Kedudukan Manusia dalam Islam Menurut Pandangan Ali Syariati

0
13

BincangSyariah.Com – Berbicara tentang manusia seringkali berkaitan dengan faham humanisme yang memiliki semangat mengangkat derajat dan kedudukan manusia. Kelahiran humanisme sebenarnya merupakan kritik atas penempatan manusia dalam agama Kristen di Eropa abad pertengahan. Pengkultusan terhadap dogma gereja telah mengorbankan kedudukan manusia. Para pemikir brilian sekaliber Hypatea, Galileo, Bruno dan lainnya menjadi simbol pengkerdilan potensi manusia oleh agama.

Ketenaran humanisme di dunia bersamaan dengan pencerahan (aufklarung) menyebabkan kemajuan pesat peradaban Eropa (Hassan Hanafi, 2015: 69). Hal tersebut menjadikan agama sebagai elemen tertuduh atas ketertinggal peradaban manusia sekaligus institusi yang merendahkan kemanusiaan. Persekongkolan agama (gereja) dan negara bertolak belakang dengan spirit kemajuan filsafat dan ilmu pengetahuan (F. Budi Hardiman, 2012:8).

Peradaban Barat menempatkan agama di pihak yang berlawanan dengan ilmu pengetahuan. Sedangkan ilmu pengetahuan merupakan bagian penting dari potensi kemanusiaan. Islam justru memiliki pandangan yang jauh berbeda dari tuduhan tersebut. Ali Syariati, seorang sarjana muslim memiliki pandangan menarik tentang manusia dalam Islam.

Ali Syariati merupakan cendekiawan muslim asal Iran yang hidup di abad ke-20 M. Karirnya sebagai sosiolog muslim diakui oleh sarjana Barat dan Timur. Nama Ali Syariati semakin bersinar ketika revolusi Iran berhasil meletus. Ia merupakan salah satu sosok intelektual yang berhasil menyemai gagasan Islam progresif di tengah rezim otoritarian Reza Syah Pahlevi yang mengabaikan kemanusiaan. Salah satu pandangan yang menarik dari pemikirannya ialah manusia dalam Islam.

Pandangannya tentang kedudukan manusia disandarkan kepada sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Quran. Menurutnya, bahasa Al-Quran adalah bahasa simbolik yang menyampaikan maknanya dengan simbol dan imaji. Meskipun secara kejelasan makna, bahasa eksposisi lebih jelas dibanding bahasa simbolik. Tapi baginya, bahasa simbolik tepat bagi Al-Quran karena melahirkan keberagaman makna, sehingga makna Al-Quran dapat dipahami umatnya yang beragam jenis manusia dalam rentang masa yang lama (Ali Syariati, 1995: 2-4).

Dalam memahami manusia dalam perspektif Islam, ia menganalisa proses penciptaan Adam. Dari sanalah, analisisnya tentang manusia diuraikan. Di dalam sebuah buku kumpulan kuliah-kuliah Ali Syariati yang berjudul Mand and Islam (1982), ia menyebut bahwa penciptaan makhluk yang disebut manusia merupakan keinginan Tuhan untuk menciptakan khalifah-Nya di bumi.

Hal yang menarik dari penciptaan manusia menurut Ali Syariati yaitu terjadinya pertemuan dua dimensi yang berlawanan. Pada satu sisi, manusia diciptakan dari tanah (QS. 55: 4), di sisi lain Tuhan juga meniupkan Ruh-Nya ke dalam manusia (QS. 32: 7). Ia memaknai bahwa manusia dalam Islam tidak bisa dipisahkan dari dimensi jasmani (tanah) sekaligus ruhani (Roh Tuhan). Dari sinilah nantinya kritik Ali Syariati terhadap humanisme barat dikembangkan.

Selain itu, ia memaknai dua dimensi ini sebagai sebuah potensi dan kehendak bebas manusia. Manusia atas izin Tuhan diberikan pilihan untuk memilih derajat kerendahan yang disimbolkan oleh tanah dan air mani atau luhurnya derajat keilahian yang disimbolkan oleh Ruh Tuhan. Dalam konteks khazanah ilmu tasawuf, pilihan pertama akan menjerumuskan manusia ke dasar kehinaan, sedangkan pilihan kedua akan membawa menuju maqom tertinggi, berjumpa ke Dzat Yang Maha Tinggi.

Setelah mengurai proses penciptaan manusia, Ali Syariati menyebut proses pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam diri manusia. Al-Quran menyimbolkan hal tersebut dengan narasi Tuhan mengajarkan nama-nama kepada manusia yang tidak diketahui malaikat (QS. 2: 32). Ini mencerminkan bahwa potensi intelektual manusia dalam Islam sangat ditonjolkan, bahkan ia menjadi karakter bagi makhluk Allah yang paling sempurna ini.

Ali Syariati menyadari betul bahwa melalui pendidikan, manusia akan mampu menjadi makhluk paling mulia. Pada saat berhadap-hadapan dengan dinasti Pahlevi, ia lebih memilih jalur gerakan intelektual. Hingga pada akhirnya, pencerahan-pencerahan yang dilakukannya menuai keberhasilan yang ditandai dengan revolusi Iran yang menggemparkan masyarakat di belahan dunia.

Pendidikan atau pencerahan melalui pengetahuan dapat menyelamatkan peradaban manusia dari kehancuran. Menurut Ali Syariati, kegagalan peradaban modern Barat dikarenakan menihilkan dimensi ruhani yang menjadi bagian dalam diri manusia. Kemajuan sains dan teknologi yang lepas kendali tergelincir dari cita-cita kemanusiaan. Sebaliknya, agama-agama juga cenderung pada satu dimensi yang lain, yairu ukhrowi oriented, sehingga agama dirasa jauh peran dan kontribusinya bagi kehidupan sosial.

Maka dari itu, Islam dalam pandangan Ali Syariati memposisikan manusia sebagai wakil Allah di dunia dengan dua kutub dimensi yang harus berimbang. Pengetahuan atau pendidikan adalah jalan yang tepat ntuk menjaga keseimbangan kutub duniawi dan ukhrowi tersebut. Sudah saatnya Islam dipandang sebagai agama dengan Tuhan, Nabi dan Kitab Suci yang mendorong umatnya memiliki kesalehan spiritual sekaligus membangun peradaban di bumi dalam rangka mewujudkan misi utama manusia menjadi wakil Allah di bumi.

Wallahu a’lam bis shawab

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here