Kehidupan Masa Kecil Sayyidah Aminah Ibunda Rasulullah 

0
1068

BincangSyariah.Com – Nama lengkapnya adalah Aminah binti Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luay bin Ghalib bin Fihr. Dalam kitab An-Nisa Khaula Ar-Rasul disebutkan bahwa ibunya bernama Barrah binti Abdul Uzza bin Usman bin Abdu Ad-Dar bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr.  Sayyidah Aminah diberi julukan Ibnu Zuhrah. Zuhrah adalah kakek tertua Sayyidah Aminah. Sebab beliau adalah saudara tertua dari Qushay. Zuhrah berada di Mekkah hingga akhir hayatnya. Keturunannya sering mengadakan kerja sama dengan keturunan Qushay.

Sayyidah Aminah dikenal sebagai wanita yang mempunyai kedudukan terpandang dari segi nasab, kota asal dan kedudukan. Semasa kecil, beliau  tinggal di rumah kuno Bani Zuhrah hingga beliau tumbuh dewasa. Bersama teman-temannya, beliau sering mengunjungi Ka’bah untuk melihat rumah-rumah sekitar Baitul Haram. Hal ini karena dua bani yang tinggal disekitar Baitul Haram adalah Bani Zuhrah dan Bani Hasyim. Dua Bani ini sering disebut sebagai pemilik perkampungan Arab yang paling terpandang.

Kehidupan Masa Kecil Ibunda Rasulullah SAW

Kehidupan Sayyidah Aminah begitu sederhana. Beliau sering bermain ke Ka’bah bersama teman-temannya untuk melihat orang-orang melakukan thawaf dan menuju tempat air zamzam. Sesekali beliau meminum airnya kemudian melanjutkan thawaf bersama orang-orang. Waktu itu, berhala masih banyak ditemukan di sekitar Ka’bah. Para penyembah berhala kerap mengatakan bahwa persembahan mereka terhadap Kabah adalah cara  untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hal  yang dilakukan oleh penyembah berhala itu membuatnya ragu.

Waktu kian berlalu, Sayyidah Aminah tumbuh dewasa. Banyak hal yang terlintas dalam benaknya. Para Rahib terkadang memberi kabar bahwa akan ada nabi di tengah umat ini. Banyak kaum wanita yang berharap bahwa nabi itu lahir dari rahim mereka terlebih ketika diberi kabar nabi itu berasal dari masyarakat Arab tepatnya penduduk kota Mekkah.

Suatu hari, Sayyidah Aminah masuk ke kamar pribadinya. Tiba-tiba kedua orang tuanya masuk dan menghampirinya, lalu berkata “Wahai Aminah, ayahmu akan membawamu ke Darun Nadwah, maka bersiaplah.” Dalam pikirannya terbesit bahwa tempat ini yang akan memisahkan antara waktu masa kecil dengan masa remaja. Sehingga beliau perlahan mulai meninggalkan masa kecilnya dengan menutup aurat.

Hari itu Sayyidah Aminah dibawa ke Darun Nadwah. Tempat ini biasanya digunakan untuk pelaksanaan acara pernikahan, khitanan dan beberapa acara besar. Sesampainya di tempat itu, beliau diberi hijab dan pakaian gamis. Wajahnya ditutup. Hal ini pertanda dirinya sudah menginjak dewasa.

Dalam kitab Bulugh Al-Arib Ma’rifah Ahwal Al-Arab disebutkan konon tempat itu digunakan para wanita bani Zuhrah untuk berkumpul. Mereka berkumpul untuk mendengarkan ramalan dari Saudah binti Zuhrah. Tak lama kemudian ia bersuara “Wahai Bani Zuhrah, sesungguhnya ditengah kalian ada seorang putri yang akan melahirkan seorang anak pemberi peringatan, maka tunjukkanlah putri kalian.”

Tak berpikir panjang, para wanita itu langsung menggumpulkan putri mereka untuk dihadapkan pada peramal itu. Dan sekarang gilihan Barrah menunjukkan putrinya. Diceritakan bahwa peramal itu mempunyai sikap yang berbeda, tatapan peramal itu terlihat berbeda dibandingkan putri lainnya. Ia terlihat lebih lama memandang Sayyidah Aminah. Hingga Ia begitu mengamati gerak gerik darinya. Pada akhirnya ia mengela nafas dan mengatakan bahwa perempuan ini yang akan melahirkan seorang putra pemberi peringatatan.

Kebersamaannya dengan Abdullah

Dalam kitab Nisa’ Min Tarikh diceritakan bahwa Abdul Muththalib memiliki sepuluh putra. Namun kecenderungannya hanya kepada Abdullah. Hal itu tak disadari olehnya terlebih setelah pelaksanaan nadzar. (Baca: Pernikahan Abdullah dengan Aminah, Masa Mengandung, dan Melahirkan)

Suatu hari, Abdul Muththalib mendatangi perkampungan Bani Zuhrah. Hal itu diketahui oleh Wahb, beliau bergegas mendatangi Sayyidah Aminah. Matanya tampak berkaca-kaca. Seketika itu kedua mata Sayyidah Aminah ikut berlinang mendengar  kabar itu. Melihat kejadian itu sang ayah pun bisa membaca betapa bahagia hati putrinya itu. Kedua matanya menunjukkan kelapangan hati menerima perkawinan itu. Sayyidah Aminah dipersunting oleh Abdullah.

Dalam kesehariannya, Abdullah adalah seorang pedagang besar yang telah melakukan perjalanan hingga berbagai kota. Hingga suatu perjalanan , Abdullah jatuh sakit hingga wafat. Kala itu, Rasulullah masih dalam kandungan.

Setelah meninggalnya Abdullah. Sayyidah Aminah tetap mendatangi makam untuk melakukan ziarah. Hal itu telah dilakukannya setiap tahun. Pada saat Rasulullah berusia enam tahun, beliau berziarah  ke makam suaminya , namun setiba di Al-Abwa’  beliau wafat. Ada satu pendapat yang mengatakan bahwasanya Sayyidah Aminah dikebumikan di sana. (Baca: Wafatnya Aminah: Ibunda Nabi Muhammad saw.)

Wallahu A’lam Bisshawab

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here