K.H. Mahrus Aly: Ulama Kharismatik Serta Pejuang Kemerdekaan Indonesia

0
62

BincangSyariah.Com – Dalam buku 3 Tokoh Lirboyo (2011) yang disusun oleh Tim Sejarah Pesantren Lirboyo disebutkan bahwa KH. Mahrus Aly lahir pada tahun 1906.  Ayahnya bernama KH. Aly bin Abdul Aziz. Sedangkan ibunya bernama Nyai Hashinah bint KH. Said. Kiai Said menikahkah putrinya dengan putra Kiai Abdul Aziz, yakni Aly. Pernikah itu terjadi setelah Aly pulang dari menuntut ilmu selama 4 tahun di Mekkah. Setelah menikah, Aly ditempatkan di Gedongan untuk membantu sang mertua mengajar di pesantren.

Dari pernikahannya dengan Nyai Hashinah inilah, Kiai Aly dikarunia sembilan anak. Mereka adalah Muchtar, Afifi, Harmalah, Muslihah, Ismatul Maula, Jalaluddin, Yazid, Bilal dan yang terkhir Mahrus.

Perjalanan Intelektual KH. Mahrus Aly

Semasa kecil, KH. Mahrus Aly memiliki panggilan akrab Rusydi. Karir intelektual Rusydi dimulai sejak di rumah. Ia terlahir dari keluarga pesantren sehingga kepribadian Rusydi terbentuk sejak dini. Ia begitu nampak lincah, pemberani, rajin dalam belajar dan tekun beribadah. Ia juga memiliki kegemaran bersepeda dan bermain sepakbola. Rusydi kecil dikenal oleh teman-temannya memiliki sifat sakho’ (dermawan).

Rusydi mengaji Al-Qur’an kepada ayahnya sendiri, Kiai Aly. Dan dapat mengkhatamkan Al-Qur’an diusia 15 tahun. Setelah khatam ia baru belajar kitab, seperti; imrithy, sulam safinah, dan sulam taufiq dibawah bimbingan kakaknya, Kiai Ahmad Afifi. Cabang ilmu yang digemari Rusydi adalah ilmu gramatika bahasa Arab (nahwu-sharaf). Karena dengan menguasai ilmu tersebut, ilmu lainnya mudah untuk difahami. Tak jarang pula ia sering dimarahi sang kakak, Kiai Ahmad Afifi, karena lamban menerima pelajaran.

Di usia yang ke 18 tahun, Rusydi mengantongi izin dari sang ibu untuk mondok di luar Gedongan. Ia belajar disebuah pesantren yang terletak di daerah Panggung, Tegal. Pesantren besar yang juga masih milik keluarganya, yakni Kiai Mukhlas (kakak ipar Rusydi). Di pesantren kakaknya inilah Rusydi melanjutkan pelajaran al-Fiyah-nya. Serta beberapa kitab lain, seperti Ibnu ‘Aqil, Syarah Alfiyah, dan Bidayatul Bidayah karya Imam al-Ghazali. Ketika mondok di Tegal inilah Rusydi melaksanakan ibadah haji untuk pertama kali. Tepatnya pada tahun 1927.

Baca Juga :  Hukum Memanjangkan Kuku

Sekembali dari haji ia berganti nama menjadi Mahrus serta diikuti nama sang ayah dibelakang, Haji Mahrus Aly. Tidak hanya sampai di Tegal, rihlah ilmiahnya ia lanjutkan ke Rembang. Ia berguru kepada Kiai Kholil pengasuh Pesantren Kasingan. Keanehan tampak ketika Kiai Mahrus Aly baru beberapa hari di pesantren Kasingan, sebab para santri menganggap Haji Mahrus sebagai santri yang alim ‘allamah ilmu hadits. Entah dari mana asal-usul mereka punya anggapan demikian.

