Kemesraan Rasulullah dengan Shafiyyah

0
1407

BincangSyariah.Com – Jika diperhatikan dengan seksama, terdapat hubungan khusus antara Rasulullah Saw. dengan Shafiyyah yang berbeda dengan istri-istri yang lain. Shafiyyah juga lebih sering menyendiri, tinggal di dalam Masjid, dan tidak suka bercampur dengan istri-istri yang lain. ia tidak kembali ke rumah kecuali jika ada sesuatu yang penting.

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa suatu ketika, Rasulullah Saw. sedang melakukan i’tikaf di Masjid Nabawi. Lalu istri-istri beliau datang untuk menemuinya. Ketika mereka ingin kembali, Rasulullah Saw. menahan Shafiyyah, memintanya untuk tidak kembali terlebih dahulu. Setelah berbincang beberapa saat, Rasulullah Saw. mengantarkan Shafiyyah ke depan pintu masjid. Hal ini tidak beliau lakukan kepada istri-istri yang lain. Ini menunjukkan perlakuan khusus beliau kepada Shafiyyah.

Shafiyyah juga meriwayatkan, “aku belum pernah menemukan sosok yang memiliki akhlak yang paling baik selain Rasulullah Saw. Kebaikannya aku alami sendiri. Ketika suatu malam selepas dari Khaibar, beliau menaikkanku ke atas untanya yang begitu lemah. Saat mulai mengatuk, kepalaku hampir terseokke punggung unta. Rasululah Saw. berkata: ‘wahai unta, jalanlah dengan perlahan-lahan dan berlemah lembutlah  kepada anaknya Huyay (Shafiyyah).’ Hingga ketika kami tiba di benteng al-Shahba’, beliau meminta maaf sambil berkata, ‘wahai Shafiyyah, aku sungguh minta maaf atas sikapku terhadap kaummu. Semua itu aku lakukan karena mereka selalu menggunjing, memperolok, dan mengatakan hal-hal yang tidak benar.’

Riwayat di atas mengisahkan perbuatan Rasulullah Saw. yang menunjukkan kasih sayang, cinta dan kemesraan beliau kepada Shafiyyah. Beliau sangat peka terhadap peristiwa yang baru saja disaksikan Shafiyyah dalam perang Khaibar. Oleh karena itu, beliau ingin menentramkan hati istrinya, sehingga rasa kesal atau sakit hati Shafiyyah kepada Rasulullah Saw. bisa hilang dan berganti dengan kemesraan dan cinta yang tulus. Para perawi menyatakan bahwa permintaan mafa beliau ini bukanlah karena perbuatan beliau yang salah. Melainkan semata-mata sikap suami yang menghormati perasaan istrinya.

Baca Juga :  Tiga Keutamaan Orang Miskin yang Tidak Didapatkan Orang Kaya

Begitulah Rasulullah Saw. yang memberikan perhatian khusus untuk Shafiyyah. Beliau tidak terima bila Shafiyyah ditimpa hal-hal yang tidak mengenakan. Beliau Saw. selalu menjaga Shafiyyah hingga pada akhirnya beliau Saw. berpulang ke rahmatullah.

Wafatnya Shafiyyah

Ummul mukminin Shafiyyah meninggal pada bulan Ramashan pada tahun 50 Hijriyyah, saat berusia sekitar 50 tahun, pada masa kekhalifahan Mu’awiyah. Gubernur Madinah pada saat itu, yaitu Marwan bin Hakam berkenan untuk menjadi imam shalat di masjid Nabawi untuk menyalatkan jenazah Shafiyyah. Setelah disahalatkan, jenazah Shafiyyah diantar dan dikebumikan di pemakaman Al-Baqi’ bersama ummahatul mukminin lainnya. Semoga Allah meridahi mereka semua serta memberinya tempat yang lapang dan mulia di sisi-Nya.

Demikianlah kisah ringkas perjalanan hidup Shafiyyah yang diizinkan Allah untuk hidup bersama Rasulullah Saw. dan mengabdikan dirinya untuk beliau. Semoga para muslimah dapat mengambil pelajaran berharga dari kisah ini, baik dari segi kecerdasan Shafiyyah, kesabarannya, ketakwaannya kepada Allah, ataupun kecantikan luar dalamnya.

Sumber: Kutubus Sittah, Siyar A’lam Al-Nubala, Thabaqat Al-Kubra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here