Kegagalan Cinta dalam Pandangan Sufi

2
6586

BincangSyariah.Com – Ibn Hazm Al-Andalusi, sufi penggagas mazhab Azh-Zhahiri di dalam Thauq Al-Hamamah (Tali Merpati), salah satu kitab yang menjelaskan perihal lika-liku cinta menyatakan, bahwa “cinta tak bisa didefinisikan, melainkan hanya bisa dirasakan melalui pengalaman dan penjiwaan yang mendalam”.

Seseorang, tidak akan bisa menjelaskan seperti apa cinta, ia hanya bisa merasakan melalui pengalaman-pengalaman dengan penuh penghayatan. Ia tidak bisa melukiskan cinta semata dengan menggunakan kata-kata atau tulisan.

Cinta mempunyai suatu yang rumit, di satu sisi ia bisa memberi nikmat dan kepuasan, di sisi yang lain justru ia bisa memberi kesengsaraan dan rasa sakit.

Akan tetapi, tidak ada yang salah dengan cinta. Sebab, menurut Ibn Hazm, cinta tak dimusuhi Agama dan tak dilarang. Cinta adalah urusan hati, dan murni anugerah dari Tuhan.

Oleh sebab itu, para sufi mencoba memanfaatkan anugerah Tuhan tersebut untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Kenikmatan dan kesengsaraan cinta “dimainkan” dengan keindahan yang begitu memesona. Sehingga, nyaris tidak ada perbedaan antara sengsara dan bahagia dalam cinta bagi mereka.

Di dalam tradisi kaum sufi, cinta adalah jalan yang harus ditempuh para salik (pencari Tuhan) untuk meniti jalan ilahi. Rabi’ah al-‘Adawiyyah, salah seorang sufi perempuan dengan corak (mazhab) mahabbah, pernah menampik surga dan hanya menginginkan ‘cinta’.

Bahkan lebih dari itu, Ibn ‘Arabi menggubah sebuah kidung tentang cinta. Beliau mengatakan:

ركا ئبه فالحب دينى وإيما نى # أدين بدين الحب اين توجهت

Cinta adalah kendaraanku. Ia menjadi agama sekaligus keyakinanku/ Aku beragama dengan agama cinta kemanapun ia menghadap.

Mahabbah atau cinta, bagi sebagian kalangan sufi memang memiliki suatu kedudukan istimewa di mata mereka. Salah seorang pujangga sufi ternama, Abdurrahman Jami mengutip sebuah kisah menarik tentang mahabbah di dalam pengantar karyanya berjudul Yusuf wa Zulaikha.

Dikisahkan, pernah suatu ketika ada seorang salik pergi menuju orang bijak untuk menginginkan bimbingan sufi kepadanya, lantas sang sufi menjawab: “jika kau belum merasakan sengsara di jalan cinta jangan datang kesini. Jatuh cintahlah dan rasakan sengsaranya baru kau boleh kembali kepada kami”.

Di dalam Alquran, cinta seorang salik atas Tuhan digambarkan oleh Nabi Ibrahim saat merenungkan Tuhan. Nabi Ibrahim mengatakan:

Baca Juga :  Menjadi Pencinta Sejati

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak bisa mecintai sesuatu yang tenggelam” (QS. Al-An’am 76)

Ayat di atas menunjukkan bahwa antara cinta dan penghambaan merupakan suatu yang tidak dapat dipisahkan. Tidak mungkin, seseorang akan menyembah hal yang tidak ia cintai. Pepatah arab mengatakan:

من أحب شيئا فهو عبده

Seseorang yang mencintai sesuatu, pasti ia menjadi hambanya.

Cinta dalam hal ini barangkali bisa dikatakan sebagai apa yang disebut dengan alienasi. Seperti dikemukakan oleh Hegel, Feurbach atau Marx, alienasi adalah sikap yang takluk, tak berdaya pada ciptaan sendiri. Cinta bisa timbul pada hati seseorang, kemudian ia menjadi bebas dan keluar dari dirinya, lebih perkasa ketimbang dirinya, sehingga membuat seorang takluk, bertekuk lutut padanya.

Akan tetapi, cinta yang ingin ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim saat merenungkan ketuhanan di atas bukanlah cinta picisan yang hanya sementara, melainkan cinta yang hakiki, cinta yang tidak akan pernah meninggalkan seorang yang mencintainya, cinta pada apa yang tidak fana. Tidak sudi kiranya ia bertekuk lutut pada cinta picisan yang fana.

Sebab, apa yang dicinta akan selalu diharap untuk senantiasa bersama dengan sang pecinta, sementara sesuatu yang timbul tenggelam sungguh tak pantas untuk dicinta. Bintang, meski menunjukkan pesona keindahannya dengan cahaya yang gemerlap, pada akhirnya hilang tenggelam, dan Nabi Ibrahim pun dibuatnya kecewa, hingga ia kembali mencari cinta lain.

Apa yang dirasakan oleh Nabi Ibrahim di atas menjadi semacam inspirasi bagi kalangan sufi untuk meniti jalan ilahi.

Dalam tradisi kaum sufi, hubungan antara pecinta dan kekasih, juga antara hamba dan Tuhan, hanya bisa terjalin melalui cinta.

Baca Juga :  Empat Kondisi Ini Dimakruhkan Membaca Alquran

Karenanya, bagi para sufi, segala jenis cinta tidak dapat diremehkan sekalipun masih berselubung materi atau syahwat. Sebab, segala jenis cinta adalah persiapan menuju Kebenaran Tertinggi.

Kegagalan cinta pun juga demikian. Jangan pernah sesali segala kegagalan jenis cinta, sebab hal itu juga akan menghantarkan pada cinta yang hakiki.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here