Kau Adalah Aku yang Lain

0
705

BincangSyariah.Com – Seorang penyair klasik nan bijakbestari menyenandungkan puisi manis,

Dari cinta kita berasal

Dari cinta kita terlahir

Di bawah naungan cinta kita menyusuri jalan

Dan demi cinta kita akan pulang

Cinta dan kasih adalah visi dari semua agama-agama, etika kemanusiaan dan tradisi-tradisi spiritual sepanjang zaman. Tidak ada kode etik kemanusiaan yang mengungguli cinta. Ia adalah awal dan akhir perjalanan manusia.

Kaum muslimin diajarkan untuk selalu membaca bismi Llah al-rahman al-rahim, “dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang”, pada setiap salat dan ketika akan mengerjakan hal-hal yang baik.

Para rasul (utusan Tuhan) hadir untuk tugas membangun etika kemanusiaan yang didasarkan atas cinta dan kasih sayang, membebaskan penderitaan umat manusia yang diakibatkan oleh penindasan secara kultural maupun struktural dan menebarkan cahaya ilmu pengetahuan karena dengan ilmu orang akan memahami semesta ciptaan Tuhan.

Kau adalah Aku yang lain

Prinsip utama dari visi cinta adalah “engkau adalah aku.” Mengenai ini, saya teringat pada cerita seorang bijak bestari. Katanya, “Aku mengetuk pintu rumah temanku. “Siapa?” jawab temanku. “Ini aku,” kataku. Pintu tak dia buka. Aku mengetuk sekali lagi. Dia bilang lagi, “Siapa?” Aku bilang, “Kau”. Dia membukakan pintunya dan memelukku erat-erat seraya berbisik, “Kau adalah aku. Teman sejati bagaikan cermin diri.”

Cinta sejati mengubah dua jiwa menjadi satu. Al-Hallaj, seorang sufi legendaris, menggubah puisi indah,

 انا مَنْ اَهْوَى وَمَنْ اَهْوَى انا

نَحْنُ رُوحَانِ حَلَلْنا بَدَنا

فَإِذا أَبصَرتَني أَبصَرتَه

وَإِذا أَبصَرتَهُ أَبصَرتَنا

Aku adalah orang yang mencinta

Dia yang mencinta adalah aku

Kami adalah dua ruh yang menyatu

Jika kau melihatku, kau melihatnya

Jika kau melihatnya, kau melihat kami

Baca Juga :  Al-Maqrizi dan Soal Perseteruan Bani Umayyah-Bani Hasyim

Di tempat lain, al-Hallaj mengatakan:

مُزِجَتْ رُوحُكَ رُوحِى

كَمَا تُمْزَجُ الخْمْرَةُ بِالْمَاءِ الزَّلَالِ

فَاِذَا مَسَّكَ شَيْءٌ مَسَّنِى

فَاِذَا اَنْتَ اَنَا فِى كُلِّ حَالٍ

Ruhmu bercampur ruhku

Bagai campuran air anggur dan air bening

Bila sesuatu menyentuhmu, ia menyentuhku

Maka kau adalah aku

Puisi di atas mengandung arti bahwa kita semua dituntut untuk selalu memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Karena dia adalah dirimu yang lain.[]

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here