Kemunduran Sains dalam Dunia Islam Akibat al-Ghazali, Benarkah?

0
112

BincangSyariah.com – Tidak kurang dari 500 tahun peradaban Islam pernah berdiri di puncak kemajuan ilmu pengetahuan dan Sains. Namun perlu diingat bahwa episentrum perkembangan sains tidak persis terjadi di kawasan Arab, tetapi ia terjadi di Baghdad dan Andalusia. Setelah dunia melangkahi abad ke-13, kegemilangan ini meredup. Kemunduran sains dalam dunia Islam tampak begitu nyata.

Kebangkitan Eropa mengkudeta posisi puncak keemasan ini hingga sekarang. Sebuah pertanyaan besar pun diajukan untuk masalah ini, baik di internal umat Islam maupun di kalangan para orientalis dan saintis Eropa. (Baca: Sejarah Memahami Hadis Dengan Perspektif Sains)

Nama Imam Al-Ghazali pun menyeruak dalam pusaran pertanyaan ini. Bagaimana tidak? Dalam penilaian banyak orientalis dan saintis Eropa, Al-Ghazali diposisikan sebagai orang yang bertanggungjawab atas kemunduran sains dalam dunia Islam. Beliau dengan kitab Tahafut-nya telah meredam semangat penelitian dan penalaran di tubuh umat Islam.

Kesimpulan ini dihembuskan di antaranya oleh Bernard Lewis, sejarawan Yahudi Inggris-Amerika yang menjabat sebagai Profesor Kehormatan bidang Timur Tengah di Universitas Princeton. Dalam bukunya What went wrong, ia menjelasakan awal keruntuhan sains di dunia Islam disebabakan oleh pemaksaan cara beragama yang konservatif, kaku dan tertutup di tubuh umat islam, dan orang yang paling bertanggungjawab untuk hal ini adalah Imam Al-Ghazali.

Hal senada juga disampaikan oleh Steven Weinberg (lahir 1933), fisikawan Amerika Serikat yang memenangkan Hadiah Nobel Fisika tahun 1979. Dalam The Literary Suplemen, sebuah majalah mingguan yang terbit di Inggris edisi 17 jabuari 2007, ia menulis: “Islam berbalik menjadi oposisi terhadap sains sejak abad ke-12, figur yang paling berandil besar dalam hal ini adalah Abu Hamid Al-Ghazali. Persis setelah era beliau, tidak ada lagi satu pun nama ilmuwan besar yang terbit dari Rahim Islam”.

Baca Juga :  KIsah Habib Salim bin Jindan Meminjam Lukisan Ratu Belanda

Dari latar berbeda selain sejarawan atau fisikawan, pandangan ini juga disampaikan seorang penulis Amerika yang juga memiliki karir militer, Robert R. Rilley. Dalam bukunya, The Closing of Muslim Mind (halaman: 127) ia menuliskan: “setelah serangan Al-Ghazali terhadap rasionalitas, memang muncul Ibn Rusyd yang mencoba meluruskan kembali hal ini, sayangnya Ibn Rusyd gagal menyebarkan pandangannya secara efektif, karena ajaran Al-Ghazali telah lebih dulu mengakar dan diterima”.

Masih ada banyak tokoh Eropa, dari berbagai latar keilmuan yang ikut mengkambinghitamkan Al-Ghazali seperti Richard Dawkins, Neil deGrasse Tyson dan lain-lain.

Sama seriusnya seperti nama-nama di atas menyudutkan Al-Ghazali, sebagian kalangan juga begitu serius membantah tuduhan terhadap kemunduran sains dalam dunia Islam akibat Al-Ghazali ini.

Terkait tuduhan kemunduran sains dalam dunia Islam akibat Al-Ghazali ini, Sayyid Husain Nasr, seorang pemikir Muslim Iran mengkritik Weinberg yang secara mutlak menihilkan kemunculan ilmuwan di dunia Islam setelah Al-Ghazali. Beliau dalam sebuah kuliah umum bertemakan Islam dan Sains Modern di Massachusetts Institute of Technology menyatakan masih ada banyak manuskrip keilmuan di dunia Islam yang muncul setelah Al-Ghazali, hanya saja ribuan produk ilmiah ini tidak lagi diberdayakan atau diteruskan seperti sebelumnya.

Pernyataan Sayyid Husain di atas tidak secara tegas menampik tuduhan kepada Al-Ghazali. Hanya saja beliau mencoba meluruskan, seandainya memang pemikiran Al-Ghazali menyumbang peranan dalam masalah ini, namun tidak sampai pada tingkat parah dimana atmosfer saintifikasi pengetahuan menjadi punah sama sekali. Para ilmuwan di dunia Islam masih tetap bermunculan, hanya saja penelitian dan temuan mereka tidak lagi berkembang seperti sebelumnya.

