Karamah Bukan Satu-satunya Tanda Kewalian

0
17

BincangSyariah.Com – Di antara tanda kewalian kekasih Allah itu orang yang dapat menjinakkan dan berdialog dengan hewan buas atau hewan mematikan. Alkisah, Suthan al-Auliya, Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani sedang menjelaskan konsep ridha kepada Allah di hadapan jemaahnya. Di tengah asyik menjelaskan, terjadilah sesuatu yang tak umum. Tak dinyana, seekor ular besar menimpanya. Anehnya lagi, Sang Syekh tetap tenang, tak sedikit pun merasa terganggu dengan kehadiran ular yang bisa saja mematuk atau melilitnya seketika itu. Ular itu pun menjinak, hanya masuk ke lengan gamisnya yang satu, lalu keluar dari sisi yang lain.

Demikianlah salah satu tanda kewalian Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani yang dituturkan Habib ‘Abddullah bin ‘Alawi al-Haddad dalam Risalah al-Mu’wanah. Kita tak ragu menyebutnya sebagai karamah karena sosok Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani sendiri dikenal luas sebagai Pemukanya Para Wali, dengan seganap reputasi religus-spritual yang juga tak bisa diragukan.

Jejak rekam kesalihan dan ketakwaan penting disebut untuk membedakan karamah dengan istidraj. Pun karamah hanya dianugerahkan kepada para wali. Para wali adalah orang-orang yang teguh imannya, dan mendalam ilmunya, tekun beramal saleh, serta pengikut setia Sunah Sang Nabi. Karamah juga bukan menjadi kesenangan, apalagi ajang  kebanggan.

Dalam Mafatih al-Ghaib, Fakhr al-Din al-Razi membedakan secara tegas antara pemilik karamah dengan istidraj. Bahwa karamah alih-alih menjadi kesenangan, justru menghadirkan kekhawatian bagi pemiliknya. “Para pemilik karamah tidak terhibur dengan adanya karamah. Bahkan ketika karamah itu tampak, ketakutannya kepada Allah semakin menguat. …. Ia khawatir jangan-jangan hal itu adalah istidraj.”

Sementara istidraj sebaliknya. Kerap kali istidraj menjadi ajang mencari kesenangan, dipertontonkan, dan dibangga-banggakan. “Dia yang dii­s­tidraj merasa terhibur oleh tampaknya kejadian luar biasa itu, sembari mengira bahwa ia memperolehnya karena memang berhak. Ketika itu ia mulai meremehkan orang lain, merasa lebih dari orang lain [sombong]. Saat itu pula ia merasa aman dari makar dan balasan Allah. Ia juga tak takut akan balasan dari Allah.”

Oleh karena itu, al-Razi memungkasi pendapatnya, “Kalau gelagat seperti itu muncul dari seseorang yang memilik karamah, justru itulah bukti bahwa sesungguhnya kejadian luar biasa itu bukan karamah melainkan istidraj.” Abu al-Qasim Al-Qusyairi juga telah mewanti-wanti kita, “Kalau kalian melihat seseorang berjalan di atas air atau terbang di udara, jangan terkecoh olehnya sebelum melihat bagaimana ia menyikapi larangan dan perintah Allah.”

Namun demikian, dalam perspektif sufisme, karamah yang dalam makna sempitnya adalah kejadian-kejadian luar biasa–bukanlah satu-satunya tanda kewalian seseorang. Kendati karamah dapat disebut penanda atau penguat status kewalian (terutama di mata manusaia), tiadanya karamah tidak lantas menjadi bukti tidak adanya pangkat kewalian.

Al-Qusyairi, dalam Risalah al-Qusyairiyah menyatakan, “Kalau seorang wali tidak memiliki karamah yang tampak di dunia, hal ini tidak lantas menciderai kewaliannya.” Mengomentari pendapat al-Qusyairi di atas, Syekh Zakariya al-Anshari menulis, “Bahkan terkadang, seorang wali yang tidak memiliki karamah bisa lebih utama daripada yang memiliki karamah. Sebab keutamaan sesunguhnya terletak pada bertambahnya keyakinan, dan bukan pada tampaknya karamah.”

Karamah juga tidak menjadikan seorang wali menjadi lebih unggul ketimbang wali lain yang tidak memiliki karamah. Mengutip Imam al-Syafi’i, “Tidak mesti wali yang memiliki karamah lebih utama dibanding dengan wali yang tidak punya karamah. Bahkan terkadang sebagian wali yang tak memiliki karamah justru lebih utama dibanding mereka yang memlikinya.”

Al-Syafi’i memberi alasan, “Karena karamah terkadang berfungsi menguatkan keyakinan pemiliknya. Juga sebagai bukti keteguhan dan keutamaannya, bukan afdlaliyah atau keterutamaannya. Sebab afdlaliyah hanya bisa diraih dengan kuatnya keyakinan dan kesempurnaan mengenal Allah.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here