Kemenangan Prancis Berkah dari Para Imigran

0
466

BincangSyariah.Com – Prancis sudah mempersiapkan generasi pemenang ini dari jauh-jauh hari. Skuad muda bertabur bintang ada di setiap lini. Ini adalah buah yang dipetik dari ketelatenan, kerja keras, keuletan, dan yang pasti disirami dengan air kesabaran dan kerapian.

Dari 23 pemain, 16 di antaranya adalah pemain imigran yang sebagian besar berasal dari Afrika seperti Nigeria, Kongo, Kamerun, Angola, Aljazair, Senegal dan Guinea. Di antara mereka ada tujuh pemain Muslim yaitu, Paul Pogba, Ngolo Kante, Adil Rami, Benjamin Mendy, Djibril Sidibe, Nabil Fekir, dan Ousmane Dembele. Ini membuktikan bahwa kaum imigran mampu berkontribusi seperti warga negara lainnya.

Pasca Perang Dunia II, negara Prancis mengalami banyak kerusakan akibat perang. Fenomena imigran adalah salah satu sisi penting dalam sejarah Prancis kontemporer. Dimulai dengan kedatangan imigran yang berasal dari negara-negara tetangga di Eropa, hingga mereka yang berasal dari negara-negara di benua Afrika dan Asia.

Datangnya imigran ke Prancis dilatarbelakangi berbagai motif, utamanya ekonomi. Alasannya adalah kondisi demografis Prancis dan kebutuhan tenaga kerja, menyusul adanya industrialisasi di Perancis pasca Perang Dunia II.

Sebanyak 38% imigran itu berada di ibukota Prancis, kota Paris. Terdapat satu daerah yang bernama Banlieues, mungkin bisa diartikan daerah pinggiran Paris. Walaupun daerah ini banyak konflik yang disebabkan oleh para imigran, tapi karena kombinasi sistem sekolah sepakbola yang baik, dipertemukan dengan talenta muda luar biasa, jadilah imigran Paris bagian dari skuad Prancis yang bertanding di Piala Dunia 2018.

Ada 8 pemain imigran berasal dari Paris yang bermain pada final itu. Pemain yang paling mencuri perhatian adalah pemain yang mendapatkan predikat “Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2018” yaitu, Kylian Mbappe. Mbappe lahir di Paris dari ibu yang berdarah Aljazair dan ayah berdarah Kamerun. Mbappe adalah talenta terbaik Paris yang dilatih di sekolah sepakbola Clairefontaine.

Baca Juga :  Tradisi Mendoakan Arwah Leluhur dalam Bulan Sya’ban

Prancis sudah sejak lama membangun sistem persepakbolaan yang baik dalam memproduksi talenta terbaik. Clairefontaine contohnya, menjadi akademi terbaik dunia yang membawa Prancis dua kali juara piala dunia, tahun 1998 dan 2018.

Prancis juga mempunyai liga terbaik dunia. Asosiasi sepakbola Prancis atau yang lebih dikenal dengan FFF (French Football Federation) membangun liganya menjadi semakin terkenal. Pembentukan tersebut mulai dari mencari investor, manajemen yàng rapi juga tertata, dan tidak kalah penting adalah rakyat yang sadar akan arti kerja keras dan semangat olahraga.

Multikulturalisme adalah keadaan di mana terdapat berbagai macam budaya dalam yang hidup dan bertahan dalam satu wilayah. Konsep ini muncul sebagai dampak dari migrasi yang terjadi di seluruh dunia.

Keberagaman menjadi bukti bagian dari kemenangan Prancis dalam menjuarai Piala Dunia 2018 di Rusia. Prancis tidak lupa berterimakasih pada imigran ini yang telah menyumbangkan kontribusi terbaiknya untuk negara. Seperti yang tertera di balik jersey Timnas Perancis terdapat tulisan “Nos Differences Nous Unissent” yang maknanya serupa dengan Bhinneka Tunggal Ika, yaitu ”Our Differences Unite Us” dalam bahasa Indonesia “Perbedaan kita yang mempersatukan kita”. Motto tersebut sesuai dengan sabda Nabi yang mengingatkan tentang persatuan. Beliau bersabda:

Dari Anas Ra. bahwa Nabi Saw. bersabda,

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”

Sumber:
sportskeeda.com;
runrepeat.com;
dan youtube.com/watch?v=P55XYp2KD2Y&t=31s

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.