BincangSyariah.Com – Sebulan yang lalu, Jumat 2 Dzul Qa’dah / 5 Agustus, bersama beberapa teman kami berniat mengikuti pelajaran Syekh Ali Jumah di Masjid Fadhil daerah Enam Oktober, Giza. Laksana gayung menyambut, karena pada kesempatan Jumat itu beliau tidak memiliki undangan atau khutbah di luar. Setibanya kami di Masjid Fadhil waktu tengah menunjukkan pukul 12 siang kurang 10 menit.

Di dalam masjid, jamaah terlihat syahdan dalam posisinya masing-masing, ada yang duduk sila, orang-orang tua di shaf belakang duduk di atas kursi, sambil menunggu azan Jumat dikumandangkan ada yang membaca Alquran dan ada juga yang berzikir. Tak lama kemudian azan pertama dikumandangkan. Syekh Majdi Asyur, khatib Jumat pada kesempatan saat itu sudah di dalam masjid, duduk tawarruk penuh krama dan wibawa, sambil menunggu Syekh Ali Jumah.

Namun tiba-tiba, hasbunallah wa ni’mal wakil, suara tembakan (seperti dari senjata laras panjang) memecah khidmat Jumat yang terdengar dari arah timur, pintu masuk utama masjid, pertama tujuh kali, selanjutnnya bertubi-tubi.

Keadaanpun pecah, para jamaah yang tadinya khusyu’ beralih bangkit dari duduk mereka, lari kesana kemari mencari perlindungan, saya melihat orang-orang tua merunduk mengumpat di sisi-sisi masjid dengan penuh kepasrahan, anak-anak kecil menangis, ada yang berlindung di balik mimbar, di balik tiang masjid, termasuk teman kami yang berada di area wudhu.

(Baca: Siapakah Dalang Percobaan Pembunuhan Syekh Ali Jumah)

Pertanyaan besar yang mengusik benak saat itu adalah siapa pelaku atas perbuatan senaif ini? Apa tujuan mereka? Mengapa hal ini bisa terjadi di tempat yang begitu mulia, pada hari yang sangat mulia, pada kesempatan orang-orang hendak menghadap Rabb-nya mendirikan salat?! Apakah mereka sudah tidak lagi mengindahkan apa-apa yang diagungkan Allah dan baginda Rasul?! Tiadakah sakralitas agama bagi mereka?! Apakah mereka tidak menimbang ekses mudharat yang diulahnya?!

Baca Juga :  Siapakah Dalang Percobaan Pembunuhan Syekh Ali Jum’ah?

Tiadakah mereka takut digolongkan oleh Allah sebagai “Siapa yang tidak lebih zalim dari pada orang yang menghalang-halangi seseorang untuk menyebut nama Allah di dalam masjid-mesjid-Nya dan berusaha merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalam masjid-Nya, kecuali dengan rasa takut kepada Allah. Di dunia mereka dalam kehinaan dan niscaya di akhirat mendapat siksa yang berat.” (QS. Al-Baqarah 114).

Saat itu kami sangat hawatir akan keselamatan Syekh Ali Jumah dan pasti keselamatan kami semua. Ikhlas dan doa adalah sebaik-baik sikap yang mampu membebaskan kami dari rasa hawatir di tengah gelontoran tembakan dari luar masjid yang mereka maksudkan untuk mencelakai guru kita Syekh Ali Jumah, hasbunallah wa ni’ma al-wakil.

Sesampainya guru kita Syekh Ali Jumah di dalam masjid, mereka terus menggelontorkan tembakan mereka seakan tak peduli ke mana peluru itu menyasar mengenai siapa saja yang berada di dalam masjid. Namun dengan izin Allah SWT, tiada satu pun dari gelontoran peluru tersebut yang menyentuh guru kita Syekh Ali Jumah.