Selama mondok di Kasingan ini pula sang ibu tak henti-hentinya melakukan riyadhoh. Ia hanya berharap agar kelak Mahrus menjadi seorang yang alim ‘allamah. Berkat ketekunan, ketaatan pada sang guru dan riyadhoh sang ibu ia diberi futuh oleh Allah SWT. Ia dengan mudah memahami pelajaran. Meski terbilang santri baru, ia mendapat kepercayaan dari sang Kiai untuk mengajar. Beberapa kitab yang pernah ia ajarkan antara lain; Ibnu ‘Aqil, Luma’, Sudurudz Dzahab, Jam’ul Jawami’, Mughni Labib dan Taqrib. Ia mondok di Kasingan selama 5 tahun.

Tidak puas dengan mondok di Kasingan, Haji Mahrus melanjutkan ke Pesantren Lirboyo dibawah asuhan Kiai Abdul Karim. Karena sudah memiliki bekal ilmu yang cukup, di Lirboyo ia tinggal memperdalam dan tabarrukan saja. Di Lirboyo, Haji Mahrus tak pernah mengenal lelah dalam mengaji. Ketika waktu liburan tiba, ia kilatan ke Jombang mengaji kitab Sahih Bukhari kepada Kiai Hasyim Asy’ari, mengaji Ilmu manthiq kepada Kiai Dalhar Watucongol.

Serta beberpa pondok yang disinggahi Kiai Mahrus Aly, seperti; Pondok Langitan (Tuban), Pondok Senori (Tuban), Pondok Lasem (Rembang) dan Pondok Sarang (Rembang). Di Lirboyo inilah Kiai Mahrus Aly dijodohkan dengan salah satu putri Kiai Abdul Karim yang bernama Zainab. Akad nikah tersebut terjadi pada tahun 1938.

Baca Juga :  Bisakah Penghuni Surga dan Neraka Bercakap-cakap?

Berjuang untuk Indonesia

Kiai Mahrus Aly pernah menjadi anggota Kamikaze (tentara berani mati) ketika Jepang berkuasa. Tujuannya adalah untuk belajar ilmu militer dari Jepang. Ini dilakukan sebagai upaya melawan penjajah yang tak lain adalah Jepang sendiri. Di bawah pimpinan Kiai Mahrus dan Mayor Mahfudh, Jepang waktu itu bertekuk lutut (menyerah tanpa syarat) sebelum berjibaku dengan santri.

Pada 10 November, Kiai Mahrus Aly mengerahkan santrinya untuk membantu arek-arek Surabaya melawan sekutu. Waktu itu, 97 santri diberangkatkan di bawah komando langsung Kiai Mahrus.  Mereka tergabung dalam laskar Hizbullah dan Sabilillah. Pecah perang 10 November yang berakhir dengan terbunuhnya Jendral Inggris, A.W.S. Mallaby.

Ketika terjadi Agresi Militer II tanggal 12 Desember 1948, Kiai Mahrus kembali mengerahkan para santri ke medan perjuangan. Empat orang santri senior dikirim ke medan pertempuran. Mereka adalah Syafi’i Sulaiman, Muhid Ilyas, Muhammad Masykur dan Mahfudh AK. Mereka bergabung dengan Batalyon 508 di bawah komando Mayor Mahfudh. Perjuangan ini terus berlanjut sampai penyerahan kedaulatan Republik Indonesia (RI) sebagai hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) di Deen Hag yang terjadi pada tanggal 27 Desember 1949.

Kiai Mahrus Aly Berpulang ke Rahmatullah

Nyai Zainab, istri Kiai Mahrus, lebih dulu meninggalkannya. Sang istri wafat pada Senin, 11 Jumadil Akhir 1405 H / 4 Maret 1985. Semenjak sang istri berpulang inilah Kiai Mahrus sering jatuh sakit. Dua bulan kemudian, tepatnya pada hari Ahad malam Senin, 6 Romadhon 1405 H / 26 Mei 1985, dalam usia 78, sang Kiai sekaligus pejuang tersebut wafat. Teruntuk para Kiai dan pejuang negeri ini, khushushon Mbah Mahrus Aly, al-Fatihah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here