Kenikmatan Berinteraksi dengan Allah

4
25

BincangSyariah.Com – Syekh Al-Imam Ahmad  Ar-Rifa’i Al-Kabir dalam karyanya Halatu Ahli Al-Haqiqati Ma’allahi Ta’ala (juz 1, hlm 58) menjelaskan tentang kenikmatan berinteraksi dengan Allah. Ia mengisahkan dialog Yahya bin Muad Ar-Razi dengan temannya.

Pada suatu hari Yahya bin Muad Ar-Razi ditanya beberapa pertanyaan oleh temannya tersebut. Yang menarik dari jawaban Yahya bin Muad Ar-Razi semua terkait tentang kenikmatan berinteraksi dengan Allah (ladzati aisyi ma’allahi).

Apa tanda-tanda hati yang bersih? Ia menjawab: “Hati yang tidak tergiur dengan kenikmatan dunia.”

Hal apakah yang dapat menenangkan jiwa? Ia menjawab: “Mengingat Dzat Yang Maha Hidup yang tidak akan mati untuk selamanya.”

Apa itu kejujuran?  Ia menjawab:  “Meninggalkan hal yang berkaitan dengan adat kebiasaan orang pada umumnya.”

Apa itu kerinduan? Ia menjawab: “Perhatian yang lebih.”

Apa tanda-tanda orang yang berupaya dekat dengan Allah? Ia menjawab: “Tidak merepotkan dirinya dengan urusan manusia.” Kapan seorang hamba sampai pada derajat wali (kekasih Allah)? Ia menjawab: “Bila hatinya dikosongkan dari segala sesuatu selain Allah.”

Hal apakah yang dapat menyenangkan? Ia menjawab: “Memasrahkan diri kepada Allah.” Apa hakikat dari penempatan janji? Ia menjawab: “Kejujuran dan Ketulusan.”

Apa tanda-tanda seseorang mendapatkan hidayah? Ia menjawab: “Orang yang benar-benar bertakwa kepada Allah.” Siapakah orang yang terasing? Ia menjawab: “Orang yang tidak dapat kebagian cinta-Nya.”

Amal apakah yang paling utama?  Ia menjawab: “Dzikir dalam setiap keadaan.” Apa penghalang hati? Ia menjawab: “Merasa cukup terhadap budak atau hamba sahaya.” Apakah kebutuhan yang agung atau besar itu? Ia menjawab: “Keabadian seorang manusia bersama Tuhannya.”

Bagaimana kehidupan yang bahagia itu? Ia menjawab: “Hidup bersama Dzat Yang Maha Agung.”

Siapakah yang dicintai Allah? Ia menjawab: “Orang yang mengenal Allah.” Siapa orang yang mulia di sisi Allah? Ia menjawab: “Orang yang mencari kemuliaan pada Dzat Yang Maha Mulia.”

Apa itu kebodohan? Ia menjawab: “Orang yang menyia-nyiakan umurnya.” Apa kesenangan dunia itu? Ia menjawab: “Perkara yang dapat melalaikanmu pada tuhanmu.”

Kita ambil hikmah dari kisah di atas, bahwa sesorang akan meraih kebagian di dunia dan akhirat, bila ia bertakwa kepada Allah, dan seluruh hidupnya bergantung kepada Allah SWT. Tapi ia tidak lupa berikhtiar maksimal. Wallahu A’lam Bissawab

Celengan Pemuda Tersesat
Celengan Pemuda Tersesat
100%

4 KOMENTAR

  1. yang dimaksud dengan “merasa cukup terhadap budak atau hamba sahaya” itu bagaimana penjelasannya?
    terimakasih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here