K.H. Marzuqi Dahlan; Berbekal Kemauan Keras Menjadi Ulama Berwawasan Luas

0
122

BincangSyariah.Com – K.H. Marzuqi Dahlan adalah generasi penerus pengasuh Pondok Pesantren Libroboyo Kediri setelah K.H. Abdul Karim. Dalam buku 3 Tokoh Lirboyo (2011) disebutkan bahwa K.H. Marzuqi Dahlan adalah putra dari Kiai Dahlan. Ia dilahirkan pada tahun 1906. Ibundanya bernama Nyai Artimah. Nyai Artimah adalah putri dari Kiai Sholeh, Banjarmlati. Gus Juki adalah panggilan akrab K.H. Marzuqi Dahlan waktu kecil.

Gus Juki adalah putra  bungsu Kiai Dahlan. Ia memilki empat saudara. Kakak pertamanya perempuan, akan tetapi meninggal sejak kecil. Kakak keduanya adalah K.H. Ihsan Dahlan atau biasa kita kenal dengan Kiai Ihsan Jampes. Sang kakak adalah pengarang kitab Sirajutthalibin, sebuah syarah dari kitab Minhajul ‘Abidin karya Imam al-Ghozali. Kaka ketiganya adalah K.H. Ahmad Dasuki.

Selain nama-nama di atas, Gus Juki juga memiliki 5 saudara seayah setelah ayahandanya menikah lagi. Perkawinan kedua sang ayah memilki 3 orang putra dan 2 putri, yakni Kiai Baji, Kiai Muslim, K.H. Muhsin, Nyai Aminah dan seorang putri yang tidak jelas diketahui namanya.

Perjalanan Intelektual Gus Juki

Di Jampes, Kiai Dahlan tinggal dan mendirikan pesantren. Sebuah riwayat mengatakan bahwa Jampes bukanlah nama asli desa tersebut, melainkan singkatan dari Jam’iyyah Pesantren (Jampes). Penamaan Jampes ada setelah pesantren yang dibuat sang ayah berdiri.

Sebagai seorang putra Kiai, Gus Juki memulai perjalanan intelektualnya dari lingkungan tempat ibunya di Banjarmlati. Karena Gus Juki tidak lahir di Jampes, hari-harinya ia habiskan bersama sang kakek, Kiai Sholeh, sebagai pembimbing keilmuannya. Baru setelah beranjak usia belajar ia diminta pulang ke Jampes oleh sang ayah, Kiai Dahlan. Karena Gus Juki tidak betah di Jampes, ia memutuskan untuk kembali ke Banjarmlati. Ia belajar kitab kepada sang kakek seperti; aqidah, akhlaq dan Al-Qur’an.

Ketika usianya sudah beranjak remaja, Kiai Sholeh mengantarkannya mondok di Pesantren Lirboyo. Di sana ia belajar kepada Kiai Abdul Karim yang tak lain adalah pamannya. Belum puas ia menuntut ilmu di Lirboyo, ayahnya, Kiai Dahlan, meminta Gus Juki untuk kembali ke Jampes. Ia pun memenuhi permintaan sang ayah. Akan tetapi, untuk ke-2 kalinya Gus Juki tidak betah di rumah. Dan tanpa sepengetahuan sang ayah, Kiai Dahlan, ia pergi menuntut ilmu tanpa berbekal apapun kecuali hanya cengir (kencenge pikir) atau kemauan keras.

Ia menjejakkan kakinya di Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan K.H. Hasyim Asy’ari. Karena tidak berbekal apa-apa dari Jampes, sehari-hari di Tebuireng Gus Juki makan ala kadarnya. Bahkan ia hanya memakan daun ketela kering yang ia ambil dari kebun Kiai Hasyim. Ia begitu sabar dan tabah menjalani hari-harinya.

Tidak tega melihat sang putra, Kiai Dahlan pun menjemput Gus Juki ke Tebuireng dan diajak pulang. Entah kenapa, lagi-lagi ia tidak mau pulang. Ia kemudian menyusul pamannya, Kiai Asy’ari, yang mondok di Mojosari, Nganjuk. Dari Mojosari, Gus Juki melanjutkan pengembaraannya ke Kiai Khozin di Bendo, Para. Di Bendo, Gus Juki cukup lama menimba ilmu sampai usianya mencapai 20 tahun lebih.

Sementara di Jampes, sang kakak, Kiai Ihsan Jampes sudah terkenal dengan alim ‘allamah dalam bidang tasawuf. Kealiman sang kakak terdengar olehnya sehingga ia memutuskan  pulang dan belajar dengan kakaknya. Seteleh belajar kitab tasawuf dan menguasainya, ia pun sangat mumpuni untuk mengajarkan. Pada suatu saat ketika menjadi pengasuh Lirboyo ia memberikan pengajian kitab tasawuf Bidayatul Hidayah tanpa menggunakan teks. Demikianlah Gus Juki, seorang alim ‘allamah yang hanya berbekal kencenge pikir mampu menguasai berbagai bidang keilmuan.

K.H. Marzuqi Dahlan, Mempersunting Dua Putri Kiai Abdul Karim

Setelah mengembara ke berbagai pesantren, Kiai Abdul Karim menaruh hati padanya. Kiai Abdul Karim pun menjodohkannya dengan putri ke-4nya yang bernama Maryam. Pernikahan itu terjadi pada tahun 1936. Kiai Marzuqi di karunia sembilan orang anak. Mereka adalah Ahmad Idris, Salimah, Muslihah, Husnul Khotimah, Muhammad Thohir, Malihah, Bahrul Ulum dan Muhammad Akhlis.

Akan tetapi, pada tahun 1961, Nyai Maryam menghadap kehadirat-Nya. Padahal waktu itu, anak bugsunya baru berusia 2 tahun setengah. Kesedihannya pun terobati, karena tidak lama kemudian beliau menikah lagi dengan putri bungsu Kiai Abdul Karim, Nyai Qomariyah. Dari pernikahan yang kedua ini beliau dianugerahi seorang putra bernama Hasyim.

Wafatnya K.H. Marzuqi Dahlan

Dua tahun setelah menunaikan ibadah haji, kesehatannya mulai menurun dan sering sakit. Tepatnya pada Selasa, 24 Dzulqa’dah / 18 November 1975, langit Lirboyo menangis. Di pagi yang cerah itu, beliau — allah yarham — Kiai Marzuqi Dahlan dipanggil menuju ke hadirat-Nya. Banyak hal yang dapat kita tiru dari Kiai Marzuqi, terutama dalam ketekunannya menuntut ilmu dan lelaku riyadhoh. Tidak kurang 2.500 waktu itu menikmati luasnya cakrawala keilmuannya. Semoga kita dapat mengikuti jejak langkahnya. Khushushon ila Mbah Kiai Marzuqi Dahlan, al-Fatihah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here