam II) di Dinasti Umayyah II. Saat itu ada seorang bernama Saphur al-Farisi yang menjadi gubernur untuk wilayah Portugal. Ia terkenal sebagai pemimpin yang berani dan ahli dalam berperang. Konflik yang meruncing menjadi kesempatan baginya untuk melakukan tindakan separatis. Sampai akhirnya ia benar-benar melakukan tindakan itu dan menguasai wilayah Portugal sendirian.

Ia kemudian mengangkat Abdullah bin Muhammad bin Maslamah al-Afthos menjadi menterinya untuk membantu mengurusi perpolitikan dan berbagai keperluan wilayah kekuasaannya di Portugal. Tak lama setelah Saphur menguasai Portugal pada tahun 1022 ia wafat dan meninggalkan dua orang putra, Abdul Muluk dan Abdul Aziz yang belum mencapai usia baligh dan tidak mungkin untuk mewarisi kekuasaan Ayahnya. Pada kesempatan itu justru Muhammad al-Afthos mempublikasikan akan kekuasaannya yang independen, tidak terikat lagi dengan keturunan Saphur untuk menguasai wilayah Portugal secara penuh.

Abdullah bin Muhammad bin Maslamah al-Afthos atau lebih dikenal dengan sebutan Muhammad al-Afthos berasal dari sebuah suku yang bermukim di Maroko dan dalam kitab sejarah tidak banyak ditemukan riwayat aslinya. Namun ia dikenal berasal dari suku yang ahli dalam perpolitikan. Maka tidak asing kalau ia juga terkenal sebagai politikus dan memiliki kemampuan dalam bidang militer. Ia mampu menahan serangan politik eksternal yang berasal dari penguasa Sevilla, Bani Abbad dan Toledo oleh Bani Dzun Nun. Pada masa-masa Muluk at-Thawaif seringkali terjadi persaingan politik dan perebutan wilayah. Ini menjadi masa-masa pecahnya umat Islam akibat perebutan kekuasaan.

Baca Juga :  Mimpi Melihat Bulan: Antara Pertanda Baik dan Buruk

Saat kekuasaannya mulai meluas hingga Badajoz, ia makin memperkuat strategi pertahanan politiknya dengan terus memantau kerajaan-kerajaan Islam di sekitarnya, termasuk Bani Abbad yang menguasai Sevilla. Saat kerajaan Islam Bani Abbad yang dipimpin oleh al-Qadhi Ibnu Abbad menguat, ketakutan akan tersaingi yang dimiliki oleh Muhammad al-Afthos pun bertambah.

Akhirnya ia benar-benar melakukan penyerangan kepada Dinasti Bani Abbad pada tahun 1030 M. Penyerangan itu justru berujung pada penangkapan Muhammad al-Afthos meski akhirnya ia kemudian dibebaskan. Empat tahun kemudian ia kembali melakukan penyerangan yang bertujuan untuk melemahkan kekuasaan Ibnu Abbad. Penyerangan kali ini berhasil dan melemahnya kekuasaan Bani Abbad juga disebabkan penyerangan Suku Barbar.

Kedua putra Saphur ternyata masih berupaya untuk merebut kembali kekuasaan yang direbut oleh Muhammad al-Afthos dari ayahnya. Ia melakukan penyerangan dari Lisboa, bagian wilayah Portugal yang sudah menjadi wilayah kekuasaannya. Pemberontakan yang dilakukan dengan menggaet penduduk Lisboa tersebut tidak berlangsung lama karena Abdul Aziz, salah satu dari putra Saphur wafat. Digantikanlah ia oleh Abdul Muluk, namun ternyata ia tak cakap dalam urusan perpolitikan dan militer.

Muhammad al-Afthos tentu tidak diam, ia lalu mengirimkan utusan beserta pasukan militer ke Lisboa dan melakukan diplomasi dengan penduduk di sana tanpa terjadi pertempuran. Abdul Muluk pun akhirnya pergi meninggalkan Lisboa dan menuju Cordoba. Di sana ia memohon izin kepada menteri Dinasti Juhur agar diperkenankan tinggal. Hinggalah ia menetap di sana sampai wafat.

Konflik yang terjadi pada masa kepemimpinan Muhammad al-Afthos saat kali pertama mendirikan kerajaan Islam seringkali berasal dari luar dan mampu diatasi olehnya. Ia terus menjaga stabilitas politik negara dan melakukan perluasan wilayah sampai akhirnya ia wafat pada 1045 M dan kepemimpinan diteruskan kepada putranya, Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Maslamah al-Afthos dan lebih dikenal dengan julukannya, al-Muzhoffar.

Baca Juga :  Jejak Islam di Spanyol Selama Tujuh Abad

*diolah dari kitab Qishhoh al-Andalus karya Raghib as-Sirjani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here