Kecemburuan Istri-istri Rasulullah terhadap Shafiyyah

0
1564

BincangSyariah.Com – Cemburu merupakan tanda adanya cinta. Mustahil orang yang mengaku mencintai kekasihnya namun tidak memiliki rasa cemburu. Begitu pula dengan istri-istri Rasulullah Saw., yang begitu cemburu kepada Shafiyyah, karena kecantikannya yang menawan.

Bahkan mereka sampai bersikap sinis kepadanya. Hal ini membuat Shafiyyah sedih dan tidak percaya diri. Namun karena Rasulullah Saw. selalu menjaga Shafiyyah dan menyikapinya dengan lemah lembut, akhirnya Shafiyyah merasa tenang dan percaya diri.

Pernah suatu ketika, Hafshah mengejek dan merendahkan Shafiyyah karena statusnya sebagai keturunan Yahudi sampai membuat Shafiyyah menangis. Saat Rasulullah Saw. mengetahui hal tersebut, Rasulullah Saw. segera meredamkan kesedihannya, dengan bersabda: “sesungguhnya engkau adalah putri seorang Nabi, pamanmu adalah seorang Nabi, suamimu juga seorang Nabi. Lantas, dengan alasan apa dia mengejekmu?” H.R. Tirmidzi

Rasulullah Saw. pun mengingatkan Hafshah dan bersabda kepadanya: “bertakwalah kepada Allah, wahai Hafshah!”

Sikap dan kata-kata Rasulullah Saw. ini pun menjadi penyejuk, penenang dan keamanan bagi Shafiyyah.

Pernah juga disebabkan kecemburuannya, Zainab pernah tidak diberikan hak gilir (bermalam) oleh Rasulullah Saw. karena ia pernah melontarkan kata-kata yang menyakitkan Shafiyyah.

Aisyah meriwayatkan, “Rasulullah Saw. tengah dalam perjalanan menunaikan ibadah haji. Tiba-tiba, unta Shafiyyah sakit, sedangkan unta Zainab berlebih. Rasulullah Saw. pun berkata kepada Zainab, ‘Unta tunggangan Shafiyyah sakit, maukah engkau memberikan salah satu untamu?’ Zainab menjawab, ‘akankah aku member kepada seorang perempuan Yahudi?’ Akhitnya, Rasulullah Saw. meninggalkan Zainab pada bulan Dzulhijjah dan Muharram. Artinya, beliau tidak mendatangi Zainab selama tiga bulan. Zainab berkata, ‘hingga aku putus asa dan memindahkan tempat tidurku.’

Dalam riwayat lain dari Shafiyyah, bahwa keadaan itu berlangsung sampai bulan Rabi’ul Awwal saat Zainab menyadari kesalahannya dan memohon maaf atas perlakuan buruknya terhadap Shafiyyah. Pada bulan Rabi’ul Awwal itu barulah Rasulullah Saw. mendatangi Zainab lagi. Zainab bertanya, “wahai Rasulullah, apa yang harus aku perbuat?”

Sebelumnya, Zainab mempunyai seorang budak perempuan yang didapatkan dari Rasulullah Saw. Zainab pun segera berkata kepada suaminya yang baru datang kembali ke tempatnya, “budak ini untukmy wahai Rasulullah.”

Rasulullah Saw. lalu berjalan memasuki rumah Zainab dan menghampiri ranjang Zainab yang lama disimpan. Beliau meletakkan ranjang tersebut dengan tangannya dan Rasulullah Saw. telah ridha terhadap Zainab.

Baca Juga :  Pandangan Ibnu Khaldun mengenai Igauan Para Sufi

Tak hanya Hafshah dan Zainab, kecemburuan yang dalam juga dialami oleh Aisyah. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al-Nasai, dari Aisyah, ia berkata: “aku tidak pernah melihat orang yang pandai memasak seperti halnya Shafiyyah. Suatu hari, dia membuatkan makanan untuk Rasulullah Saw., yang ketika itu beliau sedang berada di rumahku. Seketika itu badanku gemetar karena cemburu. Lalu aku memecahkan wadah makanan milik Shafiyyah itu. Aku pun menyesal sendiri. Aku bertanya, ‘wahai Rasulullah, apa tebusan atas perbuatan yang aku lakukan ini?’ beliau menjawab, ‘mengganti dengan wadah yang sama.’

