Kaum Nabi Hud, Kota Iram dan Wilayah al-Ahqaf (Yaman)

0
4842

BincangSyariah.Com – Nabi Hud as sebagaimana diceritakan dalam Qur’an surat al-A’raf ayat 69 merupakan pewaris kaum Nuh melalui jalur Sam. Beliau adalah putra Abdullah bin Rabah bin al-Khulud bin ‘Ad dan salah satu Post-Deluvian Prophets atau nabi-nabi pasca banjir besar Nuh yang diutus untuk kaummnya yang bernama kaum ‘Ad.

Menurut Ibnu Katsir, nenek moyang kaum ‘Ad adalah generasi ke-4 dari Nabi Nuh as, yaitu Ad bin Aush bin Sam bin Nuh as.

Kaum ‘Ad atau bangsa ‘Ad dikelompokkan sebagai al-‘Arab al-Ba’idah atau bangsa Arab yang telah punah sebagaimana bangsa Tasm, Jadis, Samud, Imliq, al-Wabar, dan Abd-Dakhm.

Al-Quran menyebut kaum Ad setelah kaum Luth dan Samud. Kaum Luth semasa dengan Nabi Ibrahim as yang diperkirakan hidup antara abad ke-18 dan ke-17 SM.

Sedang kaum Samud diperkirakan masanya sejak abad ke-8 SM. Untuk kaum ‘Ad sendiri diperkirakan hidup pada tahun 2000-an SM. Pendapat ini diperkuat oleh adanya ayat al-Quran yang menyebut kaum ‘Ad sebagai pelanjut kaum Nabi Nuh as.

Al-Qur’an menggambarkan kaum ‘Ad sebagai kaum superior, dalam surat al-A’raf ayat 7 dikisahkan mereka memiliki kekuatan dan perawakan tubuh yang lebih besar dibanding umat sebelumnya. Hal ini menyebabkan munculnya tafsir berlebihan dalam menggambarkan tubuh kaum ‘Ad.

Ada yang menyebut tubuh mereka setinggi pohon kurma, setinggi 12 hasta, dan ada pula yang menyebut antara 400 sampai 500 hasta.

Dalam as-Syu’ara ayat 133-134 mereka dikisahkan mempunyai banyak keturunan, hewan ternak, kebun-kebun dan mata air. Pada ayat tersebut tampak jelas bahwa pencapaian tingkat kebudayaan kaum Nabi Hud lebih maju dibandigkan kaum Nabi Nuh.

Penggunaan kata ‘kebun’ dan ‘binatang ternak’ menunjukkan bahwa kaum Nabi Hud telah memiliki kemampuan bercocok tanam dan berternak, ini adalah kemampuan yang dikembangkan manusia pada masa Neolitik.

Baca Juga :  Pandangan Ibnu Khaldun mengenai Igauan Para Sufi

Pada ayat 128-129 dalam surat yang sama Allah mengisahkan bahwa mereka mendirikan bangunan-bangunan, membuat istana dan benteng-benteng di atas perbukitan dan berharap akan hidup kekal. ‘Bangunan’, ‘istana’ dan ‘benteng’ bukanlah bangunan sederhana, ia berbentuk besar, tinggi, dan tebal sehingga dibutuhkan banyak manusia dan kemampuan mobilisasi massa serta teknologi tinggi untuk membangunnya.

Ini menegaskan bahwa kaum Hud cukup besar dan berkembang sedemikian rupa sehingga beberapa mufassir tidak lagi menyebutnya kaum melainkan negeri.

Nabi Hud menjalankan kerasulannya di kota Iram, Irama Dlatil Imad sebagaimana disebutkan dua kali dalam al-Quran merupakan ibu kota kaum ‘Ad di wilayah timur Hadramaut tepatnya di wilayah ar-Rub’ al-Khali di daerah luas Arab Saudi selatan.

