Kelebihan Mengetahui Hal Gaib bagi Wali Allah Menurut Ibnu Khaldun

3
2930

BincangSyariah.Com – Berbeda dengan Ibnu Bajah yang tidak mempercayai fenomena kasyaf (mengetahui hal gaib) para wali yang berangkat dari kerangka psikologi Aristotelian, Ibnu Khaldun masih tetap mempercayainya sebagai pengalaman spiritual yang khas dan elitis yang hanya terjadi bagi orang-orang tertentu. Dalam kitab al-Muqaddimah, terutama sebelum membahas kasyaf kaum sufi, Ibnu Khaldun menegaskan terlebih dahulu bahwa ilmu kalam telah gagal dalam memahami Realitas Tertinggi.

Ilmu kalam yang berbasis rasio berusaha untuk mengetahui dan memahami persoalan-persoalan metafisika (alam ruhani) yang tidak bisa dilewati oleh rasio. Batasan-batasan rasio hanyalah objek-objek yang dapat tercerap oleh indra. Sementara itu, ketika berusaha memahami persoalan di luar yang indrawi, rasio tidak mungkin digunakan. Hal demikian karena alam metafisis tidak bisa teramati olehnya dan alam ini berada di luar batas-batas teritorinya.

Karena persoalan-persoalan metafisis tidak bisa dijangkau oleh rasio dan karena rasio hanya bisa memahami yang tercerap secara inderawi, kata Ibnu Khaldun, tentunya persoalan yang sifatnya metafisis tidak bisa didekati melalui pendekatan ilmu kalam. Rasio fungsinya hanya bisa mencerap dan memahami objek-objek inderawi (mahsusat) dan tidak bisa melampaui batasan-batasannya.

Dengan kata-kata lain, ketika digunakan untuk memahami objek-objek ruhani, rasio tidak bisa menjangkaunya secara meyakinkan. Begitulah secara ringkasnya argumen yang dikemukakan Ibnu Khaldun tentang ketidakmungkinan ilmu kalam yang berbasis rasio dapat memahami realitas metafisis (ma wara’a tabiah). Ulasan ini dapat kita baca dalam kitabnya yang terkenal, al-Muqaddimah.

Jika rasio memang tidak bisa dijadikan instrumen untuk memahami realitas yang bukan jangkauannya, pertanyaan yang muncul ialah instrumen apa yang mungkin bisa kita gunakan untuk dapat memahami alam ruhani atau alam metafisis? Bagi Ibnu Khaldun, jawaban yang tepat ialah jiwa. Hal demikian karena jiwa (maksudnya ruh) ialah salah satu bagian dari alam ruhani dan objek-objek ruhani atau objek-objek metafisis hanya bisa dicerap dan dipahami oleh ruh, bukan rasio dan sejenisnya.

Baca Juga :  Akibat Tobat Palsu, Orang Ini Meninggal Mengenaskan

Kendati demikian, kata Ibnu Khaldun, seperti halnya rasio yang tidak bisa menjangkau persoalan-persoalan yang sifatnya metafisis karena objek jangkauannya hanyalah alam inderawi, tentunya jiwa yang merupakan bagian dari alam ruhani tidak akan mampu menerjemahkan fenomena-fenomana metafisis ke dalam ranah yang sifatnya inderawi. Yang bisa dilakukan oleh jiwa, kata Ibnu Khaldun, hanyalah pencerapan alam ruhani yang amat subjektif (idrak dzati), pencerapan yang mereka sebut sebagai kasyaf.

Jadi dalam penjelasan tentang mukasyafah para sufi-wali menurut Ibnu Khaldun ini, semua pengalaman ruhani yang dilalui oleh jiwa atau ruh tidak bisa dijelaskan dalam bahasa yang hanya digunakan di alam inderawi. Bagi Ibnu Khaldun, sangat mustahil menerjemahkan pengalaman yang sifatnya ruhani melalui istilah-istilah yang hanya dikenal di alam inderawi.

