Kekhawatiran Ulama terhadap Perbuatan Dosa Orang Lain

1
1539

BincangSyariah.Com – Secara bahasa, ulama tidak hanya berarti seseorang yang ahli dalam bidang agama. Emalinkan dalam berbagai bidang. Termasuk di dalamnya adalah ahli memahami keresahan orang lain. Mungkin orang kaya pada umumnya tidak pernah memikirkan perasaan orang miskin ketika hendak memakai mobil mewahnya. Namun tidak begitu dengan ulama. Ia bisa mengkhawatirkan apa yang ia kerjakan, dan bagaimana dampaknya terhadap orang yang tidak mampu mengerjekannya.

Seperti kisahnya Ayyub As Sakhtayani dalam kitab Mauizhatul Mu’minin yang dirinya mengkhawatirkan orang lain menjadi iri ketika dirinya menggunakan pakaian yang baru. Bagaimana bisa? Seseorang yang memiliki sesuatu yang baru dan bagus seringkali menimbulkan iri dengki pada hati orang di sekitarnya, jika imannya belum kokoh. Dan kehadiran iri dengki inilah yang ditakutkan ulama ketika ia hendak menggunakan baju barunya. (Ketika Merasa Memiliki Dosa Besar, Bacalah Doa Ini)

Ia menyadari bahwa tidak semua orang diberikan rezeki untuk membeli barang tersebut. atau mungkin bisa saja orang yang melihatnya memakai baju baru berburuk sangka dengan pikiran-pikiran yang tidak baik. Entah bagaimana ia bisa memiliki, atau bagaimana cara ia membelinya? Yang demikian itu membuat ulama membatalkan niatnya untuk menggunakan barang baru atau bagusnya, sebab kemulian hatinya yang tidak memperkenankan orang lain terjebak perbuatan dosa hanya karena pemakaian baju baru atau bagusnya. Sifat mulia ulama tersebut tercatat dalam kitab Mauizhatul Mu’minin karya Syekh Jamaluddin Al Qasimi:

اني لأترك لبس الثوب الجديد خشية أن يحدث في جبراني حسده وقال اخر خشية أن يقول غخواني من أين له هذا

Diantara sifat mulia para ulama adalah tak tega membuat orang lain berdosa. Mereka kadang2 tak jadi memakai pakaian baru karena kuatir ada tetangganya yang iri dengki atau karena khawatir ada yang suuzh-zhon, “Darimana ya dia mendapat baju baru itu?”

Kekhawatiran ulama yang tercermin dalam tindakannya di atas menggambarkan bahwa betapa tidak indanya perbuatan iri dengki atau juga berprasangka buruk terhadap orang lain. Mungkin tidak semua orang bisa mempraktekkan apa yang menjadi kekhawatiran ulama ini, karena kiprahnya di mata manusia adalah apa yang ia tanam ia tuai.

Tidak ada sangkut pautnya dengan perbuatan orang lain. Namun tingkatan ulama ini berbeda, ia tidak lupa memikirkan orang lain agar tidak terjerumus pada hal-hal yang dilarang oleh Rasulullah. Karena iri dengki adalah ahl yang dilarang secara psti oleh Rasulullah. Seperti keterangan dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لا تَحاسدُوا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

Jangan kalian saling mendengki, jangan saling najasy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi! dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here