Muawiyah dan Soal Kelihaian Berpolitik

1
1337

BincangSyariah.Com – Bagi yang terbiasa membaca literatur-literatur kesejarahan Islam yang ditulis oleh para cendekiawan Ahlu Sunnah, akan ditemukan dalam lembar perlembarnya rasa kepuasan mereka terhadap pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan. Hal demikian terjadi bukan karena Muawiyah lebih utama dari Ali bin Abi Thalib namun lebih karena beliau dianggap lebih mampu dan capable ketimbang Ali dalam menghadapi persoalan-persoalan politik yang menggayut dalam tubuh umat Islam di masa itu.

Muawiyah seperti yang ditunjukkan oleh sejarah masa silam mampu menyelamatkan negara Islam dari kehancuran total. Bahkan lebih jauh dari itu, beliau me-refresh kembali daya vitalitas negara Islam dengan memulai penaklukan-penaklukan ke berbagai wilayah.

Memang dalam literatur Sunni tersebut ditemukan pula pandangan-pandangan yang bersimpati kepada Ali bin Abi Thalib, bukan hanya karena beliau ini adalah sepupunya Nabi sekaligus suami dari putrinya yang bernama Fathimah, namun juga karena integritas moral Islamnya yang sangat tinggi dan sisi ketauladanannya yang tidak ada bandingannya dalam sejarah Islam.

Kendati demikian, dalam kacamata politik, para cendekiawan kalangan Ahlu Sunnah banyak yang menyayangkan atas sikap plin-plan yang mewarnai perilaku politik Ali, terlebih di masa fitnah dan peristiwa arbitrase (tahkim).

Sebut saja al-Hasan al-Bashri, cendekiawan yang menjadi punggawa Ahlu Sunnah, seperti yang dikutip oleh Muhammad bin Yazid al-Mubarrad dalam al-Kamil, menyampaikan rasa kecewanya terhadap manuver-manuver politik Ali yang terasa kurang tegas dan plin-plan apalagi ketika mengambil langkah-langkah politiknya di masa peristiwa tahkim. Dalam hal ini, al-Hasan al-Bashri mengatakan:

لم يزل أمير المؤمنين علي رحمه الله يتعرف النصر ويساعده الظفر حتى حكّم. فلم تحكّم والحق معك؟ ألا تمضى قدما، لا أبا لك، وأنت على الحق.

Baca Juga :  Tiga Dokter Kristiani di Masa Dinasti Umayyah

“Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib di kala itu selalu menang dalam menghancurkan lawan-lawan politiknya sampai ia berarbitrase. Kenapa memilih berarbitrase padahal engkau di posisi yang benar? Demi Allah, engkaulah dalam posisi kebenaran wahai Amirul Mukminin!”

Selain itu, sikap politik kalangan Ahli Sunnah juga sangat menyayangkan Ali dan para sahabat lainnya yang membiarkan kekacauan terjadi begitu saja yang dimulai dari terbunuhnya Uthman bin Affan dan berakhir perang-perang yang terjadi setelahnya. Rasa kecewa ini terekam dengan sangat baik dalam al-Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Kathir.

Berangkat dari rasa kecewa inilah, kalangan Ahlu Sunnah melihat secara positif kerajaan yang didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan. Muawiyah mampu menyatukan kembali kaum Muslimin yang sebelumnya terpecah belah. Muawiyah juga sangat mumpuni dalam membangun negara Islam yang kuat dan kokoh. Lebih dari itu, dalam sumber-sumber Sunni, al-Bidayah wa an-Nihayah misalnya, menggambarkan sosok Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai berikut:

كان حليما وقورا رئيسا سيدا في الناس كريما عادلا شهما

“Muawiyah adalah pemimpin yang pemurah, santun, berwibawa, mampu memimpin rakyatnya, dermawan, adil dan tegas”.

Tentu kalangan Sunni ketika memuji Muawiyah bin Abi Sufyan ini tidak bermaksud membandingkannya dengan Abu Bakar dan Umar yang lebih utama darinya. Pujian ini dilakukan dalam kerangka model kepemimpinan raja-raja yang muncul setelah Muawiyah mengingat bahwa rintisan negara kerajaan yang dibangun olehnya diikuti oleh raja-raja setelahnya.

Jika kita melihat negara kerajaan ini dalam kerangka politik, jelaslah bahwa yang dibangunnya itu ialah negara politik pertama kali dalam Islam karena ia merupakan negara yang menjadi model bagi generasi selanjutnya.

Meski demikian, ketika melihatnya sebagai negara politik, kita tidak boleh terjebak pada sikap dan perilaku politik Muawiyah secara pribadi: santun, cerdik dan lihai dalam bernegoisasi yang terkenal dalam sejarah sebagai sya’ratu Muawiyah yang secara literal diterjemahkan rambutnya Muawiyah.

Baca Juga :  Mengenal Musa bin Nushair Sang Penakluk Andalusia

Rambut Muawiyah ini hanya sekedar metafor tentang bagaimana Muawiyah ingin selalu menjalin komunikasi politik yang baik dengan lawan-lawan politiknya, bahkan sampai ketika rambutnya diputuskan ia akan tetap berusaha menyambung kembali yang terputus.

Ketika melihat negara yang didirikan Muawiyah ini sebagai negara politik dengan sendirinya yang kita maksudkan ialah bukan pribadinya yang lihai dalam mengatur pemerintahan tapi struktur negara yang dibangunnya. Melalui kelihaian dan kecakapan politiknya, kita melihat bahwa Muawiyah telah mampu menciptakan apa yang disebut oleh para pakar sosiologi modern saat ini sebagai “ruang politik” atau semacam public sphere, di mana ada posisi yang jelas antara relasi rakyat dengan pemimpinnya.

Di masa Muawiyah, diciptakanlah liberalisme politik yang membebaskan semua lapisan masyarakat dari berbagai sekte untuk mengkritik negara selagi kritiknya tidak mengarah ke mobilisasi massa untuk menghancurkan negara. Demikianlah, di masa Muawiyah, negara Islam tidak lagi harus dikendalikan oleh agama seperti masa khilafah, namun bagaimana negara memainkan politiknya di ranah agama, ekonomi (ghanimah) dan kabilah secara seimbang. Pada level-level inilah, Muawiyah memainkan perananya sebagai kepala negara. Allahu Alam.

1 KOMENTAR

  1. Tentang Ali bin Abi Thalib yang disebut plin plan di atas, demi Allah itu nggak benar. Sayyidina Ali berada di atas petunjuk. Banyak Orang di sekeliling ali yang dmikian jahatnya, bekas para pembunuh utsman, mereka melakukan pemaksaan dan teror ancaman.

    Tentag perkataan penulis yang terakhir, bahwa di zaman muawiyah “tidak harus dikendalikan agama..”, nampaknya kalimat ini seolah dukungan terhadapnya, padahal berbahaya. Yang benar dan di atas petunjuk itu yang dilakukan oleh keempat khalifah rasyid.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here