Ka’ab al-Ahbar; Pendeta Yahudi dari Kalangan Tabiin yang Masuk Islam

0
1471

BincangSyariah.Com – Jumlah Yahudi yang memeluk Islam tidaklah banyak, sebagaimana dijelaskan oleh al-Quran:

وَلَكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا

“…akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali sedikit.”

Di antara golongan Yahudi yang mendapatkan hidayah Islam adalah seorang tabiin yang terkenal dengan sebutan Ka’ab al-Ahbar.

Nama dan Nasabnya   

Ibnu Asaqir dalam Tarikh Dimasyqa menyebutkan tiga versi Nasab Ka’ab al-Ahbar. Salah satunya sebagai berikut: Ka’ab bin Maati’ bin Haitu’ (atau Halsu’) bin Dzi Hajari bin Maitam bin Sa’ad bin ‘Auf bin ‘Adi bin Malik bin Zaid.

Berjuluk Abu Ishaq dan dipanggil dengan Ahbar atau Hibru atau Habru yang berarti tinta atau orang alim karena keluasan ilmunya. Sebelum memeluk Islam Ka’ab tinggal di Yaman dan menganut agama Yahudi. (Baca: Abdullah bin Salam; Pendeta Yahudi Ahli Surga)

Sebab Memeluk Islam

Ka’ab sebenarnya menemui zaman Nabi Muhammad akan tetapi tidak pernah bertemu beliau dan baru memeluk Islam setelah Nabi wafat. Abu Mashar berpendapat, Ka’ab masuk Islam di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq. Menurut Abu Nu’aim, Ka’ab masuk Islam pada masa pemerintahan Umar bin Khattab.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam al-Ishabah fi Tamyiizi ash-Shahabah bercerita: Suatu hari Abbas bertanya pada Ka’ab, “Apa yang menghalangimu, sehingga tidak memeluk Islam semenjak zaman Rasululah SAW dan Abu Bakar?”

Ka’ab menjawab, “Suatu hari ayahku menulis sebuah kitab untukku dari Taurat, dan berpesan, ‘Amalkanlah kitab ini!’ Ayah kemudian menyegel kitab itu, sementara kitab-kitab lain tidak ada yang disegel. Ayah memintaku berjanji atas nama hak ayah terhadap anaknya agar tidak membuka segel kitab tersebut. Ketika aku melihat Islam telah menyebar ke berbagai daerah, aku berkata dalam hati, “Mungkin ayah menyembunyikan sebuah ilmu dariku.” Maka segel itu aku buka, ternyata isinya adalah tentang ciri-ciri Nabi Muhammad dan umatnya.”

Baca Juga :  Al-Maqrizi dan Soal Perseteruan Bani Umayyah-Bani Hasyim

Ka’ab lalu berkata pada Abbas, “Maka sekarang aku datang sebagai seorang muslim.

 

Dikisahkan oleh Ibnu Abbas: pada masa pemerintahan Umar terjadi sebuah musibah, dan pada suatu malam Umar melakukan salat tahajjud dan membaca ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آَمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (al-Quran) yang membenarkan kitab yang ada pada kamu sebelum Kami mengubah muka (mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuki mereka sebagaimana Kami telah mengutuki orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu, dan ketetapan Allah pasti berlaku.”  (Q.S. An-Nisa [04] : 47)

Ayat tersebut membuat hati Ka’ab merasa gentar, dan keesokan harinya ia bergegas menemui Umar menanyakan maksud dari ayat tersebut. Dia berkata pada Umar, “Aku takut tidak bisa bertemu dengan waktu pagi lagi, karena Allah mengutukku dan merubah bentukku menjadi monyet.”

Sebagai Pembesar Ulama

Setelah memeluk Islam, Ka’ab banyak belajar al-Quran dan hadis pada para sahabat, sampai akhirnya berhasil menjadi salah satu pembesar ulama Islam dan banyak menyampaikan berita israiliyyat.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam al-Ishabah menjelaskan, Ka’ab meriwayatkan beberapa hadis Nabi secara mursal, juga meriwayatkan hadis dari para sahabat, seperti: Umar bin Khattab, Syuhaib dan Aisyah.

