Kala Hidup Tak Semanis Gula

0
922

BincangSyariah.Com – Dalam hidup, terkadang kita sering sekali dihadapkan dengan permasalahan-permasalahan rumit yang menjadikan kita putus asa dalam menjalani kehidupan ini. Permasalahan yang sering kita hadapi ada yang berat maupun ringan. Disamping itu juga kebahagiaan datang silih berganti seiring berjalannya waktu. Lantas, apa yang membuat kita berpikir bahwa hidup itu sangat rumit dan tak semanis gula?

Kita sering sekali merasa sangat terjatuh apabila dilanda oleh masalah yang kita tidak ketahui bagaimana memecahkan masalah tersebut. Sebenarnya pada saat itulah Allah SWT sedang menguji kita. Sabar adalah jalan terbaik saat Allah menguji dengan berbagai kesusahan dan permasalahan hidup. Yang demikian itu disebutnya dengan sebuah kebaikan. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah mengingatkan:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Hidup tak selamanya mulus dan manis layaknya gula yang mampu menimbulkan rasa manis pada setiap jenis makanan. Hidup juga butuh kesabaran dari apa yang tidak mengenakkan dalam hidup. Hidup juga butuh pengorbanan dari apa yang sepantasnya untuk kita korbankan. Dan hidup juga butuh keiklasan dari apa yang telah pergi dan yang bukan selayaknya milik kita. Akan ada saat-saat dimana kita terjebak dengan berbagai macam problema kehidupan dengan jenis yang berbeda.

Baca Juga :  Benarkah Cobaan atau Musibah sebagai Bukti Cinta Allah pada Hamba-Nya?

Hidup juga tak seterusnya sulit layaknya kopi yang pahit dan hidup juga tak selamanya manis layaknya gula. Kita bisa saja menambahkan gula pada kopi yang pahit sehingga terasa manis. Dan kita bisa saja sakit karena kebanyakan makan gula dan bisa saja gula juga akan berasa hambar tergantung pelarutnya. Namun akan terasa lebih nikmat apabila kita mencampur keduanya.

Begitu juga dalam kehidupan. Sulit atau tidaknya hidup yang kita jalani itu tergantung dari diri kita sendiri, bagaimana kita menghadapi hidup ini. Pesan Rasulullah dalam hadis di atas layaknya perlu dijadikan ditanam dalam sanubari, agar kita bisa terus ingat untuk bersyukur ketika  kesenangan datang menyapa dan bersabar ketika dihampiri kesusahan. Jika tak ada bahu untuk bersandar saat kesusahan, kita masih ada bumi untuk bersujud kepada-Nya. Dalam QS Al A’raf ayat 55 Allah menegaskan:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here