Kehidupan Muhammad Sebelum Diutus Menjadi Nabi

0
410

BincangSyariah.Com – Muhammad tidak mewarisi harta apa pun dari ayahnya, bahkan dia dilahirkan dalam keadaan yatim, tak berayah dan tidak mampu, selanjutnya ia dititipkan pada kalangan Bani Sa’d. Ketika usianya sudah cukup untuk bekerja, maka ia mulai bekerja menggembala ternak bersama-sama saudara sepersusuannya di daerah pedalaman.

Begitu pula ketika ia kembali ke Makkah, ia pun bekerja menggembangbiakkan ternak milik penduduk kota Makkah dengan imbalan upa beberapa qirath emas sebagaimana yang telah dijelaskan imam Al-Bukhari di dalam kitab shahih-nya.

Tidak mengherankan jika para nabi melepaskan dirinya dari masalah duniawi dan kesibukan-kesibukannya karena hal ini merupakan keharusan bagi mereka. Seandainya mereka berada dalam kekayaan yang berlimpah, niscaya perkara duniawi akan melalaikan dan menyibukkan dirinya dari kebahagiaan ukhrawi yang abadi.

Oleh sebab itu, Anda pasti melihat semua syariat ilahi dan sepakat menganggap baik perbuatan zuhud (menjauhi keduniawian). Hal ini telah dibuktikan oleh para nabi zaman dahulu. Mereka merupakan saksi yang paling agung dalam masalah ini. Nabi Isa a.s. adalah orang yang paling menjauhi keduniawian, demikian pula apa yang telah dilakukan oleh Nabi Musa dan Nabi Ibrahim a.s.

Sewaktu masih kecil, mereka tidak hidup dalam kemewahan, tetapi mereka hidup dalam kesederhanaan. Hal itu merupakan hikmah yang agung dari Allah swt., sengaja dinampakkan oleh Allah swt. kepada nabi-nabiNya supaya mereka menjadi teladan buat para pengikutnya dalam mencegah diri dari mengejar keduniawian karena sesungguhnya perkara duniawi itu merupakan penyebab malapetaka dan musibah.

Demikian pula yang menggembalakan kambing atau domba, bukan hanya seorang nabi, melainkan semua pernah menggembalakannya sesuai dengan berita yang disampaikan oleh imam Al-Bukhari di dalam kitab Shahih­-nya dari Rasulullah saw.

Baca Juga :  Ini Doa yang Dibaca Ketika Sakit Gigi

Hal itu pun mengandung hikmah yang sangat besar karena seorang manusia jika menggembala kambing atau domba yang merupakan makhluk paling lemah, niscaya hatinya akan dipenuhi dengan rasa kasih sayang dan sikapnya akan menjadi lemah lembut. Jika ia beralih menggambala manusia, maka modal pertama yang berhasil diraihnya adalah dirinya terlepas dari sifat egois dan tidak ada kecenderungan untuk menganiaya, dan dengan demikian ia akan menjadi orang yang mempunyai kondisi paling prima untuk mengemban tugas berat ini.

Ketika Muhammad tumbuh menjadi seorang pemuda, ia mulai berdagang. Kawan yang pertama menjadi temannya saat itu adalah As-Saib ibnu Abu Saib. Ia pernah membawa dagangan Khadijah r.a. ke negeri Syam dengan imbalan upah yang diambil dari keuntungannya.

Setelah Khadijah menyatakan kesediaan untuk menikah dengannya, sedangkan Khadijah adalah seorang wanita pengusaha yang kaya, lalu Muhammad bekerja mengembangkan hartanya, dan dia selalu memakan dari hasil keringatnya sendiri. Allah swt. menyebutkan hal ini dalam surah Ad-Duha:

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى (6) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (7) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (8)

Bukanlah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. (Q.S. Ad-Dhuha/93: 6-8)

Allah swt. telah memberi perlindungan dan membuatnya berkecukupan sebelum masa kenabiannya dan sebelum ia mendapat hidayah berkat kenabian-nya. Selanjutnya Allah swt. memberinya petunjuk Al-Kitab, iman, dan agama nabi Ibrahim a.s., padahal sebelumnya ia tidak mengetahui tentang hal-hal tersebut. Allah swt. berfirman:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (52)

Baca Juga :  Arti Nama Bulan Dzulqa’dah

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (Q.S. Asy-Syura/42: 52)

Sumber: kitab Nurul Yaqin Fii Siirati Sayyidil Mursaliin karya Syekh Muhammad Al-Khudhari Bek.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here