Selain itu, sebagian sahabat ada yang meriwayatkan hadis dari Ka’ab, yaitu: Ibnu Umar, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, dan Muawiyah. Periwayatan mereka tergolong sebagai periwayatan sahabat dari tabi’in, dan kaksus semacam ini jarang sekali terjadi.

Baca Juga :  Asal-Usul Pengaruh Ahli Kitab (Yahudi) atas Penulisan Hadis Nabi

Para pembesar tabi’in juga banyak yang meriwayatkan dari Ka’ab, yaitu: Abu Rafi’, Malik bin Amir, Sa’id bin Musayyab, Tabi’ al-Humairi (anak dari istri Ka’ab), ‘Atha, Abdillah bin Dhamrah as-Saluli, Abdillah bin Rabah dan lain sebagainya.

Beberapa berita yang diriwayatkan oleh Ka’ab al-Ahbar bisa dibaca dalam Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim al-Ashbihani.

Ka’ab adalah salah satu tabi’in yang memiliki integritas tinggi sebagaimana diakui oleh Mu’awiyah sebagaimana ditulis dalam Shahih Bukhari:

“Suatu hari Muawiyah berbicara dengan sekelompok kaum Quraisy di Madinah, dan di tengah pembicaraan itu ia menyinggung soal Ka’ab al-Ahbar, lalu mengatakan, “Sungguh Ka’ab adalah muhaddits yang paling jujur, yang mengisahkan berita dari Ahlul Kitab. Walaupun demikian kami tetap menguji kebohongannya.”

Maksud perkataan Muawiyah adalah, berita yang disampaikan Ka’ab terkadang ada yang salah; tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Akan tetapi kesalahan tersebut bukan berasal darinya, melainkan berasal dari Kitab Suci yang dikutip Ka’ab telah mengalami perubahan dan pemalsuan.

Dalam kesempatan lain Mu’awiyah mengatakan, “Ka’ab al-Ahbar adalah salah satu ulama yang memiliki ilmu seluas lautan…

Banyak penganut Ahlul Kitab yang memeluk Islam setelah bertemu dengan Ka’ab al-Ahbar, bahkan pernah ada empat puluh dua Rabi Yahudi masuk Islam setelah dibacakan firman Allah, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. Ali Imran [03] : 85)

Kalam Hikmah Ka’ab al-Ahbar

Ka’ab adalah lautan ilmu dan salah satu mutiara hikmahnya adalah: “Tangisanku karena takut kepada Allah lebih aku sukai, dari pada sedekah emas seberat diriku. Tidaklah kedua mata yang  menangis di dunia karena takut kepada Allah, kecuali Allah akan membuat keduanya gembira di akhirat.

Baca Juga :  Tradisi Mendoakan Arwah Leluhur dalam Bulan Sya’ban

Suatu hari Abdullah bin Salam berjumpa dengan Ka’ab al-Ahbar di dekat Umar bin Khattab. Abdullah bertanya, “Wahai Ka’ab! Siapakah orang yang berilmu itu?”

Ka’ab, “Orang yang mengamalkan ilmunya.”

Abdullah bertanya lagi, “Apa yang membuat ilmu itu hilang dari hati pemiliknya, padahal sebelumnya telah dihafalkan dan dipahami?”

Ka’ab menjawab, “Yang membuat ilmu itu hilang adalah sifat tamak, nafsu yang rakus, dan berharap pada manusia.”

Kematian Ka’ab

Ka’ab pernah tinggal di Madinah, pindah ke Syam, lalu tinggal di Himsha sampai meninggal dunia dalam sebuah perjalanan perang di akhir pemerintahan Utsman bin Affan pada tahun 32-H, atau 34-H berjarak satu tahun dari wafatnya Utsman.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here