Keberagaman di Temanggung: Dari Penghayat Kepercayaan Sampai Jaran Kepang

0
30

BincangSyariah.Com – Keberagaman di Temanggung pernah disebutkan Ganjar Pranowo sebagai contoh yang menarik. Menurut Ganjar, ada banyak desa di Temanggung yang mampu merawat keindonesiaan yang baik. Keragaman agama dan kepercayaan yang ada membuat masyarakatnya mampu hidup rukun, bersatu dan membangun desanya secara bersama-sama.

Toleransi dan kerukunan yang erat di Temanggung adalah aset penting yang harus terus dijaga. Ganjar menyatakan bahwa Temanggung bisa menjadi gambaran yang sebenarnya dari Indonesia. Ia merasa senang dan bangga.

“Mari sampaikan pesan damai dan toleransi ini kepada bangsa. Dari Kaloran, mari kita wujudkan Indonesia yang toleran,” imbau dia, dilansir laman resmi Humas Pemprov Jateng tahun 2019 lalu.

Untuk mengeksplorasi keberagaman di Temanggung, sebuah program bernama Peace Train ke-11 yang diselenggarakan di sana pada 15 s/d 17 Januari 2021. Peace Train diselenggarakan oleh Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) yang didukung oleh Demokrasi.id, Kabar Sejuk, Jaringan Gusdurian, Radio Santika FM, dan lain-lain.

Melihat Keberagaman di Gereja Santo Yusuf

Peace Train 11 melibatkan berjumlah 15 orang, terdiri dari 7 perempuan dan 8 laki-laki. Peace Train 11 adalah kegiatan Peace Train pertama yang dilaksanakan selama pandemi Covid-19 berlangsung.

Kunjungan toleransi pertama untuk mengeksplorasi keberagaman di Temanggung berlangsung di Gereja Yusuf, Kaloran, Temanggung. Dalam kunjungan tersebut, Yb. Romo Ibnu Fajar Muhammad, MSF. memaparkan tentang sejarah Gereja Santo Yusuf yang berdiri tahun 1950 dan kondisi 40 gereja yang ada di Kabupaten Temanggung.

Selain itu, Romo Fajar juga menyampaikan tentang relasi umat Katolik dengan masyarakat non-katolik di Temanggung. Diskusi dengan peserta berlanjut, topik pembahasan sangat beragam, mulai dari politik identitas sampai politik internasional.

Kegiatan ini telah mendapatkan izin dari Satgas Covid-19 Temanggung dan berlangsung sejak Jumat, 15 Januari 2021 sampai Minggu, 17 Januari 2021. Peace Train 11 menempuh rute Jakarta-Temanggung dengan tema kegiatan “Merawat Kebhinnekaan di Era Pandemi”. Peserta berangkat dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta, menuju Stasiun Waleri lalu melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju Desa Krecek.

Terkait kujungan ke gereja, Christy Yuhas Dini, peserta Peace Train dari kalangan Baha’i mengaku mendapatkan pengetahuan baru. “Terbukti bahwa ternyata ada nama Muslim yang ternyata seorang Romo. Kita tidak bisa menilai dari cover atau dari nama saja. Misalkan namaku, Christy, tapi tidak beragama Kristen.” Ia menambahkan, “akar dari semua masalah adalah karena ketidaktahuan. Perlu ada dialog terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman.”

Merawat Kebhinnekaan di Era Pandemi

Pandemi Covid-19 tidak membuat semangat para peserta Peace Train 11 rute Jakarta-Temanggung meredup. Upaya merawat kebhinnekan di era pandemi tak boleh redup. Selain berkunjung ke tempat-tempat ibadah berbagai agama, salah satu tempat lain yang dikunjungi adalah Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Acara dimulai dengan arahan dari Joko Prasetyono, Satgas Covid-19 Temanggung. Ia menegaskan bahwa kegiatan Peace Train 11 telah diizinkan Satgas Covid-19 sebab tetap mematuhi protokol kesehatan. Ia juga menjelaskan bahwa bencana terbagi menjadi dua yakni bencana alam dan bencaba di luar alam. Dahulu, bencana non-alam jarang populer, namun kini umat manusia menghadapi pandemi Covid-19.

