Karya-karya Ilmuwan Islam yang Menakjubkan

0
15

BincangSyariah.Com – Ada banyak karya ilmuwan Islam yang menakjubkan. Karya-karya tersebut lahir di zaman keemasan Islam. Pada masa itu, kaum Muslimin sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.

Pada tahun 2014 silam, Hossein Askari yang merupakan guru besar politik dan bisnis internasional di Universitas George Washington melaksanakan studi untuk mengetahui negara mana yang paling banyak menerapkan nilai-nilai keislaman.

Hasil yang ia peroleh sangat mengejutkan. Dari 208 negara yang diteliti, ternyata tak satu pun negara Islam menduduki peringkat 25 besar. Negara paling Islami justru diraih oleh Irlandia, Denmark, Luksemburg, dan Selandia Baru. Urutan selanjutnya ada Swedia, Singapura, Finlandia, Norwegia, dan Belgia.

Lantas, bagaimana dengan negara-negara Islam?

Studi tersebut menunjukkan bahwa Malaysia hanya menempati peringkat ke-33. Negara Islam lain yang berada di posisi 50 besar adalah Kuwait di peringkat ke-48. Sementara itu, Arab Saudi berada di posisi ke-91 dan Qatar ke-111.

Dalam hasil studi tersebut, Hossein Askari menyatakan bahwa kebanyakan negara Islam menggunakan agama sebagai instrumen untuk mengendalikan negara.

“Kami menggarisbawahi bahwa banyak negara yang mengakui diri Islami tapi justru kerap berbuat tidak adil, korup, dan terbelakang. Faktanya mereka sama sekali tidak Islami,” Ujar Askari.

Ia menambahkan, “apabila sebuah negara memiliki ciri-ciri tak ada pemilihan, korup, opresif, memiliki pemimpin yang tak adil, tak ada kebebasan, kesenjangan sosial yang besar, tak mengedepankan dialog dan rekonsiliasi, negara itu tidak menunjukkan ciri-ciri Islami.”

Mengapa hasil studi tersebut terasa mengejutkan? Beberapa tokoh pernah menuliskan tentang faktor kejayaan Islam, salah satunya adalah Mulyadhi Kartanegara dalam buku Reaktualisasi Tradisi Ilmah Islam (2006).

Dalam buku tersebut, ia menyebutkan bahwa faktor paling penting yang membuat umat Islam berjaya di masa lalu adalah karena pada saat itu, umat Islam memiliki tradisi ilmiah. Tradisi ilmiah yang dimaksud adalah kegemaran belajar dan membaca serta kebiasaan berpikir kritis.

Baca Juga :  Ibnu Sina dan Problem Kemunduran Nalar

Ia menambahkan bahwa kaum Muslimin pada saat itu benar-benar terinspirasi oleh wahyu yang pertama kali turun. Wahyu tersebut adalah perintah membaca. Umat Islam pada saat itu benar-benar menjadikan kegiatan membaca sebagai budaya atau tradisi dalam kehidupan sehari-hari.

Hasil dari peradaban tersebut adalah lahirnya para ilmuwan handal di berbagai bidang keilmuan dengan karya-karya yang menakjubkan. Berikut adalah beberapa karya ilmuwan Islam yang menakjubkan:

Ibnu Sina atau di Barat disebut Avicenna adalah salah satu ilmuwan menakjubkan tersebut. Ia lebih dikenal sebagai bapak kedokteran dunia karena magnum opusnya, Al-Qanun Fi Al-Tibb atau The Canon of Medicine.

Selain itu, Ibnu Sina juga menjadi pakar di banyak bidang keilmuwan lain, seperti filsafat. Salah satu karyanya di bidang filsafat adalah Kitab al-Insaf. Kitab tersebut memuat 28.000 masalah filsafat dan ditulis hanya dalam waktu enam bulan.

Apabila diasumsikan setiap satu masalah membutuhkan satu halaman, maka Kitab al-Inshaf adalah buku setebal 28.000 halaman. Artinya, Ibnu Sina menulis lebih dari 155 halaman setiap hari selama enam bulan. (Baca: Kisah Perjalanan Ibnu Sina dalam Mencari Ilmu)

Tokoh lainnya Ibnu Jarir al-Thabari yang merupakan salah seorang pakar tafsir. Ia menulis 40 halaman setiap hari selama 40 tahun. Sebenarnya masih banyak contoh tokoh inspiratif lain yang menghasilkan karya ilmuwan Islam yang menakjubkan.

Dua karya dan kebiasaan tokoh di atas yang menggambarkan betapa sebagian besar usia tokoh-tokoh dihabiskan untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Kebiasaan tersebut dibarengi dengan ketekunan sehingga menghasilkan karya besar.

Hal ini diamini oleh Toby E. Huff yang menuliskan dalam buku The Rise of Early Modern Science (1993) bahwa sejak abad ke-8 sampai akhir abad ke-14, sains Islam adalah sains yang paling maju di dunia. Pada masa itu, sains Islam jauh melampaui sains Barat dan China.

Baca Juga :  Tiga Objek dalam Filsafat Islam yang Harus Kamu Tahu

Dari pemaparan di atas kita bisa menyimpulkan bahwa kaum Muslimin di masa lampau telah mencapai puncak peradaban Islam. Mereka membawa pencerahan untuk dunia karena mencintai ilmu pengetahuan.

Bangsa Barat mengalami kemajuan lantaran mereka mewarisi tradisi Islam tersebut. Sayangnya, umat Islam justru berbangga dengan kejayaan masa lalu dan tidak mewarisi tradisi tersebut. Maka, wajar apabila saat ini umat Islam menjadi terpuruk.

Mengapa kita hanya bernostalgia dengan masa lalu?[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here