Kenapa Tradisi Kesukuan di Arab Sangat Kental?

0
709

BincangSyariah.Com – Bangsa Arab adalah bangsa penyair yang fanatik terhadap kabilahnya masing-masing. Hal ini menjadi salah satu faktor eksistensi tradisi al-ayyam, puisi tentang hari-hari besar atau peperangan mereka, maka dari itu mengetahui silsilah kabilah merka atau yang dikenal dengan sebutan al-ansab, merupakan hal penting. Sebab peperangan seringkali terjadi disebabkan perselihan antar kabilah. Makanya, sejak zaman bangsa Arab kuno hingga sekarang tradisi kesukuan di Arab sangat kental.

Abdul Mun’im al-Ghulamy dalam kitab Al-Ansab wa al-Usar menjelaskan, nasab atau silsilah keturunan merupakan perkara penting bagi Arab. Dengan nasab, hak-hak manusia ditegakkan dan dipelihara. Silsilah keturunan juga menggambarkan kebanggaan seseorang terhadap kabilahnya. Melupakan silsilah keturunan sama halnya melupakan asal usul mereka sendiri, karena pada darah mereka ada keringat kabilahnya. Perhatian orang Arab yang besar terhadap nasab mendorong kuatnya ‘ashabiyah atau fanatisme suku dan munculnya kelas-kelas sosial.

Menurut Abu al-Hasan bin Ahmad bin Ya’qub dalam Kitabu al-Iklil, setelah sebagian silsilah keturunan Arab terbukukan,  ditemukannya data pembukuan silsilah keturunan di Yaman. Fenomena peperangan yang sering terjadi antar kabilah mendorong mereka membukukan data-data silsilah keturunan kabilahnya agar dapat menjaga setiap anggota kabilahnya.

Jawwad Ali dalam Al-Mufashshal fi Tarikh al-‘Arab qabla al-Islam memaparkan bahwa seorang sejarawan arab, Ibnu al-Nadim, mengkhususkan satu bab dalam kitabnya yang menerangkan tentang ahlu berita atau ahli sejarah dan ahli nasab. Pada bab itu disebutkan beberapa nama yang terkenal banyak menghafal nasab, terutama yang pernah menyusun karya tentang nasab. Salah satu yang disebut namanya oleh al-Nadim telah masyur namanya di Iraq dan sekitarnya. Rata-rata yang terkenal itu adalah orang-orang perkotaan.

Padahal di kalangan orang-orang Badui ada sekelompok orang ahli nasab yang namanya tidak terkenal di lingkungan sehingga kabar tentang mereka tidak sampai pada al-Nadim, karena kebanyakan mereka tidak menghasilkan karya tulis tentang nasab, tetapi lebih pada menghafalkan karya tulis tentang nasab, tetapi lebih pada menghafalnya dengan baik. Tradisi al-ansab tidak menyebar pada sejarah umumnya yang meliputi setiap kabilah, karena mereka pada saat itu memang belum mengenal tanah air.

Baca Juga :  Tiga Ilmu yang Harus Dipelajari Umat Muslim

Bagaimanapun, dua tradisi ini; al-ayyam dan al-ansab, sangat berperan penting dalam mengkonsolidasikan ingatan mereka terhadap sejarah. Secara umum menjadi bukti kesadaran bangsa Arab terhadap sejarah kehidupan mereka, walaupun kesadaran itu belum tentu ada pada setiap individu dan memang orang Arab kuno belum mengetahui pengetahuan tentang sejarah.

Dalam menyerap informasi, bangsa Arab kuno sangat bergantung pada kekuatan hafalan. Di samping karena dianggap lebih terhormat, kebanyakan mereka buta bahkan anti huruf. Tradisi al-ayyam dan al-ansab berkontribusi dalam menguatkan ingatan mereka tentang peristiwa bersejarah di masa lampau

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here