Di Temanggung, orang yang terkonfirmasi virus Corona berjumlah 3.119 kasus. Saat ini, hanya tersisa 94 orang. Joko menegaskan bahwa para peserta Peace Train 11 mesti memastikan telah taat dengan protokol kesehatan.

“Jika badan merasa tidak sehat, maka harus segera istirahat.” Pesannya kepada para peserta.

Peace Train Indonesia kali ini membawa dua misi. Pertama, ajang bagi generasi muda dalam peran sertanya merawat kebinekaan dan perdamaian di era pandemi. Kedua, kampanye hidup sehat di era New Normal dengan selalu mematuhi protokal kesehatan yang diatur oleh pemerintah.

Nurdin Wahid, S.Pdi, Direktur Radio Santika FM di PCNU Temanggung menyatakan bahwa ia dan timnya siap mendampingi kegiatan Peace Train yang telah menginspirasi anak-anak muda. Menurutnya, Kabupaten Temanggung  adalah kota yang tepat untuk dikunjungi sebab masyarakatnya memiliki latar belakang yang sangat beragam tapi tidak pernah ada konflik.

“Napas perjuangan Peace Train dan Radio Santika FM sama dan harus saling mendukung. Apa yang selama ini diperjuangkan oleh teman-teman di media cetak dan elektronik didukung oleh perjuangan edukasi yang dilakukan oleh Peace Train.” Terangnya.

Menurutnya, hidup di dunia harus belajar dengan kenyataan bahwa Tuhan menciptakan manusia sedemikian rupa dengan keberagaman. Bisa saja Tuhan menciptakan manusia dengan kesamaan tapi manusia diciptakan beragam, tergantung bagaimana menyikapi semua perbedaan yang ada.

Ia melanjutkan, “semakin kita dewasa dan berwawasan luas, perbedaan adalah sunnatullah. Allah Swt. menciptakan perbedaan untuk manusia, apakah perbedaan menjadi rahmat dan kasih sayang, ataukah menjadi sesuatu yang sangat merugikan.”

Kunjungan ditutup dengan wawancara para peserta oleh kru Radio Santika FM. Wawancara dilakukan dengan mekanisme physical distancing dan protokol kesehatan yang telah diatur oleh pemerintah.

Belajar Tentang Agama Buddha di Klenteng

Tempat Ibadah Klenteng Tri Darma Cahaya Sakti menjadi destinasi terakhir di hari pertama Peace Train 11 rute Jakarta-Temanggung. Dipandu Bapak Pandita Edwin Nugraha, para peserta belajar tentang seluk-beluk agama Buddha termasuk tiga komponen Tri Darma dalam Buddha, tiga ajaran dari Buddha, Konghuchu, Lao-Tze.

“Masyarakat menjalani apa yang masing-masing disabdakan. Dalam ajaran agama Buddha, ada karma nasib, yakni nasib baik dan buruk. Semua ciri-cirinya sama. Ketiganya mesti ada.” Jelas Pandita Edwin kepada para peserta.

Klenteng Tri Darma Cahaya Sakti didirikan tahun 1890, 130 tahun yang lalu. Klenteng dengan pengurus 8 orang ini biasanya rutin dikunjungi komunitas Gusdurian setiap tahunnya. Sayangnya, tahun 2020 lalu tidak ada kunjungan karena pandemi Covid-19.

Usai mengunjungi Klenteng, para peserta melanjutkan kegiatan Malam Budaya. Kegiatan diisi dengan bedah buku Ngaji Toleransi karya Gus Yahya. Dalam buku tersebut, Gus Yahya menceritakan pengalaman toleransinya sebagai santri dari kalangan pesantren yang mempelajari Islam sebagai agama inklusif dan kebanggannya menjadi orang Kaloran yang meskipun masyarakatnya berbeda-beda keyakinan tapi tak pernah ada konflik terjadi.

