K.H. Ilyas Ruhiyat: Memimpin NU Bersama Gus Dur

0
129

BincangSyariah.Com – Tak ada tokoh sesepuh modern dari daerah Sunda yang memegang erat dunia pendidikan Islam dan santai dalam berorganiasi seunik K.H. Ilyas Ruhiyat. Dikenang sebagai salah satu tokoh penting di Nahdlatul Ulama khususnya wilayah Jawa Barat. Ada dua dimensi yang luar biasa dimilikinya yang saling melengkapi. Pertama, ia dianggap sebagai kyai kharismatik di Jawa Barat dengan kiprahnya di dunia pendidikan khususnya pesantren Cipasung. Kedua, ia kuat berorganisasi lewat Nahdlatul Ulama dan menjabat sebagai Rais Am PBNU. Ketiga, kedekatannya dengan Gus Dur dan terpilih Penasihat ICMI di Jawa Barat. Melalui dukungan sang ayah, Kyai Ruhiyat, ia tampil sebagai ajengan yang akademis dan berjiwa aktivis.

Jejak Langkah K.H. Ilyas Ruhiyat

Muhammad Ilyas Ruhiyat dilahirkan di Cipasung pada 12 Rabiul Awal 1352 atau bertepatan dengan 31 Januari 1934. Ayahnya adalah ulama besar di kabupaten Singaparna,Cipasung. Menelusuri jejak pendidikannya, Ruhiyat tak pernah nyantri di pesantren manapun selain dengan ayahnya sendiri. Kepada ayahnya, ia belajar beberapa kitab klasik seperti Jurumiyah, Alfiyyah, dan masih banyak lagi. Tak berhenti sampai disitu, ia pun mengambil kursus bahasa asing yaitu bahasa Arab dan bahasa Inggris. Pada umur 9 tahun, ia sudah menguasai kitab Jurumiyah dan pada usia 15 tahun sudah mampu menghafal dan menguasai kitab Alfiyyah Ibn Malik. Oleh karenanya, diusia 15 tahun ia telah dipercaya menggantikan ayahnya untuk mengajar di Cipasung.

Menurut Budi Sujati dalam bukunya Sejarah Perkembangan Nahdlatul Ulama di Jawa Barat, pada 17 November 1941, ayah kyai Ilyas, Kyai Ruhiyat pernah ditangkap dan ditahan bersamaan dengan KH.Zainal Mustafa di Sukamiskin oleh penjajah Belanda karena keduanya sama-sama menentang kekuasaan yang ditaruhkan Belanda di Jawa Barat. kemudian pada tanggal 10 Januari 1942, mereka pun dibebaskan. Saat ayahnya ditahan, Ilyas selalu menggantikan posisinya di Pesantren.

Baca Juga :  Ummi Abd Ibunda Abdullah bin Mas'ud; Sahabat Perempuan Mulia Awal Islam

Pada tahun 1980, Ilyas dibaiat oleh ayahnya untuk meneruskan kepemimpinan pesantren Cipasung. Secara formal, memang pondok ini bukanlah milik NU. Namun, pesantren ini tidak mungkin bisa dipisahkan dengannya.

Menurut Iip D.Yahya dalam bukunya Ajengan Cipasung: Biografi KH. Ilyas Ruhiyat menjelaskan bahwa Ilyas memiliki humor yang sangat tinggi. Salah satu contohnya humor tentang puasa. Suatu hari, ia bertanya kepada para santrinya, “jikalau ada pengantin baru, bagaimana mereka membatalkan puasanya? Tanpa dijawab, semua para santri tertawa. Menurut Iip, Ajengan Ilyas dengan cara humor, ia dapat lebih mudah menyampaikan makna-makna teks yang kadang sulit diterima oleh para santrinya. Ini sudah menjadi ciri khas para kyai teladan NU selalu menjadi pesan agama yang mampu diterima dan dicerna dengan baik oleh para santri maupun masyarakat.

K.H. Ilyas Ruhiyat di NU: dari Ketua IPNU sampai Rais Aam PBNU

Ilyas mulai berkiprah di NU sejak muda. Di usia 20 tahun. Ilyas menjabat sebagai ketua  organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Ia pun menghadiri kongres pertama IPNU di kota Malang 1954 sebagai ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) cabang Tasikmalaya. Di tahun 1985, beliau kemudian diangkat sebagai Rais Syuriah NU Jawa Barat pada tahun 1985.