Kendati mustahil, Ibnu Khaldun tetap masih memberikan ruang khusus dalam al-Muqaddimah bagi penjelasan mengenai mekanisme terjadinya kasyaf kaum sufi-wali. Jadi paling tidak (sepanjang pemahaman penulis) Ibnu Khaldun hanya  menjelaskan dua hal penting tentang kasyaf sufi-wali dalam al-Muqaddimah: pertama, memberikan justifikasi secara rasional bagi pengetahuan ruhani yang diperoleh kaum sufi dan kedua, menjelaskan proses terjadinya musyahadah atau kasyaf.

Kita coba kutipkan pandangan Ibnu Khaldun dalam kitab al-Muqaddimah tentang mekanisme terjadinya kasyaf atau musyahadah ruhaniyyah di kalangan kaum sufi:

وسبب هذا الكشف أن الروح إذا رجع عن الحس إلى الباطن ضعفت أحوال الحس وقويت الروح، وغالب سلطانه وتجدد تشوفه وأعان على ذلك الذكر، فإنه كالغذاء لتنمية الروح، ولا يزال في نمو وتزايد إلى أن يصير شهودا بعد أن كان علما ويكشف حجاب الحس ويتم وجود النفس الذي لها من ذاتها، وهو عين الإدراك.

“Sebab terjadinya kasyaf ialah ketika ruh memasuki alam bathin terdalam lalu lenyap dari jangkauan alam lahir, hal-hal yang berhubungan dengan alam inderawi (ahwal al-hiss) seketika itu juga melemah dan sebaliknya, ruh mulai menguat mengalahkan pengaruh inderawi. Kondisi demikian makin meningkat ketika dibantu dengan zikir terus menerus. Zikir ibarat asupan gizi yang bagus bagi kematangan ruh. Dengan zikir, ruh berkembang sehingga alam ruhani pun tercerap dan teralami (syuhud) setelah sebelumnya hanya diketahui (ilm-melalui kabar dari Alquran dan hadis). Dalam keadaan seperti ini, terbukalah tirai inderawi (hijab al-hiss) lalu masuklah jiwa ke alam asalnya (alam ruhani) dan dapatlah ia memahami hakikat-hakikat di alamnya ini.”

Baca Juga :  Tafsir Mimpi Memegang Hajar Aswad Menurut Islam

فيتعرض حينئذ للمواهب الربانية والعلوم اللدنية والفتح الإلهي وتقرب ذاته في تحقيق حقيقتها من الأفق الأعلى، أفق الملائكة. وهذا الكشف كثيرا ما يعرض لأهل المجاهدة، فيدركون من حقيقة الوجود ما لا يدركه سواهم. وكذلك يدركون كثيرا من الواقعات قبل وقوعها ويتصرفون بهممهم وقوى نفوسهم في الموجودات السفلية وتصير طوع إرادتهم.

“Ketika sampai ke posisi ini, jiwa mendapatkan anugerah-anugerah ketuhanan (al-mawahib ar-rabbaniyyah), ilmu-ilmu laduni dan ketersingkapan tabir ilahi (al-fath al-ilahi). Jiwa kemudian mendekati hakikat dirinya di alam tertinggi, alam malaikat. Kasyaf seperti ini banyak terjadi di kalangan orang-orang yang terus menerus melakukan mujahadah. Wali yang sudah mendapatkan kasyaf dapat memahami hakikat-hakikat wujud yang tak terpahami oleh orang-orang biasa. Mereka dapat mengetahui kejadian sebelum kejadian. Dengan keteguhan hatinya yang kuat, mereka juga dapat memberikan pengaruh bagi peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam bawah (alam sufuli: alam dunia) dan bahkan alam mawjud ini tunduk di bawah kehendak mereka (sebut saja karamah). ”

Kendati demikian, kata Ibnu Khaldun, meski seorang sufi sudah mendapatkan kasyafnya namun kasyafnya ini hadir di luar kehendaknya. Seorang sufi tidak bisa meramal kejadian di masa mendatang sesuai kehendaknya. Namun demikian, pengetahuan tentang masa depan datang dengan sendirinya, dan bukan karena kehendaknya.