Saat itu saya dan teman-teman berusaha berfikir positif, kami mendekat kepada para masyayikh, karena berdekatan dengan orang saleh mampu memberi ketenangan lahir batin. Syekh Majdi Asyur, Syekh Ahmad Hajin, Syekh Muhammad Awwadh Manqus, terlihat duduk penuh krama sambil berzikir dalam kewaspadaan di tengah suasana tidak karuan di dalam masjid.

Bahkan guru kita Syekh Ali Jumah yang merupakan sasaran utama peristiwa durjana tersebut, meski dikelilingi para jamaah dan ajudan yang menjaganya, dengan gagah berani beliau keluar dari kerumunan jamaah untuk menghampiri salah satu ajudan beliau yang tertembak di salah satu kakinya yang terjatuh tepat di depan pintu timur utama dalam masjid.

Baca Juga :  El-Bukhari Institute Buka Kelas Baru Sekolah Hadis Jilid II

Dan sungguh dalam keadaan genting seperti ini pun guru kita Syekh Ali Jumah masih memberi kepada kita pelajaran, betapapun getirnya keadaan beliau, beliau tetap memperhatikan keadaan orang lain, subhanallah.

Lalu tanpa diduga, Syekh Ali Jumah melangkah menaiki minbar dan memerintahkan muadzin untuk azan kedua, salat Jumat tetap didirikan! Beliau berkhutbah! Sungguh cahaya keimanan yang sangat kuat terpijar! Maulana Syekh Ali Jumah adalah seorang kesatria sejati, tidak sama sekali takut untuk mendirikan ibadah hanya karena teror makhluk yang lemah!

Dalam khutbah, setelah hamdallah dan salawat beliau menyampaikan bahwa mereka (pelaku teror), adalah segolongan orang yang tidak enggan berdusta atas diri mereka sendiri bahkan kepada Allah SWT, sehingga dusta bagi mereka seolah nafas hidup mereka.

Bagaimana tidak?! Syekh Ali Jumah lalu menerangkan “Bagaimana mungkin mereka membunuh seseorang yang berkata “Allah Tuhanku”. Sebuah frasa yang merupakan dasar tauhid dalam bergama! Siapa saja yang mengucapkannya adalah orang yang beriman, haram jiwanya! Sebuah frasa yang mampu membebaskan seseorang dari kejahiliyahan dalam berfikir dan bertingkah laku. Sebuah frasa yang mengikat pemeluknya dengan tanggungjawab dunia dan akhiratnya.

Lalu bagaimana mungkin mereka mengaku muslim dan beriman sedangkan pada saat yang sama mereka melakukan teror? Bahkan dalam sebuah riwayat oleh Rabī’ bin Habib al-Bashri bahwa baginda Nabi SAW mengecam “Bukanlah seorang muslim, siapa saja yang melakukan teror terhadap seorang muslim yang lain!”

Sebagai penutup kesan ringkas atas peristiwa ini, satu hal yang tidak dapat terlupakan adalah saat kami mendengar Syekh Ali Jumah berkata dalam khutbahnya “Sejak kecil saya sudah sering berdoa di hadapan Ka’bah Yang Mulia agar Allah memberikan syahadah saat saya diwafatkan-Nya” Air mata pun meleleh, haru dan sedih. Rasanya tidak percaya, karena kami masih ingin terus belajar dari keluhurannya, mengambil istifādah darinya, namun beliau meminta syahadah dari-Nya.

Baca Juga :  Sahabat Nabi yang Berbuka Puasa dengan Hubungan Intim

Ya Allah Yang Maha Menjaga, lindungilah guru-guru kami dari segala marabahaya yang datang dari keburukan makhluk-Mu. Ya Allah Yang Maha Memberi, anugerahkanlah kepada kami keberkahan ilmu yang Engkau titipkan dalam hamba-hmba pilihan-Mu, guru-guru kami. Semoga Allah senantiasa menjagamu, wahai guru. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here