Kajian Shahih Bukhari Hadis Nomor 1; Aktivitas Dinilai Tergantung pada Niatnya

3
2376

BincangSyariah.Com – Sebelum memulai kajian kitab shahih al-Bukhari, penulis menyampaikan bahwa penomoran hadis ini mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Syekh Mushtafa Dib al-Bugha, Guru Besar Hadis dan Ilmunya di Universitas Damascus. Selain itu, rangkaian redaksi penyampaian hadis, seperti akhbarana, haddatsana, dan lain sebagainya diterjemahkan dengan ‘dari’. (Kisah Imam al-Bukhari Bangun Malam Puluhan Kali untuk Memeriksa Hafalan Hadis)

Insya Allah kajian terhadap Shahih al-Bukhari ini akan rutin dibahas hingga khatam. Penulis mengutip beberapa kitab syarah hadis atas Shahih al-Bukhari, seperti Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani, ‘Umdatul Qari karya al-Aini, dan Syarah Shahih al-Bukhari karya Ibnu Batthal. Pembahasan setiap hadis menitikberatkan hanya pada subtansi atau matan hadis, kecuali bila diperlukan atau ditemukan hal menarik terkait sanad hadis pada setiap nomor terkait. (Metodologi Penyusunan Kitab Shahih al-Bukhari)

حَدَّثَنَا الحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الأَنْصَارِيُّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى المِنْبَرِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»

Diriwayatkan dari al-Humaidi Abduulah bin al-Zubair; dari Sufyan; dari Yahya bin Sa‘id al-Anshari; dari Muhammad bin Ibrahim al-Taimi; dari ‘Alqamah bin Waqqash al-Laitsi; dari ‘Umar bin al-Khattab (yang berbicara) di atas Mimbar, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Perbuatan itu tergantung pada niatnya. Setiap seseorang itu akan mendapatkan apa yang ia niati. Orang yang (niat) hijrahnya untuk menggapai duniawi, atau perempuan yang akan dinikaihinya, maka itulah (niat) hijrah yang ia dapatkan.” (HR Bukhari).

Baca Juga :  Niat Salat Duha

Imam al-Bukhari mengawali kitabnya dengan topik bad’ul wahyi ‘permulaan wahyu’. Namun mengapa ia mengawalinya dengan hadis tentang niat? Imam Ibnu Hajar al-Asqalani membahas hal ini panjang lebar dalam Fathul Bari.

Pertama, Imam al-Bukhari mengawali hadis ini dengan perawi yang bernama al-Humaidi. Ia merupakan teman imam al-Syafii yang menuntut ilmu pada imam Ibnu ‘Uyainah. Selain itu, al-Humaidi memiliki klan Quraisy. Artinya, ia merupakan asli orang Mekah. Ini ada relevansinya dengan bab niat dan turunnya wahyu pertama kali. Wahyu pertama kali turun di Mekah, karena itu hadis yang disampaikan pun dicari yang berkaitan dengan Mekah, yaitu memilih perawi yang berasal dari Mekah, al-Humaidi.

Kedua, menurut al-Khattabi dan al-Ismaili, imam al-Bukhari tidak memasukkan tema tentang niat ini pada bab bad’ul wahyi ‘permulaan wahyu’. Imam al-Bukhari hanya mengingatkan dirinya sendiri betapa pentingnya memperbaiki niat dalam mengarang kitab hadisnya ini. Oleh karena itu, hadis ini tidak masuk pada topik permulaan wahyu.

Ketiga, dalam redaksi hadis di atas terdapat pernyataan bahwa Umar menyampaikan hadis tersebut di atas mimbar di hadapan para sahabat Nabi. Umar menjadikan hadis ini sebagai pembukaan dalam pidatonya. Oleh karena itu, Imam al-Bukari berpikir bahwa hadis ini cocok dijadikan untuk mengawali kitabnya.

Keempat, menurut Abu ‘Abdil Malik al-Bauni, hadis tentang niat dimasukkan dalam topik tentang wahyu itu karena Allah menciptakan Nabi Muhammad untuk bertauhid pada Allah dan menjauhkan diri dari berhala. Allah memberikan awal fenomenan Nabi Muhammad diangkat menjadi nabi, yaitu mimpi yang benar. Saat Nabi diberikan mimpi, ia berniat ikhlas dan mengasingkan diri ke gua hira. Allah pun menerima dan menyempurnakan nikmat Nabi.

Baca Juga :  Imam Lupa Niat Imaman Lillahi Ta‘ala, Apakah Mendapatkan Keutamaan Shalat Berjemaah?

Itulah beberapa uraian mengenai mengapa tema tentang niat ini masuk pada awal topik tentang bad’ul wahyi ‘permulaan wahyu’.

Mengenai hadis ini, Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Abdurrahman bin Mahdi, al-Syafii, Ahmad bin Hanbal, Ali bin al-Madini (guru Imam al-Bukhari), Abu Daud, al-Tirmidzi, al-Darqutni, Hamzah al-Kinani sepakat bahwa hadis tentang niat ini mencakup 1/3 keislaman. Artinya, 1/3 bab tentang Islam sudah tercakup dalam hadis tentang niat ini.

Ibnu Hajar mengutip pendapat Imam Ibnu Daqiq yang mengatakan bahwa ulama berbeda pendapat mengartikan innamal a’malu bin niyyat. Ada yang mengartikan ‘Kesahan amal (ibadah) itu hanya dengan niat’. Namun sebagian ulama lain mengartikannya, ‘kesempurnaan amal (ibadah) itu hanya dengan niat’. Artinya, ulama golongan pertama mengharuskan niat dalam setiap amal ibadah. Ulama lainnya hanya menganggap bahwa niat itu alat itu menyempurnakan ibadah. Pembahasan mengenai mana saja ibadah yang harus dengan niat atau tidak itu dibahas dalam kitab fikih. Wallahu a’lam bis showab.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here