Kerajaan Aghlabiah: Kerajaan Islam yang Mampu Taklukan Laut Mediterania

2
198

BincangSyariah.Com – Terbentuknya Kerajaan Aghlabiah berawal dari rasa ketidakpuasan publik terhadap kepemimpinan Gubernur Afrika Utara, Muhammad al-‘Akki. Kemarahan warga kian bertambah  ketika al-‘Akki diduga menjadi penyebab wafatnya Buhlul bin Rasyid, seorang pembesar Ulama Maliki yang sangat di cintai masyarakat.

Al-‘Akki pun dimakzulkan dari kursi kepemimpinan dan digantikan oleh Ibrahim bin Aghlab atas permintaan Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Muhammad bin Aghlab dan pendirian Kerajaan Aghlabiah

Sebelum menduduki kursi kepemimpinan, Ibrahim bin Aghlab dikenal sebagai sosok panglima Muslim yang mampu manstabilkan area – area sarat konflik. Ia diketahui pernah diutus untuk memimpin wilayah Zab dan Biledulgerid.

Ibnu ‘Adzari dalam karyanya Bayan al- fi Akhbar al-Maghrib wa Andalus menceritakan bahwa selain piawai dalam bidang militer, Ibrahim bin Aghlab adalah seorang faqih, penyair, orator ulung dan penghafal Al-Qur’an. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang peduli terhadap masyarakatnya. Sifat – sifat mulianya ini yang kemudian membuat masyarakat Barbar menaruh hormat dan taat kepadanya.

Disisi lain, Khilafah Abbasyiah sedang disibukan dengan situasi sulit akibat dikepung permasalahan baik itu secara internal maupun eksternal. Di satu sisi mereka harus menghadapi kaum Zindiq dan pergerakan Alwiyyin, dan di waktu bersamaan juga harus mengamankan wilayahnya dari serangan Bizantium.

Dengan kondisi demikian, pejabat tinggi Abbasiyah lebih memfokuskan diri untuk menstabilkan wilayah pusat (Masyriq),  dibanding memperhatikan wilayahnya lainnya yang berada di Maghrib.

Dalam perjalanan karirnya, Ibrahim bin Aghlab sering kali membantu pemerintah Abbasiyah dalam menyelesaikan masalah – masalah genting. Seperti saat penumpasan  pemberontakan Idrisiyah dan Tamam At-Tamimi. Hal ini yang kemudian membuat Ibrahim bin Aghlab dengan dukungan rakyatnya meminta Harun Ar-Rasyid untuk memberikan wilayah Afrika Utara kepadanya.

Harun Ar-Rasyid sebagai Khalifah memberikan izin atas semi kemerdekaan Afrika Utara dengan sejumlah pertimbangan. Pertama, situasi pemerintahan pusat sedang tidak stabil, sehingga menjadi prioritas adalah mengelola wilayah pusat.

Kedua, sosok Ibnu Aghlab diketahui berbudi pekerti luhur dan setia terhadap pemerintah Abbasyiah, sehingga dapat meyakinkan Khalifah bahwa Afrika Utara akan tetap menjadi bagain dari Dinasti Abbasiyah.

Baca Juga :  Tafsir Surah Yusuf 25-29; Pembelaan Nabi Yusuf atas Tuduhan Perbuatan Mesum

Ketiga, Afrika Utara dihuni oleh masyarakat plural, yang terdiri dari suku dan aliran keagamaan yang sangat beragam.  Sehingga butuh tenaga ekstra dalam mengatur wilayah ini. Dilihat dari sepak terjangnya, sosok Ibnu Aghlab diyakini sebagai kandidat yang pas untuk mengelola wilayah dengan karakteristik tersebut.

Ini bukan berarti kerajaan Aghlabiah merdeka secara penuh. Karena secara administratif Aghlabiah masih berada di dalam wilayah kekuasaan  Abbasiyah, hanya saja mereka memiliki sebagian besar otoritas dalam mengelola negaranya.

Ibnu Aghlab mampu memenuhi ekspektasi Khalifah. Bahkan, untuk meyakinkan eksistensi pusat kekhilafan di Baghdad, ia membangun istana bernama al-‘Abbassiyah (Qasr Qadim) tiga meter dari Kairouan.