Pembelaan serupa juga diberikan oleh Muzaffar Iqbal, seorang sejarawan, kimiawan dan pemikir muslim asal Pakistan. Dalam bukunya, The Making Of Islamic Science (halaman:145) beliau menegaskan ada ribuan Ilmuwan Muslim yang muncul dalam rentang abad delapan hingga abad 18, dan ada ratusan ribu manuskrip yang tidak terawat atau dikaji dengan baik.

Baca Juga :  Letak Universalitas Ajaran Islam

Sayyid Husain Nasr dalam bukunya yang lain juga memberi pembelaan lanjutan terhadap Al-Ghazali. Tulisan Al-Ghazali bisa saja menurunkan minat terhadap sains di tubuh umat Islam, hanya saja efek ini timbul bukan karena semata-mata tujuan beliau demikian. Buku Tahafut Al-Ghazali ibaratnya sebuah vaksin yang memberi efek overdosis bagi tubuh umat Islam, ia yang pada awalnya ditulis dengan niat membentengi kajian sains dan filsafat agar tidak keluar dari akidah agama, namun justru berefek terlalu jauh hingga mematikan “saraf” dan “Syahwat” terhadap sains.

Efek ini tidak secara sepihak muncul dari penulisnya, tetapi juga reaksi di tubuh umat Islam yang mungkin kurang tepat atau belum siap menghadapi isi tulisan tersebut.

Sebagian pihak mencoba membela dengan lebih sengit dan menyatakan bahwa tidak ada istilah kemunduran Sains dalam Islam. Semangat berpikir saintifik dan eksperimental di tubuh umat Islam tidak pernah mati, jauh setelah era Al-Ghazali ia masih tetap hidup.  Professor Jamil Ragep menyebut bahwa kegiatan saintifik tetap berjalan setelah Al-Ghazali. Baik di timur tengah, Persia maupun Turki.

Pandangan yang sama seperti di atas juga disampaikan oleh George Saliba, professor kajian Arab dan islam di Universitas Columbia, Abdelhamid Sabra peneliti sejarah Sains dan lain-lain (lihat: Macksood Aftab, Ghazali, islamophobia and the Myth of Islamic Decline, halaman 6)

Jika hendak berbicara jujur dan objektif, semua ambivalensi terhadap Al-Ghazali tidak ada yang sepenuhnya keliru. Kemunduran sains dalam Islam setelah abad ke-13 memang terjadi, meski ia tidak mati sama sekali seperti yag dituduhkan. Penyebab kemunduran ini juga tidak dapat disimplifikasikan sebagai kesalahan Al-Ghazalai secara mutlak, banyak faktor lain yang ikut bermain seperti konflik sectarian, dinamika politik hingga serangan bangsa Mongol.

Baca Juga :  Mengenal Orang Terakhir yang Keluar dari Neraka dan Masuk Surga

Di sisi lain, menafikan andil Al-Ghazali dalam masalah ini secara mutlak juga tidak mungkin. Al-Ghazali adalah seorang ulama brilian dan multidimensional. Namun serangannya terhadap filsafat tentu berpengaruh terhadap matinya semangat berpikir saintifik dan eksperimental. Para tokoh ilmuwan besar sebelum beliau seperti Ibnu Sina’, Ibn Haitsam, Jabir Ibn Hayyan, Al-Khwarismi dan lain-lain adalah orang-orang yang akrab dengan filsafat dan pemikiran Yunani.

Al-Ghazali menggeser pendekatan kausalitas hukum alam dalam menyikapi sesuatu menjadi lebih kental dengan pendekatan Akidah. Hujan turun karena kehendak Allah, kertas terbakar juga demikian. Minat pada kausalitas alam dikontraposisikan dengan keimanan pada kehendak Tuhan.

Padahal tentu saja semangat dan prinsip eksperimental yang mengakar pada ilmuwan sebelumnya justru disokong oleh keingintahuan pada kausalitas ini. Jadi secara langsung atau tidak, disengaja atau tidak, Al-Ghazali ikut melemahkan semangat ini. Kemunduran sains dalam dunia Islam di antaranya akibat pemikiran ini.

Fazlurrahman mengatakan tulisan Al-Ghazali dalam masalah ini sangat melekat di tubuh umat Islam, akseptabilitas dan resonansi terhadap pemikiran Al-ghazali bergaung dengan keras, hingga overdosis ini amat sulit untuk disembuhkan bahkan meski sudah begitu lama (Jamhari, Al-Ghazali dan Oposisinya terhadap Filsafat).

Al-Ghazali adalah figur ulama yang menarik, berbagai pemikiran beliau maupun tulisan yang membahas tentang beliau, masih dapat kita nikmati hingga sekarang. Beliau juga meninggalkan pengaruh yang kuat, sebagian dari pengaruh itu harus diakui menyumbang peranan pada kelesuan gairah saintifikasi ilmu dan penelitian eksperimen setelahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here