K.H. Ma’shoem Ahmad: Ulama Kharismatik dari Lasem, Rembang

0
95

Bincangsyariah.Com –  K.H. Ma’shoem Ahmad adalah seorang NU yang begitu karismatik. Dalam buku Mbah Ma’shoem Lasem: The Authorized Biography of K.H Ma’shoem Ahmad, karya M Lutfhi Thomafi, tercatat beliau dilahirkan sekitar 1868 di Lasem Rembang. Putra dari H. Ahmad dan Qosimah sebagai anak bungsu yang memiliki hubungan darah dengan sultan minangkabau, dan silsilahnya bersambung hingga Rasulullah SAW.

Beliau menikah dengan Muslichatun, tetapi perkawinan itu tidak berlangsung lama, karena istri beliau yang pertama meninggal dunia tanpa meninggalkan anak. Kemudian dari perkawinan yang kedua dengan putri dari Almarhum K.H Zein (Lasem), bernama Nuriati.

Mbah Ma’shoem dikaruniai 13 anak. Delapan diantaranya meninggal dahulu, hingga wafatnya beliau meninggalkan putra-putri 5 orang. Diantaranya K.H Ali Maksum (Pengasuh dan Pembina Pondok Pesantren Krapyak) di Yogyakarta, Hj. Fatimah (Istri K.H Maftuchin) di Lasem, K.H. A. Syakir (sekarang selaku pelaksana pengajian pada Pondok Pesantren Al-Hidayat) di Lasem, Azizah (Istri K.H Nu’man) di Lasem, dan Chamnah (Istri K. Sa’dullah Taslim) di Demak.

Karena Anti Kolonial, Belajar di Berbagai Pesantren

K.H Ma’shoem merupakan ulama yang sejak masa muda sangat anti pada kolonialisme Belanda dan fasisme Jepang. Representasi pandangannya itu tercermin dalam perjalanan intelektual beliau yang memilih pendidikan pesantren dari pada masuk sekolah formal.

Beliau belajar di berbagai pesantren di Jawa. Diantaranya adalah Pesantren Mlonggo di Jepara, Pesantren Sarang di Rembang, Pesantren Jamsarem di Solo, Pesantren Bangkalan di Madura dan Pesantren Tebuireng di Jombang.

Pada saat beliau mengaji pada Almarhum K.H. Umar di pondok Pesantren Sarang, beliau hanya berbekal dengan nasi kering (karak) sebanyak 3,5 kg dan uang 3,5 sen pada waktu itu. Beliau berjalan menuju Sarang ditempuh dengan berjalan kaki yang jaraknya sekitar kurang lebih 34 km. Selama 2-3 bulan beliau tidak pernah menerima kiriman apapun dari orang tuanya. Namun permulaan ujian tersebut sebagai batu ujian dengan sabar dan tawakkal.

Baca Juga :  Isi Doa Mbah Maimun Zubair di Samping Pak Jokowi

Berkah doa restu daru guru dan orang tuanya, beliau selama mengaji di Sarang tidak pernah kekurangan sesuatu. Dengan kepandaiannya dalam ilmu nahwu, dari sana sini datang rekan-rekan yang simpati dan sebaya minta dituliskan kitab-kitab tentang akar kata dalam bahasa Arab (sharaf) dengan terjemahannya dan ‘Imrithi (salah satu kitab tentang gramatika Arab) juga dengan terjemahannya. Untuk itu, beliau menerima semacam honorarium untuk tambahan selama mengaji.

Pengayom Umat Demi Bangsa dan Negara

Sebuah kisah yang penulis kutip dari buku Manaqib Mbah Ma’shoem Lasem yang ditulis santri beliau Sayyid Chaidar. Suatu ketika ada laporan kepada Mbah Ma’shoem, bahwa ada sebidang tanah milik WNI keturunan Tionghoa di Lasem akan digunakan untuk membangun sekolah Nasrani. Padahal jalanan yang terbentang di depan tanah yang akan dibangun tersebut, setiap waktu digunakan oleh santri-santri sekitar pondok Lasem untuk hilir mudik beraktifitas.

Melihat gelagat ini beliau cukup waspada, arif dan berpikir penuh prihatin. Timbullah pertanyaan, mengapa orang membangun bangunan ditempat ramai yang sudah berjejal-jejal dengan bangunan lain. Mengapa tidak menunjuk saja tanah yang masih luas dan kosong.

Yang dikhawatirkan beliau akan terjadi peristiwa keributan yang senada yang terjadi di tanah air, diantara umat beragama yang berlainan. Bukan mustahil, bilamana peristiwa keributan ditempat lain di tanah air akan merembes ke Lasem pada saat itu.

Sebagai ulama besar yang berjiwa besar dan selaku seorang ulama yang pernah mewakili umatnya duduk sebagai anggota Konstituante, maka rasa tanggung jawab terhadap keselamatan bangsa dan negara menjadi prioritas beliau.

Beliau tidak segan memanggil segenap pemimpin dan tokoh-tokoh Islam yang ada. Baik dari golongan partainya sendiri atau bukan. Juga pejabat dan syarikat desa yang bersangkutan turut diundang. Semuanya dimintai pertimbangan satu per satu.

Baca Juga :  Tantangan Ulama Perempuan Masa Kini

Di tengah-tengah berjalan musyawarah itu, tiba-tiba datang utusan kepolisian dari wilayah Lasem, bernama Irsyad Sutardi, yang langsung diterima dengan ramah tamah dan gembira oleh Mbah Ma’shoem. Ternyata kemudian, bahwa dengan hadirnya saudara Irsyad tadi jelannya musyawarah berjalan lancar. Dan diputuskan:

Pertama, menolak digunakannya tanah itu untuk gedung sekolah nasrani demi keamanan dan ketentraman semua pihak. Kedua, menyerahkan dan mempercayakan pelaksanaan penolakan itu kepada sadara Irsyad Sutardi selaku komandan Kepolisian Lasem waktu itu.

Sampai dimana kemudian keputusan instansi yang berwenang terhadap penolakan hasil musyawarah yang diprakasai oleh K.H Ma’shoem dengan dukungan para ulama’ dan kyai-kyai serta pejabat dan pemerintahan desa setempat. Sungguh arif dan bijaksana beliau mementingkan umatnya agar tidak terpecah belah.

Berpulangnya K.H Ma’shoem Keharibaan Allah SWT

K.H Ma’shoem berpulang pada usia 102 tahun pada hari jumat (12 Ramadhan 1392/22 Oktober 1972) jam 14.00 di Lasem, Rembang. Beliau wafat setelah menderita sakit karena usia yang sudah lanjut selama kurang lebih 6 bulan.

Jauh-jauh sebelum beliau berpulang keharibaan Allah SWT, di saat menjelang wafatnya paman beliau K.H Baidhowi, beliau pernah berkata kepda pamannya, “Saya akan menyusul dua tahun lagi andai kata hari ini paman wafat.”

Pamannya agak terkejut mendengar pernyataan Mbah Ma’shoem. Dan seperti diketahui, almarhum K.H Baidhowi wafat pada 12 syawal 1390 (11 Desember 1970. Dan kenyataannya Mbah Ma’shoem wafat pada 20 Oktober 1972. Subhanallah. Semoga kita dapat dikumpulkan kelak bersama orang-orang alim di surga. Amiin. Untuk mbah K.H Ma’shoem Ahmad, lahu al-Fatihah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here