Dibawah kekuasaan Kerajaan Aghlabiah kondisi carut marut Afrika Utara berangsur stabil

Di awal masa kepemimpinan, Ibnu Aghlab sudah mendapat ujian besar. Ia tengah dihadapkan dengan persoalan mengenai konflik kesukuan antara bangsa Arab dengan suku non Arab khususnya Barbar.

Meskipun permasalahan ini cukup berbelit karena telah berlangsung dari masa ke masa, panglima yang sarat akan pengalaman itu mampu menyatukan kelompok – kelompok yang sebelumnya terpecah ini ke dalam satu komando pusat.

Pemberontakan yang sebelumnya marak terjadi pun, berangsur – angsur surut. Gerakan – gerakan berbahaya dari kelompok Khawarij terus ditekan, hingga kekuatan dari kelompok ini menyusut darstis.

Penekanan ini dilakukan karena kelompok Khawarij sering melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Afrika Utara yang beraliran Maliki Sunni dan terhadap pemerintahan Abbasiyah pada umumnya.

Upaya perlawanan terhadap doktrinisasi Khawarij terus digembleng. Pola pikir masyarakat tentang pentingnya persatuan tidak henti – hentinya dipupuk melalui peran para pemuka agama. Dalam hal ini Ibrahim bin Aghlab bahu membahu bersama Ulama – ulama Maliki.

Sehingga perlahan – lahan situasi Afrika Utara berangsur kondusif dan stabil. Hal ini mendorong peradaban Islam di benua hitam ini hari demi hari kian berkembang.

Aghlabiah berhasil kuasai wilayah – wilayah di Laut Tengah

Muhammad Zainahum Muhammad Azb dalam kitabnya Tarikh Mamlakah al-Aghalibah Li Ibni Wardan memaparkan dalam kurun waktu sekitar 112 tahun, perpindahan kekuasaan kerajaan Aghlabiah telah berlangsung sebanyak sepuluh kali.

Baca Juga :  Tafsir Mimpi Orangtua Meninggal Menurut Ulama

Namun menurutnya kerajaan yang didirikan pada tahun 184 H ini mencapai masa keemasannya di era Ibrahim bin Aghlab dan putranya Ziyadatullah I. Fondasi ketahanan ekonomi Aghlabiah dibangun di dua era ini, yang secara langsung berpengaruh terhadap pencapaian – pencapaian Aghlabiah di masa selanjutnya.

Sumber sejarah Islam mencatat, kerajaan Aghlabih berhasil menorehkan catatan emas dalam sejarah umat Islam. Diantarnya,  mampu memperluas wilayahnya hingga menembus laut Mediterania, industri dan teknologi khususnya  dibidang kelautan dan persenjataan mengalami kemajuan pesat serta berhasil mencetak salah satu armada laut paling kuat yang pernah dimiliki umat Islam.

Sebagaimana telah diketahui, di abad pertengahan laut tengah menjadi primadona sebab letaknya yang  menghubungkan tiga benua sekaligus. Lautan ini pun menjadi lintasan utama perdagangan internasional. Maka sejak dulu, area ini menjadi rebutan sejumlah negara adidaya. Tentu saja, hal ini tidak terlepas dari perhatian umat Islam.

Jika melihat sejarahnya, upaya penaklukan area sekitar laut tengah memang telah dilakukan jauh sebelum kerajaan Aghlabiah didirikan, namun tidak berjalan dengan maksimal. Umat Muslim baru dapat menguasai laut tengah secara sempurna pada masa Dinasti Aghlabiah. Diantara wilayah penting yang pernah ditaklukan adalah Malta dan Sisilia, Italia.

Aghlabiah menjadi pusat perdagangan terbesar di barat Laut Mediterania

Secara otomatis Laut Tengah sebagai jalur perdagangan internasional menjadi katrol bisnis Kerajaan Aghlabiah. Keuntungan yang didapat melimpah ruah. Bahkan menjadi berkali – kali lipat dengan dibangunnya industri  dan sejumlah pelabuhan di pesisir Afrika Utara.