Daerah itu diperkirakan berkelok-kelok di daerah yang membentang dari Hisma di Sinai sampai daerah suku Syamr. Wilayah ini dikenal juga dengan nama al-Ahqaf yang secara harfiah berarti bukit-bukit pasir yang miring.

Pendapat lain mengatakan Iram terletak di Damaskus karena berhubungan dengan Aram yang berkuasa di Damaskus sejak abad ke-11 SM. Ada pula mufassir yang menyebut Iram sebagai nama pahlawan ‘Ad dan pilar-pilar itu diibaratkan sebagai tubuhnya.

Dari penjelasan tentang kaum ‘Ad yang terdapat dalam al-Quran, dapat digambarkan bahwa kaum ‘Ad adalah kaum yang tidak mempercayai kerasulan Nabi Hud as. Surat Hud ayat 50-60 menjelaskan usaha Nabi Hud menyeru kaumnya untuk menyembah Allah swt, mengajak mereka untuk memohon ampun dan bertaubat kepada Allah swt agar diturunkan hujan yang memberi kesuburan bagi negeri mereka. Kaum ‘Ad menolak ajaran Nabi Hud, menuduhnya gila dan menantang untuk mendatangkan siksaan dari Allah.

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah berkata, para mufassir menyebutkan bahwa ketika kaum ‘Ad meminta disegerakan adzab sebagaimana dikisahkan dalam surat Hud ayat 52, Allah swt memulai dengan menahan hujan selama tiga tahun.

Baca Juga :  Imam Syafii; Ahli Fikih yang Pandai Menyair

Kaum ‘Ad mengutus delegasi berjumlah sekitar 70 orang untuk mencari air. Kemudian salah seorang pemuka agama mereka yang bernama Qail bin Anaz berdo’a untuk kaummnya lalu Allah mengirimkan tiga awan yaitu putih, merah dan hitam,  mereka diseru dari langit “Pilihlah untukmu dan kaummu dari awan ini.” Qail menjawab, “Aku memilih yang berwarna hitam.”

Qail menyangka bahwa awan hitam adalah awan yang membawa hujan untuk mereka. Kemudian Allah mengirimkan awan hitam yang telah dipilih Qail kepada kaum ‘Ad hingga awan itu keluar di sebuah lembah yang dinamakan al-Mughits.

Penduduk kaum ‘Ad melihatnya dan mereka bergembira ria, mereka berkata, “Inilah hujan untuk kami!”. Allah swt berfirman dalam surat al-Ahqaf ayat 24-25: “Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan)! bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang terlihat lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.”

Lalu Allah swt menggerakkan awan hitam tersebut 7 hari berturut-turut mengepung mereka. Tidak ada seorangpun yang dibiarkan hidup di desa kaum ‘Ad, sementara Nabi Hud as dan orang-orang yang telah beriman terlebih dahulu pergi dari kaumnya, mengasingkan diri dan menghindar dari adzab dan siksa Allah yang pedih.

Allah menyerupakan kaum itu dengan tunggul pohon kurma yang tidak memiliki kepala karena angin waktu itu mendatangi mereka dan mengangkat mereka ke atas dengan kencangnya lalu memutar kepala-kepala mereka hingga putus dan yang tersisa hanya jasad tanpa kepala.

Baca Juga :  Dzul Khalasah, Kabah Tandingan di Yaman

Beberapa dari mereka ada yang mengungsi ke gua dan gunung karena rumah-rumah mereka telah hancur. Kemudian Allah mengutus angin al-Aqim, yaitu angin panas yang disertai nyala api di belakangnya.

Kaum ‘Ad yang tersisa menyangka angin inilah yang akan menyelamatkan mereka. Padahal angin ini justru mengumpulkan mereka semua dalam pusaran hawa dingin dan panas yang sangat membinasakan. Inilah adzab angin terdahsyat dalam sejarah yang pernah terjadi di muka bumi disertai dengan teriakan-teriakan yang amat memilukan dari kaum ‘Ad. Inilah adzab yang mereka minta untuk disegerakan kedatangannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here