Demikian juga, ia tidak bisa melakukan kejadian-kejadian luar biasa menurut yang dikehendakinya (karamah). Semua karamah itu terjadi dengan sendirinya dan di luar kehendaknya. Bahkan Ibnu Khaldun berpandangan lebih jauh lagi, yakni, sang sufi tidak bisa mengungkapkan pengalaman musyahadah atau kasyafnya dan ia juga tidak dapat memperinci deskripsi apa yang dilihatnya di alam ruhani.

Secara ringkasnya, pengalaman yang dialami oleh seorang sufi yang sudah mencapai kasyaf ialah pengalaman yang sifatnya pribadi, yang tidak bisa diberitahukan kepada yang lain. Pengalaman sufi ini ialah soal dzauq yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dan tidak bisa dijelaskan inti pengetahuan kasyfinya.

Baca Juga :  Benarkah Para Wali Allah Maksum seperti Nabi?

Menurut Ibnu Khaldun, bahasa hanya bisa mengekspreksikan semua hal yang tercerap secara inderawi, dan kata-kata yang diproduksi bahasa ialah refleksi riil dari pengalaman inderawi. Sementara itu, pengalaman yang dialami oleh seorang sufi ialah pengalaman di alam ruhani, alam metafisis, dan bahasa tidak mampu menampung pengalaman-pengalaman dari alam ruhani.

Jadi alam ruhani tidak bisa mengekspresikan dirinya melalui bahasa yang berasal dari alam inderawi. Alam inderawi dan alam ruhani merupakan dua ranah yang berbeda yang masing-masingnya tidak bisa menjangkau yang lainnya. Ibnu Khaldun dalam kitab al-Muqaddimah menegaskan demikian:

واللغات لا تعطي دلالة على مرادهم منه، لأنها لم توضع إلا للمتعارف، وأكثره من المحسوسات

“bahasa tidak dapat menjelaskan pengalaman kaum sufi karena bahasa hanya dibentuk dari konvensi sosial (al-muta’araf) yang kebanyakannya berasal dari alam inderawi (al-mahsusat).”

Simpulnya bahasa tidak bisa menampung pengalaman ruhani, lalu bagaimana jika kaum sufi menjelaskan semua pengalaman kasyafnya? Ibnu Khaldun jelas menolak tasawwuf jenis ini. Pasalnya, jika pengalaman ruhani diekspresikan melalui instrumen bahasa yang indrawi, pengalaman ruhani ini menjadi ilmu tersendiri, namanya tasawuf falsafi. Allahu A’lam.

3 KOMENTAR

  1. […] Ada beberapa argumen yang bisa menjadi alasan kuat bagi layaknya Ibnu Khaldun disebut sebagai ahli dalam bidang hadis. Pemaparan di sini sepenuhnya saya dapatkan dari pengantar kitab al-Muqaddimah oleh Ali Abdul Wahid Wafi yang berjudul Abqariyyat Ibnu Khaldun. (Baca: Kelebihan Mengetahui Hal Gaib bagi Wali Allah Menurut Ibnu Khaldun) […]

  2. […] Membaca ramalan zodiak berupa perkiraan nasib, keberuntungan, dan karakter seseorang berdasarkan zodiak atau dua belas gugus bintang, yaitu Aries, Taurus, Gemini, Kanser, Leo, Virgo, Libra, Skorpio, Sagitarius, Kaprikornus, Akuarius, dan Pises, hukumnya diperinci. Secara garis besar, ada dua perincian hukum mengenai hukum membaca nasib dan keberuntungan melalui zdiak ini. (Baca: Kelebihan Mengetahui Hal Gaib bagi Wali Allah Menurut Ibnu Khaldun) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here