“Cita-cita saya adalah menjadikan Koleran sebagai wisata kota toleran.” Terang dia kepada para peserta.

Richard, peserta asal Papua menceritakan pengalaman toleransi di kampung halamannya dengan menceritakan tentang filosofi Satu Tungku Tiga Batu. Selain itu, Kiky, peserta dari Monohon juga bercerita tentang pengalaman toleransi di kampung halamannya di mana masyarakat di sana saling berbagi makanan satu sama lain dalam perayaan hari-hari besar seperti Idul Fitri, Idul Adha, Paskah, dan Natal.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama Pak Sukoyo, Kepala Dusun Krecek. Acara juga dihadiri oleh Romo Fajar, Rektor Universitas Syailendra, Kades Getas, serta perwakilan Koramil dan kepolisian setempat.

Kandang Jaran di Temanggung

Ada empat tempat yang menjadi tujuan Peace Train 11 rute Jakarta-Temanggung di hari terakhir pada Minggu (17/1). Keempat tempat tersebut adalah mata air Jumprit yang airnya biasa diambil untuk upacara Waisak, Wapitt: destinasi wisata alam di Temanggung, Kandang Jaran: tempat pembuatan Jaran Kepang kesenian khas Temanggung, dan Rumah Kita. Jaran Kepang adalah salah satu bentuk keberagaman di Temanggung.

Para peserta mendapat pengetahuan tentang tanaman hidroponik dari Ir. Irawan Prasetyadi, MT., pemilik tempat wisata Wapitt. Selain itu, para peserta juga berdiskusi di Kandang Jaran. Kandang Jaran didirikan tahun 2010 oleh Supriwanto di Dusun Kembang Desa Dlimoyo Kecamatan Ngadirjo. Tahun 1931, pembuatan Jaran Kepang dimulai oleh Sang Mbah kemudian diteruskan oleh Sang Bapak pada tahun 1971. Supriwanto kemudian meneruskannya lagi setelah ia lulus sekolah.

“Membuat Jaran Kepang adalah panggilan jiwa sebab saya suka dengan kesenian Jaran Kepang. Saya ingin Jaran Kepang dikenal banyak orang. Orang-orang kadung tahu bahwa Jaran Kepang dikaitkan dengan mistis, padahal tidak.” Terang dia kepada para peserta.

Saat ini telah berdiri Paguyuban Jaran Kepang Temanggung (PJKT) dari 20 kecamatan pegiat Jaran Kepang dan menjadi trendsetter di wilayah Jawa Tengah. Terkait hal ini, Supriwanto mengaku bahwa alasannya adalah karena Jaran Kepang di Temanggung mengedepankan kreasi, bukan atraksi. Sementara itu, pemasaran Jaran Kepang di Kandang Jaran sudah sampai ke Malaysia.

Richard Riruma, peserta dari Papua menyatakan bahwa Peace Train merupakan langkah yang paling konkret dalam menghidupi toleransi di Indonesia. “Saya punya mimpi bahwa di Papua ada orang Papua yg beragama Hindu, Buddha atau agama-agama lainnya, dan mereka duduk sama-sama menghidupi toleransi.” Tegas dia.

Perjalanan Peace Train 11 berakhir di Rumah Kita, sebuah tempat berkumpulnya anak-anak muda untuk mengadu ide di Dusun Demangan, Kecamatan Ngaderjo, Kabupaten Temanggung. Adi Budiawan, pengampu Rumah Kita berharap semua peserta bisa mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan baru dari kunjungan-kunjungan dan bisa kembali ke Temanggung dengan melaksanakan kegiatan yang serupa untuk mengeksplorasi keberagaman di Temanggung lebih jauh.[]

(Baca: Inayah Wahid: Perbedaan dan Keberagaman adalah Rahmat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here