Kajian Shahih Bukhari Hadis Nomor 4; Kekosongan Wahyu Selama Tiga Tahun

2
253

BincangSyariah.Com – Sebelum menerima wahyu, Nabi mengalami mimpi selama enam bulan, dan terdapat dorongan kuat pada diri beliau untuk menyepi di gua Hira. Mimpi itu terjadi pada saat usia beliau empat puluh tahun, tepat di bulan kelahirannya, yaitu bulan Rabiulawal. (Baca: Kajian Shahih Bukhari Hadis Nomor 3; Kondisi Nabi Saat Terima Wahyu di Gua Hira)

Setelah menerima wahyu pertama, yaitu surah al-‘Alaq, Nabi tidak langsung mendapatkan wahyu kembali. Saat itu kekosongan wahyu terjadi selama tiga tahun sebagaimana pendapat Ahmad bin Hanbal dari al-Sya‘bi yang dikutip Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari.

Saat kekosongan itu, malaikat Israfil yang datang mendampingi Nabi selama tiga tahun. Setelah tiga tahun berlangsung, barulah malaikat Jibril datang kembali menurunkan wahyu Al-Qur’an. Terdapat riwayat yang menyatakan bahwa selama tiga tahun itu Al-Qur’an tidak turun, dan malaikat Israfil mengajarkan kata-kata pada Nabi. Setelah itu, barulah turun surah al-Muddatsir ayat 1-5.

Kekosongan wahyu itu diceritakan oleh Imam al-Bukhari sebagaimana riwayat berikut:

قَالَ ابْنُ شِهَابٍ: وَأَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِيَّ، قَالَ: وَهُوَ يُحَدِّثُ عَنْ فَتْرَةِ الوَحْيِ فَقَالَ فِي حَدِيثِهِ: ” بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنَ السَّمَاءِ، فَرَفَعْتُ بَصَرِي، فَإِذَا المَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، فَرُعِبْتُ مِنْهُ، فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ: زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي “فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا المُدَّثِّرُ. قُمْ فَأَنْذِرْ} [المدثر: 2] إِلَى [ص:8] قَوْلِهِ {وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ} [المدثر: 5]. فَحَمِيَ الوَحْيُ وَتَتَابَعَ تَابَعَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، وَأَبُو صَالِحٍ، وَتَابَعَهُ هِلاَلُ بْنُ رَدَّادٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، وَقَالَ يُونُسُ، وَمَعْمَرٌ بَوَادِرُهُ

Ibnu Syihab bercerita dari Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Jabir bin Abdullah al-Ansari bercerita mengenai Rasulullah. Rasulullah menceritakan tentang masa kekosongan wahyu. Dalam sabdanya, Nabi bercertia: “Ketika sedang berjalan, saya mendengar suara dari langit. Aku pun menangkat pandanganku ke atas, ternyata ada malaikat yang pernah mendatangiku di gua Hira sedang duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun dibuat takut olehnya.

Baca Juga :  Darus-Sunnah Kembali Lahirkan Calon-calon Ahli Hadis Indonesia

Aku pun meminta (pada Khadijah), “Selimutilah aku, selimutilah aku.” Allah pun menurunkan wahyu-Nya. “Orang berselimut, bangunlah. Berilah peringatan (kaummu) (QS al-Muddatsir; 2) sampai firman Allah: Tinggalkanlah berhala-hala itu (QS al-Muddatsir; 5).” Sejak saat itu wahyu pun terus turun secara berkesinambungan.” Hadis ini diperkuat juga oleh Abdullah bin Yusuf, Abu Shalih, dan Abu Hilal bi Raddad; dari al-Zuhri. Yunus dan Ma‘mar menyepakati bahwa ia mendapatkan dari al-Zuhri.

2 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa saat pertama kali menerima wahyu, Nabi Muhammad selalu saja terburu-buru menghafalkan apa yang diterima dari Malaikat Jibril. Saat Malaikat Jibril belum selesai menyampaikan, mulut Nabi sudah berkomat-kamit menghafalkan wahyu dari Malaikat Jibril agar tidak lupa. Akan tetapi, keterburu-buruan Nabi Muhammad ingin langsung menghafal wahyu yang diterimanya itu ditegur oleh Allah. Turunlah surah al-Qiyamah ayat 16-19. (Baca: Kajian Shahih Bukhari Hadis Nomor 4; Kekosongan Wahyu Selama Tiga Tahun) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here