Dalam riwayat Ibnu Majah ada tambahan riwayat, bahwa ketika Aisyah memecahkan wadah milik Aisyah tersebut, Rasulullah Saw. mengumpulkan makanan yang berserakan dan menyuruh sahabatnya yang ketika itu sedang bersama Rasulullah Saw. untuk memakan makanan tersebut, lalu beliau bersabda: “ibu kalian (Aisyah) sedang cemburu.”

Dalam kesempatan lain, beberapa istri Rasulullah Saw. termasuk Aisyah dan Shafiyyah turut mendampingi perjalanan suaminya. Aisyah menunggangi unta yang kuat dengan barang bawaan yang lebih sedikit, sebaliknya Shafiyyah menunggangi unta yang lemah dengan barang bawaan yang lebih banyak. Karenanya, perjalanan menjadi lambat karena harus menunggu Shafiyyah yang tertinggal.

Rasulullah Saw. pun menyuruh sahabatnya untuk menukarkan unta Aisyah dengan unta Shafiyyah agar perjalanan menjadi lebih cepat. Akan tetapi, Aisyah tidak bersedia menerimanya. “bagaimana bisa wahai Rasulullah, engkau mengenyampingkan kita dan lebih mendahulukan wanita Yahudi itu?” kata Aisyah penuh emosi.

Rasulullah Saw. segera mengingatkan Aisyah bahwa beban tunggangan unta Shafiyyah bertolak belakang dengan kondisi tubuhnya masing-masing. Rasulullah Saw. meminta pengertian dari Aisyah.

Aisyah masih belum bisa menerima, “bukankah engkau ini Rasulullah?”, kata Aisyah.

Baca Juga :  Persahabatan Rasulullah dengan Pembesar Kafir Quraisy

“apakah engkau meragukanku, wahai Ummu Abdillah?,” jawab Rasulullah Saw. sambil tersenyum.

“kalau begitu, mengapa engkau tidak adil?” sergah Aisyah.

Tiba-tiba Abu Bakr Al-Shiddiq mendekati Aisyah dan bermaksud menampar putrinya itu. Untung Rasulullah Saw. segera mencegahnya. “sabar, Abu Bakr, sabar. Maklum saja, wanita yang sedang cemburu itu tidak bisa melihat dasar lembah walau dari atasnya.” H.R. Ibnu Hibban

Aisyah juga mengetahui bahwa Shafiyyah memiliki postur tubuh yang tidak tinggo, hingga dia pernah berkata kepada Rasulullah Saw. “Shafiyyah itu begini” sambil memberi isyarat dengan tangannya untuk menunjukkan postur tubuh Shafiyyah.

Lalu Rasulullah Saw. bersabda: “sungguh engkau telah melontarkan suatu kalimat yang jika kalimat itu dicampurkan ke dalam air laut, ia akan membuat seluruh air laut itu menjadi tawar.” (H.R. Abu Daud)

Meskipun Aisyah dan istri-istri lainnya beberapa kali merasa cemburu kepada Shafiyyah, tapi hal itu tidak pernah berlangsung lama. Di luar hal-hal itu, Shafiyyah selalu berdiri di pihak Aisyah.

Begitulah perlakuan Aisyah terhadap Shafiyyah, yang hanya disebabkan rasa cemburu belaka, bukan karena membenci madunya itu.

Kecemburuan seperti itu akan menghinggapi setiap wanita yang dimadu oleh suaminya, tak terkecuali Aisyah r.a. dan istri-istri Rasulullah Saw. yang lain.

Namun selayaknya kita memahami bahwa istri-istri Rasulullah Saw. memiliki keistimewaan yang membedakan mereka dengan wanita lainnya.

Mereka berada pada tingkat tertinggi dari yang bisa dicapai kaumnya. Perselisihan yang terjadi di antara mereka ini hanya karena kecemburuan semata.

Pun mereka dapat menyelesaikan perselisihan itu secara baik. Selayaknya para muslimah dapat mengambil brah (pelajaran) berharga dari mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here