Kehidupan Hewan Setelah Kematian dalam Islam

0
37

BincangSyariah.Com – Setiap makhluk hidup pasti akan mengalami kematian, baik itu tumbuhan hewan, maupun manusia. Manusia yang mati memiliki tanggung jawab perihal perbuatannya selama masih hidup di dunia. Dalam hal ini, manusia akan dihisab seluruh amal perbuatannya, sehingga dapat diadili apakah berhak memasuki surga atau harus terjebak dalam neraka. Lantas, bagaimana dengan kehidupan hewan setelah kematian? Apakah hewan juga diadili sebagaimana manusia?

Dalam kitab Tafsir Tanwirul Adzhan disebutkan bahwa ada beberapa hewan yang masuk surga. Hewan-hewan ini masuk surga lantaran banyak berjasa terhadap orang-orang saleh (orang yang taat kepada Allah). Sebagaimana dalam penjelasan berikut,

روى – انه يدخل الجنة مع المؤمنين على ما قال مقاتل عشرة من الحيونات تدخل الجنة نقاة صالح وعجل ابراهيم وكبش اسماعيل وبقرة موسى وحوت يونس وحمار عزير ونملة سليمان وهدهد بلقيس وكلب اصحاب الكهف وناقة محمد صلى اللـه عليه وسلم

Artinya : “Diriwayatkan sesungguhnya ada sepuluh hewan yang akan masuk surga seperti unta nabi Soleh, anak sapi nabi Ibrahim, domba nabi Ismail, sapi nabi Musa, ikan paus nabi Yunus, keledai uzair, semut nabi Sulaiman, burung hud-hud ratu Bilqis, anjing Ashabul kahfi dan untanya nabi Muhammad SAW.”

Riwayat di atas hanya menyebut  sepuluh hewan yang akan menikmati surga,  yaitu unta nabi Soleh, anak sapi nabi Ibrahim, domba nabi Ismail, sapi nabi Musa, ikan paus nabi Yunus, keledai uzair, semut nabi Sulaiman, burung hud-hud ratu Bilqis, anjing Ashabul kahfi dan unta nabi Muhammad Saw, sementara hewan yang lainnya masih belum memiliki kejelasan perihal kehidupannya setelah kematian.

Dalam firman Allah SWT pada surah Al-An’am ayat 38 disebutkan bahwa pada hari kiamat hewan-hewan akan dikumpulkan sebagaimana manusia. Sebagaimana dalam keterangan berikut,

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

Artinya : “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.”

Imam Suyuthi dalam kitab Al-Dur al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur memberikan penafsiran mengenai ayat tersebut. Beliau mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Abu hurairah Ra. Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa pada hari kiamat hewan-hewan akan dibangkitkan sebagaimana manusia, lalu atas keadilan Allah mereka diperintahkan untuk kembali menjadi tanah tanpa harus mempertanggung jawabkan perbuatan selama hidup didunia. Melihat hal ini, membuat orang kafir yang takut akan siksa menjadi iri dan berharap dijadikan tanah sebagaimana hewan tersebut. Hal ini sebagaimana keterangan berikut,

ما من دابة ولا طائر إلا ستحشر يوم القيامة ، ثم يقتص لبعضها من بعض حتى يقتص للجلحاء من ذات القرن ……… ثم يقال لهم كوني تراباً ، فعند ذلك يقول الكافر { يا ليتني كنت تراباً } [ النبأ : 40[

Artinya : “seluruh ciptaan akan dibangkitkan di hari kiamat, hewan yang melata, burung, semuanya (akan dibangkitkan). Kemudian, Allah Swt saat itu memanggil hewan yang bertanduk lalu berkata: “jadilah kalian tanah!” Karena itulah orang kafir pada berkata (agar tidak terkena azab) yang terdapat dalam surah al-Naba: 40, “seandainya saya menjadi tanah saja

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa pada hari kiamat nanti Allah akan membangkitkan hewan sebagaimana manusia. Dari beberapa hewan tersebut, ada sebagian yang Allah anugrahkan untuk mendapatkan surga lantaran berjasa kepada orang-orang saleh seperti unta nabi Soleh, anak sapi nabi Ibrahim, domba nabi Ismail, sapi nabi Musa, ikan paus nabi Yunus, keledai uzair, semut nabi Sulaiman, burung hud-hud ratu Bilqis, anjing Ashabul kahfi dan untanya nabi Muhammad SAW. Sementara, untuk hewan yang lainnya tidak dikenai beban pertanggung jawaban dan akan kembali menjadi tanah.

Demikian. Wallahu a’lam

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here