Keistimewaan Menjadi Muslim di Indonesia

0
546

BincangSyariah.Com – Islam adalah agama yang dominan di beberapa negara, termasuk Afghanistan, Pakistan, Sahara Barat, Iran dan banyak lagi. Negara-negara dengan jumlah Muslim yang tinggi cenderung berada di Afrika, Timur Tengah, dan Asia. Negara Muslim terbesar di dunia adalah Indonesia.

Ada 229 juta Muslim di Indonesia yang merupakan 87,2% dari populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 263 juta jiwa. Jumlah tersebut adalah sekitar 13% dari populasi Muslim dunia. Muslim di Indonesia terdiri dari 99% Sunni, 0,5% Syiah, dan 0,3% Ahmadiyah. (Baca: Hew Wai Weng: Muslim Tionghoa Cerminkan Muslim Indonesia)

Islam di Indonesia bisa dikategorikan secara luas sebagai “modernisme” atau Islam modern yang berarti mengikuti teologi ortodoks sembari merangkul pembelajaran modern. Islam di Indonesia bisa juga disebut sebagai “tradisionalisme” yakni mengikuti interpretasi para pemimpin agama setempat.

Hilary Clinton pernah menyatakan bahwa jika ingin melihat Islam berdampingan dengan demokrasi, maka lihatlah Indonesia. Islam di Indonesia berperan memperjuangkan hak asasi manusia dan pemberdayaan perempuan.

Dalam diskusi daring bertajuk Istimewanya Menjadi Muslim Indonesia yang dilaksanakan Mubadalah.id, KUPI dan Aman Indonesia, K.H. Husein Muhammad menyatakan bahwa Indonesia mempunyai sumber pengetahuan agama yang kaya raya, banyak sekali, dan berwarna-warni.

Ia menyebutkan, salah satunya adalah pandangan Imam Al-Ghazali sebagai berikut: “Orang yang pintar, orang yang cerdas, melihat sesuatu dari sisi substansi, esensi, dan tidak berkutat pada bentuk kulit.”

“Itulah yang selalu dinawa dalam tradisi pesantren. Sangat substansial melihat sesuatu.” Ujar Kiai yang pada tahun 2001 mendirikan beberapa lembaga swadaya masyarakat untuk isu-isu hak-hak perempuan yakni Rahima, Puan Amal Hayati, Fahmina Institute dan Alimat.

Imam Syafi’I menyatakan dalam persoalan pengaturan publik atau pengaturan negara sebagai berikut: “Pengaturan publik, sebuah bangsa, pemerintah, adalah apa yang sesuai yang sejalan yang tidak bertentangan, bukan yang tekstualitas.”

Baca Juga :  Ini Beda Cinta dan Nafsu dalam Tafsir Para Ulama

Ibnu Aqil dari Mahdzab Hambali juga menyatakan: “Pengaturan publik adalah kebijakan di mana masyarakat mendapatkan kemaslahatan kebaikan dan menjauhkan dari situasi yang memberatkan dan merugikan. Meskipun tidak ada ketentuan dari Nabi, meskipun tidak ada teks Al-Qur’annya.”

Mengutip Gus Dur, Kiai Husein menyatakan bahwa ada tiga gelombang Islam di Indonesia. Pertama, gelombang sufisme yang mengapresiasi semua kebudayaan. Kedua, para wali memasuki ruang-ruang kebudayaan. Ketiga, adanya fiqih plural atau pluralitas fiqih yang diajarkan di pesantren.

Tiga gelombang tersebut membentuk Indonesia menjadi negara yang sangat terbuka bagi banyak pemikiran keagamaan. Karena itulah ajaran Imam Syafi’I dinilai lebih moderat dan tepat untuk dipraktikkan di Indonesia sebab beliau adalah pemimpin dengan pandangan yang adil dan moderat.

Kiai Husein menjelaskan bahwa masalah yang dihadapi Muslim di Indonesia saat ini adalah sudut pandang tunggal dan cara berpikir yang tekstualis. Sumber masalahhnya adalah kondisi psikologis masyarakat yang tertindas.

Ketidakmampuan menghadapi perubahan-perubahan zaman yang terus-menerus ada membuat banyak orang terjebak pada kebenaran final di mana ia merasa benar sendiri dan tidak menghargai orang lain.

Banyak orang dengan pengetahuan tentang agama dari satu sudut pandang, maka yang lain menjadi salah. “Padahal, mestinya kita membaca pendapat yang berbeda. Meminimalisir indoktrinasi. Menghargai perbedaan pendapat dalam agama.” Lanjutnya.

Masalah tersebut mestinya menjadi perhatian seluruh umat Islam di Indonesia sebab sebagai bangsa yang plural, yang istimewa, sikap intoleran justru akan merusak keistimewaan Muslim di Indonesia dengan pluralitas dan konsep Islam Wasathiyahnya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here