K.H. Zainal Mustafa: Menolak Berkompromi dengan Penjajah

0
116

BincangSyariah.Com – KH. Zainal Mustafa, pimpinan pesantren Sukamanah Singaparna Tasikmalaya marah terhadap permintaan penjajah Jepang waktu itu agar para santri Sukamanah untuk menyembah kepada matahari (Seikerei). Ahmad Mansur Suryanegara dalam Api Sejarah Jilid 2 menjelaskan bahwa tindakan yang ia lakukan menyebabkan dirinya beserta dua puluh satu pimpinan pesantren lainnya ditangkap oleh sekutu. Lembaga pesantren kemudian dihancurkan, beberapa koleksi kitab pun dibakar, pun delapan puluh lima santrinya gugur.

Selain itu, ia pun mendesak sekutu Jepang untuk segera mewujudkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena ini merupakan perjanjian mereka dikarenakan kalah dalam perang Asia-Pasifik Raya oleh pihak sekutu. Menurut Abdul Aziz Thaba dan Affan Ghaffar dalam bukunya Islam dan Negara dalam Politik Orde Baru menyatakan bahwa perjuangan Mustafa berhasil dan terbentuklah sebuah maklumat Gunseiken nomor ke 23/29 tentang Pembentukan Badan Usaha-Usaaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 9 April 1945. Lantas bagaimana pengaruh Mustafa dalam menyematkan BPUPKI saat itu? Apa yang menjadikannya dinisbatkan sebagai pahlawan Nasional saat itu?

Pengasuh Pesantren Sukamanah

Ia adalah seorang kyai yang sangat berpengaruh di wilayah Tasikmalaya. Lahir di kampung Bageur desa Cimerah Kecamatan Singaparna Tasikmalaya. Mustafa memiliki peran besar dalam memerjuangkan ketahanan Republik Inonesia. Menurut Rosihon Anwar dalam bukunya Nahdlatul Ulama Jawa Barat: Sejarah dan Perkembangannya, ada beberapa versi mengenai kelahirannya. Mengutip Syarief Hidayat Danoemiharjo, Mustafa lahir pada 1907. Adapun berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh Rosihon Anwar, beliau dilahirkan pada tahun 1902 dan wafat pada 25 Oktober 1944 bertepatan saat menjalani hukuman tembak mati beserta para santrinya di Ancol Jakarta. ibunya bernama Ratmah dan ayahnya bernama Nawapi. Mustafa diasuh dan dibesarkan dalam keluarga petani yang taat beragama.

Semasa hidupnya, Zainal Mustafa belajar kepada K.H. Zainal Muhsin yang berada di Pesantren Cilenga Leuwisari selanjutnya ia melanjutkan untuk menimba ilmu di pesantren Sukamiskin Bandung dibawah bimbingan K.H. Dimyati. Tahun 1932, Mustafa mulai mendirikan lembaga Islam di kampung Cikembang yang dinamai pesantren Sukamanah. Menurut Anwar, pesantren yang didirikan Mustafa diatas tanah hibah diberikan oleh salah seorang warga Sukamanah, yaitu Hj. Jueriah.

Disamping itu, pada tahun 1922 telah didirikan sebuah Pesantren di kampung Bageur, Singaparna yaitu Sukahideng. Pesantren ini didirikan oleh KH.Zainal Muhsin (guru dari KH.Zainal Mustafa). Keduanya sangat akrab sehingga pada tahun 1928, Mustafa dan Muhsin menunaikan ibadah Haji bersama atas biaya salah satu warga Sukamanah yang dermawan. Kedekatannya dengan para santri Sukamanah mengajarkan banyak hal diantaranya

K.H. Zainal Mustafa Melawan Kolonial

Pada tahun 1930, Mustafa mulai terjun dalam dunia politik. Ia aktif dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama di kabupaten Tasikmalaya. Menurut Adi Prayitno dalam bukunya Darul Islam:Sebuah Pemberontakan mngutarakan bahwa pengaruh NU sudah mentradisi di beberapa pesantren Tasikmalaya.

Bersama KH. Ruhiyat, Mustafa berhasil mengembangkan Nahdlatul Ulama di wilayah Tasikmalaya. Mereka bahkan bisa mengajak para pengusaha untuk ikut berkontribusi mengembangkan NU di Tasikmalaya. Dengan kegigihannya, Mustafa tidak pernah lepas dari pengawasan pihak Intelijen Pemerintah Hindia Belanda ataupun pihak Pendidikan Jepang di Indonesia. Peristiwa 17 November 1941 merupakan kejutan yang mengenaskan bagi para tokoh priyai di Tasikmalaya. Para tokoh NU di Tasikmalaya seperti Mustafa, KH.Ruhiyat, Haji Siraj, Kyai Hambali, dan Kyai Syafii ditangkap oleh pasukan Belanda dan diasingkan di daerah Sukamiskin Bandung dengan tuduhan menghasut dan menggerakkan rakyat untuk melawan pemerintahan yang sah.

Mustafa juga pernah diasingkan kembali pada Februari 1942 karena sikap kerasnya yang fanatik dan tidak mau berkompromi dengan kolonialisme dan imperialisme Belanda-Jepang. Dalam buku yang ditulis oleh M.G. Ricklefs berjudul A New History of Southeast Asia menyatakan bahwa saat Jepang menguasai wilayah Indonesia, khususnya wilayah Jawa Barat, para pembesar Kyai Nahdlatul Ulama diberi keleluasaan dan kesempatan untuk bergabung dalamm beberapa kegiatan istimewa Jepang seperti urusan Kantor Pusat Pembelian Urusan Beras (Beikoku Tyao Kobaisyo) dan beberapa urusan lainnya. Mustafa pun ditawari untuk duduk di jabatan strategis sekutu Jepang dalam posisi Sendenbu (Biro Penerangan dan Propaganda Jepang).

Tawarannya ia tolak dengan keras dengan prinsip bekerjasama dengan penjajah sama artinya dengan mengingkari perjuangan para pahlawan terdahulu. Pun dengan penyaksian Mustafa terhadap masyarakat Tasikmalaya saat itu yang diwajibkan untuk kerja paksa (Romusha) yang penuh dengan kesengsaraan dan penderitaan  demi kepentingan mereka.

Kiprah Mustafa terhadap Negara banyak diakui oleh kalangan pembesar Negara sampai kalangan Ulama. Pada 23 Maret 1970, seorang Sejarawan,Nugroho Naotosusanto (Brigjen Tituler) berhasil menguak tabir kematian K.H. Zainal Mustafa beserta para santrinya. Notosusanto mengusulkan kepada pemerintah untuk memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Mustafa atas perjuangan heroiknya dalam melawan pendudukan Jepang di wilayah Tasikmalaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here