Kebijakan yang Diambil Umar bin Abd al-Aziz Usai Dilantik Sebagai Amir Al-Mu’minin

0
773

BincangSyariah.Com – Suatu hari, istri Umar bin Abd al-Aziz (681-720 M), menemui suaminya sedang bersedih hati di tempat dia biasa shalat. Ia bertanya, “Aduhai pemimpin umat, ada apa gerangan, sampai pipimu basah?”

Umar menjawab, “Sayangku, aku diberi amanat untuk memimpin umat Muhammad yang begitu banyak dan beragam (plural). Ada yang berkulit hitam, ada yang berkulit merah. Aku memikirkan mereka yang miskin, lapar, sakit, telanjang, lelah, disakiti, dipaksa, diasingkan, dipenjara, tua-renta, rumah gubuk penuh anak-anak yang papa, anak-anak jalanan dan manusia lain yang menderita seperti mereka. Mereka bertebaran di banyak tempat di bumi ini. Aku tahu, Tuhan akan meminta pertanggungjawabanku kelak pada hari kiamat. Aku sangat takut bila aku tak mampu menjawabnya. Itulah sebabnya mengapa aku mengalami keprihatinan seperti ini.”

Lalu langkah apa yang ingin dilakukannya untuk mengurangi beban tanggungjawab yang begitu besar?

Kebijakan pertama yang diambil Umar bin Abd al-Aziz, usai pelantikannya sebagai amir al-mu’minin (“pemimpin kaum beriman”), menggantikan Sulaiman bin Abd al-Malik, adalah memecat para menterinya yang korup, yang bertindak represif dan tiranik. Umar memanggil mereka untuk menghadap.

Kepada Syuraik bin Ardha (salah satu di antara mereka), Umar mengatakan, “Kamu sekarang aku berhentikan. Aku pecat! Kamu acap menganiaya rakyat, menghukum mereka dengan cara memerintahkan mereka berdiri di bawah terik matahari. Kamu juga suka mencambuk mereka dan juga membuat mereka menderita kelaparan berhari-hari. Sementara kamu duduk nyaman di dalam kemah dan pakaianmu terbuat dari sutra halus yang mahal.”

Kebijakannya kedua adalah ketika Jarrah bin Abd Allah, Gubernur Khurasan (Iran dan Afganistan) mengirim surat kepadanya. Isinya: ”Yang Mulia, rakyat Khurasan benar-benar telah rusak. Mereka hanya menjadi masyarakat yang baik dengan cara dihukum dengan pedang atau dicambuk. Saya berharap tuan mengizinkan saya melakukannya.”

Baca Juga :  Membaca Tafsir Masjid Salman ITB: Surat At-Takatsur

Umar membalas surat itu dengan mengatakan, ”Aku telah menerima suratmu. Cara berpikirmu keliru. Kamu telah berbohong! Perbaikan terhadap mereka bukan dengan cara-cara kekerasan seperti yang kamu harapkan itu, tetapi dengan menegakkan keadilan dan kebenaran. Lakukan itu! Salam.”[]

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here