Kehadiran Hati Bersama Allah dalam Ajaran Tasawuf

2
741

BincangSyariah.Com – Dalam istilah tasawuf, hadhrah diartikan dengan kehadiran hati bersama Allah Swt. Menurut Yusuf Khaththar Muhammad dalam Mausu’ah al-Yusufiyyah fi Bayani Adillati as-Shufiyyah, Rasulullah menamai hadhrah dengan sebutan “hilaq adz-dzikr” atau halakah zikir, atau disebut juga dengan “majaalis ad-dzikr” atau mejelis zikir.

Abdul Wahab asy-Sya’rani dalam al-Minah as-Saniyyah menjelaskan, hadhratillah menurut ahli tasawuf adalah, seorang hamba melihat dirinya berada di hadapan Allah. selama dia melihat dirinya dalam kondisi seperti itu, maka dia sedang berada dalam hadirat Allah. Ketika hatinya terhijab, tidak lagi melihat dirinya berada di hadapan Allah, maka dia telah keluar dari hadirat Allah.

Asy-Sya’rani menambahkan, seseorang tidak akan bisa sampai ke hadirat Allah, kecuali dengan selalu berzikir mengingat Allah. Karena orang yang senantiasa berzikir, sirrinya akan bersih, dan siapa saja yang memiliki sirri yang bersih maka tempatnya adalah hadirat Allah.

Menurut Badiah Muhammad Abdul ‘Al dalam an-Naqsyabandiyah; Nasy’atuha wa Tathawwuruha lada at-Turk, zikir yang baik untuk diamalkan agar sampai pada hadirat Allah adalah zikir lafadzul jalalah “Allah”, karena nama “Allah” merupakan Asma’ al-A’dzam (nama yang paling mulia). Allah telah berfirman dalam hadis qudsi:

أَنَا مَعَ عَبْدِى حَيْثُمَا ذَكَرَنِى وَتَحَرَّكَتْ بِى شَفَتَاهُ

Aku bersama hambaku, dimana pun dia berzikir kepadaku, dan kedua bibirnya bergerak menyebut nama-Ku”. (HR. Bukhari)

Hadis tersebut menjelaskan bahwa Allah akan bersama dengan orang yang mengingat diri-Nya dengan zikir lisan, akan tetapi kebersamaan Allah akan lebih sempurna bersama orang-orang yang berzikir qalbi (zikir sirri). Karena zikir tersebut ada tiga tingkatan: zikir orang awam menggunakan lisan, zikir orang khusus menggunakan hati, dan zikirnya orang yang sangat khusus adalah fana’ (sirna) dari zikir mereka, tidak lagi merasakan zikir, bahkan hanya merasa musyahadah (memandang) Dzat Allah setiap saat.

Baca Juga :  K.H. Mahrus Aly: Ulama Kharismatik Serta Pejuang Kemerdekaan Indonesia

Ibnu Ajibah dalam Iqadzul Himam Syarah Matan Hikam menjelaskan, hadirnya hati bersama Allah ada tiga tingkatan, yaitu: hadhrah al-quluub (hadirnya hati), hadhrah al-arwaah (hadirnya ruh), dan hadhrah al-asraar (hadirnya sirri atau lathifah yang ada dalam hati).

Hadhrah al-qulub adalah untuk orang-orang yang ahli muraqabah (pengawasan), hadhrah al-arwaah untuk orang-orang yang ahli musyahadah (menyaksikan), dan hadhrah al-asraar untuk orang-orang yang ahli mukalamah (percakapan).

Alasan dari ketiga tingkatan tersebut adalah, ketika jiwa selalu dalam keadaan labil, terkadanag lupa dan terkadang ingat dengan Allah, maka jiwa tersebut masih berada dalam hadharah al-qulub. Ketika jiwa tersebut telah tenang dan merasa intim dengan Tuhan, maka jiwa tersebut disebut dengan ruh dan berada dalam hadhrah al-arwah. Dan ketika jiwa tersebut telah kokoh dan jernih maka dia menjadi sirri dari beberapa sirri Allah dan berada dalam hadhrah al-asrar.

Hadirat Allah adalah sesuatu yang suci dan mulia, yang tidak boleh dimasuki kecuali oleh orang-orang yang telah disucikan. Haram bagi hati yang junub untuk memasuki “masjid hadhrah”, dan yang dimaksud dengan junubnya hati adalah lalainya hati dari Tuhannya. Allah berfirman dalam surat an-Nisa’ ayat 43:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi...”

Ayat tersebut memberi isyarat bahwa seseorang tidak boleh melakukan “salat” atau memasuki hadirat Tuhan dalam keadaan mabuk duniawi atau mabuk dengan sesuatu selain-Nya, sampai dia sadar kembali dan bisa merenungkan apa yang dia ucapkan di hadapan Tuhan.

Baca Juga :  Pembunuhan Ali bin Abu Thalib dan Syair Mu'awiyah

Menurut Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi dalam Tasir Lathaif al-Isyarat, ahlul hadhrah memiliki keunggulan yang tidak sama sesuai dengan lathifah mereka masing-masing pada saat jiwa mereka sedang intim dengan Tuhan, merasakan pengalaman spiritual yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Di antara mereka ada yang musyahadah seminggu sekali, ada lagi yang merasa senantiasa berasa di hadirat Allah, ada juga yang merasakan musyahadah bersama-sama akan tetapi memiliki bagian yang tidak sama, karena bisa saja ketika banyak orang memandang objek yang sama, tetapi fokus pandangan mereka berbeda.

Menurut penjelasan Yusuf Khaththar, hadhrah merupakan pilar yang sangat penting dalam tasawuf. Hadhrah dilakukan dengan cara berkumpul bersamana untuk melakukan zikir, di bawah bimbingan seorang syekh atau wakilnya yang disebut dengan muqaddam.

Hadhrah dimulai dengan membaca ayat-ayat al-Quran, dilanjutkan dengan membaca nasyid karya para ulama-ulama ahli makrifat yang substansinya bersumber dari al-Quran, hadis, serta pemahaman para ulama billah, seperti: Syekh Abdul Ghani an-Nabulsi dan Ibnu al-Faridh.

Kemudian seluruh jamaah bersama-sama melaksanakan zikir, dan mereka terus melakukan zikir tersebut sampai syekh atau muqaddam memberi izin untuk berhenti. Setelah selesai, salah satu dari jamaah membaca ayat-ayat al-Quran kemudian ditutup dengan penjelasan tafsirnya oleh syekh atau wakilnya.

Pelaksanaan hadhrah semacam itu merupakan inovasi yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah atau biasa dikenal dengan istilah bid’ah hasanah. Dalil yang mendasari aktifitas hadhrah adalah keumuman firman Allah:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ …

 “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi…”(Q.S. Ali Imran [03] : 191)

Baca Juga :  Al-Madad dan Nadhrah dalam Ajaran Tasawuf

Rasulullah bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ )إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا(. قَالَ وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ )حِلَقُ الذِّكْرِ (

“Dari Anas bin Malik ra., sesungghunya Rasulullah Saw. bersabda, “Ketika kalian bertemu dengan taman surga, maka menggembalalah” Anas bertanya, “Apakah taman surga itu?” Rasul menjawab, “Perkumpulan zikir”. (HR. Turmudzi). []

Wallahu A’lam.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here