Adapun barang dagang yang dijual merupakan hasil produksi lokal. Saat itu, sektor industri sudah mampu memproduksi dalam jumlah besar. Hasil produksinya  kemudian disebar di beberapa titik termasuk diekspor ke sejumlah wilayah seperti beras dan jemawut ke Alexandria, budak ke Syam dan produk – produk tekstil ke Baghdad.

Tidak hanya mengekspor, para pedagang juga dapat diuntungkan karena dapat mengimpor hasil tani dari Masyriq seperti kapas dan tebu. Kemanan pasar pun dijamin, sehingga para pedagang maupun pembeli yang datang tidak merasa khawatir akan adanya perampokan. Dengan kondisi demikian, kerajaan Aghlabiah tumbuh menjadi pusat perdagangan terbesar di barat Laut Mediterania.

Baca Juga :  Islam Kafah Menurut Pandangan Ibnu Khaldun

Selain bidang sosial politik serta kelautan, Aghlabiah juga dikenal akan kontribusinya dalam pembangunan infrastruktur negara.

Kerajaan ini turut merekonstruksi dua masjid bersejarah, Masjid Agung Uqbah bin Nafi’ di Kairouan dan Masjid Agung Zaitunah di Tunis. Kubah antik dari kedua masjid ini tidak lain adalah hasil karya Kerajaan Aghlabiah. Dinasti ini juga membangun salah satu masjid paling bersejarah di Afrika Utara, Masjid Agung Sousse beserta benteng pelindung yang dikenal sekarang dengan nama Qasr Ribath.

Sementara dalam bidang pertanian,   kerajaan Aghlabiah membangun industri perairan di seluruh wilayahnya untuk memudahkan pendistribusian air menuju kebun – kebun warga.

Keruntuhan Kerajaan Aghlabiah

Cikal bakal penyebab keruntuhan Aghlabiah tidak lain adalah adanya keretakan didalam tubuh pemerintahan.

Gubernur Abdullah II terlibat perseteruan dengan anaknya, Abu Mudhar Ziyadatullah (Ziyadatullah III).  Ia dijebloskan ke penjara oleh ayahnya karena tertangkap telah menyalahgunakan jabatanya saat menjadi gubernur di Sisilia, Italia. Tidak terima akan hal itu, ia mengirim utusan untuk menangkap ayahnya. Akibat peristiwa itu, kekuasaan Afrika Utara beralih menjadi milik Ziyadatullah III.

Di sisi lain, di sebuah pegunungan satu kelompok baru beraliran Syiah muncul. Tak disangka, kelompok ini mendapat dukungan penuh dari masyarakat sekitar. Jumlah pengikutnya pun semakin membeludak.

Dalam waktu singkat, kelompok yang merupakan cikal bakal Kerajaan Fathimiyyah ini berhasil menyudutkan Ziyadatullah III dengan menaklukan satu persatu wilayahnya. Ziyadatullah tidak lagi memiliki kekuatan militer yang cukup kuat untuk menghadapi Hasan as-San’ani, panglima Syiah.

Dinasti pusat Abbasiyah pun tidak dapat berbuat banyak, sebab mereka sendiri sedang berada dalam kondisi terpuruk.

Pertempuran terakhir dari dua kubu terjadi pada tahun 909 M, di wilayah Arbis. Pertempuran ini dimenangkan oleh kubu Hasan as Sana’ni. Ziyadatullah III mencoba untuk menyelamatkan diri menuju Mesir dan Syam. Namun di tengah perjalanan ia meninggal. Kerajaan Aghlabiah runtuh bersamaan dengan wafatnya raja terakhir, Ziyadatullah III.

2 KOMENTAR

  1. […] Siapa sangka, ajaran Syiah yang sebelumnya tertolak di beberapa wilayah Islam, mendapat simpati besar dari kalangan masyarakat Mahdiah. Dinasti kecil itu pun, tak di sangka – sangka berkembang pesat hingga secara mengejutkan dapat menggulingkan kekuatan besar dinasti Aghlabiah. Dinasti Aghlabiah sendiri beraliran Sunni yang kala itu dianut oleh mayoritas masyarakat Afrika Utara. (Baca: Kerajaan Aghlabiah: Kerajaan Islam yang Mampu Taklukan Laut Mediterania) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here