Tahun 1992 menjadi tahun bersejarah bagi Kyai Ilyas Ruhiyat bahkan bagi jalannya sejarah NU sendiri. K.H. Ilyas Ruhiyat terpilih menjadi Pelaksana Rais Aam PBNU dalam sebuah Konferensi Besar yang diselenggarakan di Lampung pada tahun 1992, menggantikan K.H. Ahmad Shiddiq yang wafat. Menurut Iip, Kyai Ilyas menjadi satu-satunya orang Sunda yang pernah menjabat puncak kepemimpinan NU tersebut. Pasalnya, di masa-masa sebelumnya – dan juga di masa sekarang – Rais Aam selalu berasal dari wilayah Jawa Tengah atau Jawa Timur. Lalu pada tahun 1994, Ilyas terpilih menjadi Rais Aam periode 1994-1999 di muktamar NU yang diselenggarakan di pesantren Cipasung, Jawa Barat.

Baca Juga :  Syaikh Muhammad Siraj Garut: Pakar Qiraat Asal Garut yang Mengajar di Mekkah

Muktamar ini bisa dikatakan merupakan muktamar yang paling tajam menggambarkan friksi pemerintah dengan NU. Di Muktamar ini, Pemerintahan Orde Baru berupaya sekuat tenaga menggeser Gus Dur agar tidak lagi menjadi Ketua Umum PBNU, namun gagal.

Kyai Ilyas Ruhiyat pernah mengatakan, “hidup saya hanya untuk mengajar dan mengabdi di NU”. Menurut Iip, prinsip tersebut sungguh nyata dan telah ia buktikan dengan sepak terjangnya di NU.

Suatu ketika, Ilyas pernah ditawari untuk menjadi calon legislatif mewakili partai NU. Pada tahun 1971, ia pun sah menjadi calon legislatif nomor urut satu dari partai NU untuk DPRD tingkat 1. Peluang dan perjuangan yang telah ia dapatkan tidak sesuai harapan. Setelah berdiskusi dengan ayahnya, Ilyas tidak diizinkan untuk menjadi caleg. Posisinya pun dialihkan ke orang lain. ayahnya, Kyai Ruhiyat berkata “lebih baik kita mengurus pesantren saja.” Ilyas pun mundur dan mulai berkontribusi kembali di Cipasung.

Menjadi Penasihat ICMI

Menjadi sebuah peristiwa penting yang harus dicatat, Ilyas memiliki relasi yang baik dengan KH.Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia bekerjasama dengan Gus Dur untuk membangun ICMI di wilayah Jawa Barat. Saat itu, Ilyas terpilih sebagai Penasihat .

Pendirian ICMI di Jawa Barat pada awalnya menimbulkan pro-kontra di kalangan para kyai. Menurut Kyai Ilyas Ruhiyat, bagi para kyai di kalangan NU yang menolak ICMI itu merupakan pendapat pribadi pribadi dan bukan berarti merepresentasikan pendapat NU. Berdasarkan pengamatan Ilyas, pencapaian ICMI melalui ketokohan BJ Habibie belum begitu sempurna.

ICMI belum mampu menyentuh masyarakat tingkat bawah, dan lebih banyak mengayomi masyarakat menengah ke atas. Meskipun begitu, Ilyas tetap mempertahankan sikapnya yang santun dan ramah dimanapun dan kapanpun. Pembelajaran kitab kuning atau klasik telah membekalinya untuk menjadi pribadi yang kuat dan tetap luwes dalam berorganisasi.

Baca Juga :  Percaya terhadap Takdir Bukti Kesempurnaan Iman
Nasihat K.H. Ilyas Ruhiyat

Menurut hasil wawancara Iip dengan kolega Cipasung, inilah tiga nasihat yang selalu disampaikan  Ilyas kepada para santrinya.

“Manusia itu ada tiga macam. Pertama, orang yang punya ilmu dan suka bermusyawarah, ini adalah orang yang paling utama atau fadhil. Kedua, orang yang tidak punya ilmu tetapi suka bermusyawarah, inilah yang disebut dengan Aqil. Dan ketiga, orang yang memiliki ilmu namun tidak suka bermusyawarah, ini dinamakan sebagai orang yang Ghafil. Sementara, orang yang tidak memiliki ilmu dan tidak ingin bermusyawarah, maka ia bukanlah manusia, ia adalah hewan,”

Wallohu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here